Dampak Perang Iran, Harga Solar di AS Tembus Rekor Tertinggi

Harga solar di AS mencapai rekor US$6/galon imbas perang di Iran dan Ukraina. Data AAA dan analis memaparkan dampaknya ke ekonomi. Simak penjelasannya.

Agustina Melani
Oleh Agustina Melani - Reporter
Dampak Perang Iran, Harga Solar di AS Tembus Rekor Tertinggi
Saat ini, di Inggris, harga bensin kini menembus level di atas 1,5 paun per liter, atau sekitar 7,25 dolar AS per galon. Sementara, harga solar (diesel) melonjak hingga 1,77 paun per liter, atau sekitar 8,54 dolar AS per galon. Tampak dalam foto, pompa-pompa yang tidak digunakan untuk berbagai jenis bahan bakar terlihat di sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di jalan A3, sebelah utara Guildford di Inggris selatan pada 29 Maret 2026. (JUSTIN TALLIS/AFP)

Harga solar di Amerika Serikat (AS) menembus US$ 6 per galon pada Jumat (11/9/2026), untuk pertama kalinya dalam sejarah. Lonjakan harga solar ini terjadi seiring gangguan pasokan bahan bakar akibat perang di Ukraina dan Iran yang mendorong biaya transportasi di berbagai sektor ekonomi.

Mengutip CNBC, berdasarkan data AAA, pengemudi truk dan petani kini harus membayar sekitar 63% lebih mahal dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Rata-rata harga nasional tercatat US$ 6,0556 per galon.

Di California, negara bagian dengan sektor pertanian terbesar di AS, harga bahkan lebih tinggi hingga mencapai US$ 7,9827 per galon. Kenaikan ini sejalan dengan lonjakan harga minyak mentah AS yang sempat melampaui US$ 100 per barel pada Kamis untuk pertama kalinya sejak Mei, dan telah naik sekitar 20% sepanjang September.

Presiden Rapidan Energy, Bob McNally, menilai peran solar kerap luput dari perhatian publik. "Solar merupakan tulang punggung ekonomi yang sesungguhnya, meskipun konsumen cenderung lebih memperhatikan harga bensin eceran," ujar McNally dalam wawancara dengan program "The Exchange" di CNBC pada Selasa.

Kenaikan harga solar pada akhirnya dibebankan kepada konsumen melalui harga pangan, barang konsumsi, dan energi. Solar menjadi bahan bakar bagi truk, kereta api, dan kapal yang mengangkut barang ke pasar. Solar juga menggerakkan mesin-mesin untuk menanam dan memanen hasil bumi, serta digunakan untuk pemanas ruangan dan pembangkit listrik di sejumlah wilayah.

"Ini adalah jenis bahan bakar yang dampaknya lebih tersembunyi, lebih mahal, dan lebih besar," kata McNally. "Saat harga terus merangkak naik, hal ini menjadi kekhawatiran nyata," ia menambahkan.

Harga Solar Mahal Dianggap 'Pembunuh Senyap' Ekonomi

Kepala Analisis Perminyakan di GasBuddy, Patrick De Haan, menyebut level harga saat ini berpotensi menjadi "pembunuh senyap" bagi perekonomian. Ia menyampaikannya dalam program "Power Lunch" di CNBC pada Selasa.

De Haan menuturkan, harga bensin belum pernah setinggi ini pada periode akhir tahun seperti sekarang. Di SPBU, harga bensin sempat mencetak rekor saat libur Hari Buruh (Labor Day) di US$ 4,15 per galon pada awal pekan ini. Warga AS kini menghabiskan sekitar US$ 700 juta lebih banyak per hari untuk bensin dan solar dibandingkan setahun lalu.

"Hal ini membuat konsumen terkejut melihat lonjakan harganya," kata De Haan.

Kenaikan biaya bahan bakar dipicu gangguan pasokan global akibat konflik. Kyiv menggempur kilang-kilang minyak Rusia, yang mendorong Moskow melarang ekspor solar. Di Timur Tengah, Iran dan sekutu Houthi di Yaman menyerang kilang-kilang milik sekutu AS di kawasan Teluk. Ekspor bahan bakar melalui Selat Hormuz juga terhambat menyusul serangan Iran terhadap kapal-kapal tanker.

Lonjakan Solar Uji Kapasitas Kilang AS di Era Trump

Chief Operating Officer Valero, Gary Simmons, menyampaikan bahwa konflik di Eropa Timur dan Timur Tengah telah menghentikan operasi kilang dengan kapasitas sekitar 5 juta barel per hari. Pernyataan ini disampaikan dalam panggilan pembahasan kinerja pada 30 Juli.

Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, menambahkan, dunia telah kehilangan hampir 8% pasokan solar dan hanya ada sedikit kapasitas penyulingan cadangan untuk menutupi kekurangan tersebut.

Kepala Riset Komoditas RBC Capital Markets, Helima Croft, menilai kenaikan harga solar menjadi "tantangan besar" bagi pemerintahan Trump. "Kilang-kilang minyak AS beroperasi pada tingkat utilisasi 98%, praktis tidak ada kapasitas cadangan yang tersisa," kata Croft pada 4 September 2026.

Rekomendasi