Pernah merasa cemas dan selalu merasa kekurangan uang padahal saldo di rekening sebenarnya lebih dari cukup? Atau justru sebaliknya, tetap asyik berbelanja impusif meski tumpukan utang sudah membengkak?
Jika pernah berada di posisi tersebut, bisa jadi Anda sedang mengalami fenomena psikologis yang dikenal dengan istilah money dysmorphia. Kategori ini menggambarkan kondisi ketika persepsi seseorang terhadap uang bertolak belakang dengan realita finansial yang sebenarnya.
Meskipun bukan diagnosis klinis resmi, fenomena ini marak melanda masyarakat modern. Akar penyebabnya beragam, mulai dari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, trauma finansial masa lalu, stres, gaya hidup super hemat yang ekstrem, hingga perilaku belanja berlebihan.
Pakar kesehatan finansial dari eMoney Advisor, Dr. Emily Koochel, menjelaskan bahwa persepsi yang keliru tentang uang ini umumnya terbentuk dari pola asuh keluarga, latar belakang budaya, serta pengalaman finansial masa lalu. Namun, pemicu utamanya di era modern saat ini adalah paparan media sosial.
"Penelitian menunjukkan bahwa sering melihat dan membandingkan gaya hidup mewah orang lain di media sosial dapat menurunkan rasa percaya diri. Padahal, tampilan liburan atau barang mewah yang dipamerkan itu sejatinya sudah dikurasi," ujar Dr. Koochel dikutip dari Investopedia, Jumat (11/9).
Advertisement
Gaya Hidup Media Sosial
Pendiri Sound Financial Therapy, Kate Dorman, menambahkan bahwa gaya hidup yang diumbar di media sosial kerap kali jauh dari realita. Dampak emosional paling dominan yang dirasakan penderita money dysmorphia bukanlah sekadar stres biasa, melainkan timbulnya rasa malu tanpa memandang latar belakang suku, gender, maupun status sosial.
Tanda-Tanda Mengalami Money Dysmorphia
- Selalu Merasa Kurang: Tetap merasa uangnya habis meski berpenghasilan tinggi.
- Gengsi Belanja: Gemar berbelanja berlebihan demi pengakuan orang lain.
- Penghindaran Realita: Takut atau enggan mengecek saldo rekening dan anggaran harian.
- Menimbun Uang: Takut berinvestasi atau menggunakan uang karena rasa cemas berlebih, padahal dana yang dimiliki mencukupi.
Advertisement
Langkah Memperbaiki Pola Pikir
Para ahli menegaskan bahwa distorsi persepsi ini dapat dipulihkan secara bertahap melalui langkah nyata:
- Audit Finansial: Catat seluruh pendapatan, pengeluaran, utang, dan tabungan secara jujur serta realistis.
- Filter Media Sosial: Berhenti mengikuti (unfollow) akun atau influencer yang memicu rasa minder dan dorongan belanja impulsif.
- Analisis Kebutuhan vs Keinginan: Evaluasi ulang setiap rencana transaksi untuk memastikan skala prioritasnya.
- Buat Standar Pribadi: Susun target dan kriteria pencapaian finansial berdasarkan nilai hidup diri sendiri, bukan standar orang lain.
- Konsultasi Profesional: Temui terapis atau ahli jika rasa cemas dan malu terkait keuangan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Reporter Magang: Hanan Mahira Amani