IMF menyoroti lonjakan utang pemerintah dunia yang kini mendekati 100% dari PDB global. Posisi tersebut disebut sebagai level tertinggi sejak Perang Dunia II dan menjadi salah satu risiko utama dalam melihat prospek ekonomi dunia.
Pernyataan itu disampaikan Direktur Departemen Komunikasi IMF, Julie Kozack, dalam konferensi pers lembaga tersebut. Ia menegaskan skala utang saat ini berada pada titik historis.
"Utang publik kini hampir mencapai 100 persen dari PDB. Ini merupakan utang publik global, dan level tersebut merupakan yang tertinggi sejak Perang Dunia II," ujar Kozack dalam konferensi pers IMF, dikutip Jumat (11/9/2026).
Menurut Kozack, tekanan belum mereda. Utang publik global diperkirakan masih akan meningkat, sementara di banyak negara maju, rasio utang terhadap PDB sudah tinggi. Hal ini menambah kerentanan ketika ketidakpastian ekonomi global masih berlanjut.
Di sisi lain, biaya pembiayaan pemerintah kian tertekan oleh kenaikan imbal hasil obligasi di sejumlah negara maju. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara penerbit, tetapi juga dapat merembet ke negara berkembang dan berpendapatan rendah melalui biaya utang yang lebih mahal.
Advertisement
IMF: Biaya Utang Kian Mahal
Kozack menjelaskan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi acuan di negara maju berpotensi mendorong biaya pembiayaan meningkat di berbagai yurisdiksi, termasuk pasar berkembang.
Ia mencatat banyak negara berkembang dalam beberapa dekade terakhir telah memperkuat kerangka kebijakan ekonominya. Perbaikan tersebut membantu menekan selisih imbal hasil atau spread surat utang mereka terhadap acuan global.
Namun, tren penurunan spread itu kini berhadapan dengan kenaikan imbal hasil acuan negara maju sehingga biaya akhir pembiayaan tetap terdorong naik.
"Spread tersebut kini berada di atas imbal hasil acuan yang lebih tinggi," kata Kozack.
Artinya, sekalipun fundamental dan kebijakan fiskal-moneter telah membaik di sejumlah negara, beban bunga tetap bisa meningkat ketika benchmark global bergerak naik. Kondisi ini menuntut pembuat kebijakan tetap lincah merespons dinamika pasar, sembari menjaga kredibilitas.
IMF menekankan pentingnya konsolidasi fiskal yang dirancang dengan hati-hati. Untuk kebijakan fiskal, lembaga tersebut mendorong pemerintah menyusun rencana konsolidasi fiskal jangka menengah yang kredibel agar defisit dan utang dapat terkendali secara bertahap.
Penurunan defisit serta rasio utang, menurut IMF, tidak harus dilakukan secara mendadak. Namun, pemerintah perlu memiliki strategi yang jelas, transparan, dan dapat diandalkan untuk memastikan keberlanjutan fiskal di tengah kenaikan biaya pendanaan.