Beli baju baru bukan lagi satu-satunya cara bagi anak muda untuk memoles penampilan. Di tengah kebutuhan yang harus disesuaikan dengan isi dompet, pakaian bekas atau thrift mulai menjadi salah satu pilihan bagi sebagian Gen Z.
Harga yang lebih terjangkau menjadi daya tarik utama. Selain itu, baju thrift menawarkan model yang tidak selalu mudah ditemukan di toko pakaian biasa. Bagi anak muda yang ingin tetap mengikuti tren tanpa mengeluarkan banyak uang, berburu pakaian bekas bisa menjadi jalan tengah.
Fenomena tersebut juga terjadi di berbagai negara. Business Insider dalam artikelnya pada Januari 2026 menyebut belanja barang secondhand semakin menjadi pilihan konsumen, terutama Gen Z. Tren tersebut bahkan disebut ikut mengubah industri fashion.
Mengutip laporan The Business of Fashion dan McKinsey, Business Insider menyebut pasar fashion dan barang mewah secondhand diproyeksikan tumbuh dua hingga tiga kali lebih cepat dibandingkan pasar barang baru hingga 2027. Sementara itu, penjualan kembali secara daring atau online resale diperkirakan tumbuh 16 persen setiap tahun dalam dua tahun ke depan.
Advertisement
Beli Baju Sesuai Kebutuhan
Bagi Hani, 23 tahun, keputusan membeli baju thrift tidak selalu berkaitan dengan mengikuti tren. Ada kalanya pakaian bekas menjadi pilihan ketika ia membutuhkan baju untuk keperluan tertentu dengan waktu pemakaian yang tidak terlalu lama.
"Biasanya karena kebutuhan acara yang mendadak dan jangka waktu pemakaiannya engga lama, misalnya waktu magang diharuskan pake rok panjang hitam, atau ingin beli baju tapi budget pas pasan, buat cewek yang sering gonta ganti baju menurut ku thrifting terjangkau, karena harganya murah, dan dipakai beberapa kali aja buat gonta ganti ootd, jadi kadang aku lebih milih ngethrift si daripada beli baru," ujar Hani.
Kondisi tersebut membuat thrifting terasa lebih masuk akal ketika kebutuhan pakaian datang secara tiba-tiba. Dengan harga yang relatif murah, Hani tetap bisa memenuhi kebutuhan sekaligus memiliki pilihan untuk berganti gaya.
Advertisement
Harga Miring Jadi Pertimbangan
Pertimbangan soal harga juga dirasakan Fissa, 21 tahun. Bagi dirinya, thrifting menjadi pilihan yang cukup ramah bagi anak kos yang ingin tetap tampil fashionable tanpa menghabiskan banyak uang.
"Aku beli thrifting itu beda-beda Store, alasannya aku beli baju second (thrift) karena murah, baju nya unik, dan untuk ukuran anak kos yang mau fashionable harganya jadi miring," kata Fissa.
Fissa bahkan membandingkan harga pakaian baru dengan pakaian thrift. Menurutnya, uang Rp100 ribu yang digunakan membeli baju baru belum tentu memberikan pilihan sebanyak ketika uang tersebut dibelanjakan untuk pakaian bekas.
"semisal di toko kemeja baru harganya 100k dapat 1 kemeja saja, di thrift dengan Rp100 ribu bisa dapet 3 kemeja," ujarnya.
Kondisi tersebut membuat thrifting menjadi alternatif ketika ingin membeli pakaian tetapi anggaran sedang terbatas. Bagi Fissa, harga murah menjadi faktor utama sebelum pertimbangan lainnya.
"Terlepas dari fashion, faktor utama adalah 'murah'," kata Fissa.
Advertisement
Murah, tapi Nyentrik
Harga bukan satu-satunya alasan Gen Z melirik pakaian bekas. Model yang nyentrik dan tidak pasaran juga menjadi daya tarik tersendiri.
Nabila, 22 tahun, mengatakan dirinya lebih memilih pakaian thrift dari brand luar yang masih dalam kondisi bagus dan layak digunakan. Harga yang lebih murah menjadi pertimbangan, tetapi model pakaian yang berbeda dari pasaran juga membuatnya tertarik.
"Aku milih thrift tapi dari brand luar yang masih bagus dan layak pakai terus juga harganya lebih murah biasanya. Modelnya juga ga pasaran, selain itu aku belinya di online store yang lebih murah aja," ucap Nabila.
Hal serupa dirasakan Fissa. Menurutnya, pakaian thrift justru sering menawarkan model yang lebih nyentrik dan sulit ditemukan di toko pakaian baru. Tren gaya seperti "skena" dan "kalcer" menurutnya ikut membuat pakaian dengan model unik semakin diminati.
"Nah outfit kalcer skena itu memang yang nyentrik yang unik dan kadang memang ditemui dibaju - baju thrift," ujarnya.
Tidak hanya kemeja atau celana, Fissa juga menemukan berbagai barang lain seperti topi, sepatu hingga jam tangan. Nuansa vintage yang melekat pada barang-barang tersebut menjadi daya tarik tambahan.
"Dan bahkan ada jam tangan. Semacam loak, jadi lebih vintage saja," kata Fissa.
Advertisement
Kebiasaan Belanja Mulai Berubah
Meningkatnya minat terhadap pakaian secondhand juga menjadi bagian dari perubahan cara konsumen muda memandang pakaian. Baju tidak selalu harus baru untuk dianggap menarik, selama masih layak digunakan, sesuai kebutuhan dan memiliki harga yang masuk akal.
Pada artikel AP News, perubahan kebiasaan konsumen muda juga disebut mulai memengaruhi industri fashion. AP News melaporkan sejumlah pelaku industri mulai menawarkan layanan perbaikan pakaian dan kegiatan menjahit untuk menarik konsumen muda yang ingin menghemat pengeluaran sekaligus memperpanjang usia pakaian.
AP News juga mencatat Gen Z memiliki ketertarikan pada pakaian secondhand tidak hanya karena persoalan lingkungan, tetapi juga karena ingin menghemat pengeluaran. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pilihan konsumsi anak muda semakin beragam, termasuk dengan memanfaatkan pasar barang bekas.
Meski begitu, tren thrifting tidak berarti seluruh Gen Z berhenti membeli pakaian baru. Pilihan setiap orang tetap dipengaruhi kebutuhan, kondisi keuangan hingga selera berpakaian.
Bagi Hani, Nabila dan Fissa, pakaian thrift menawarkan kombinasi yang sulit diabaikan seperti harga lebih terjangkau dan pilihan model yang lebih beragam. Pada akhirnya, berburu pakaian bekas bukan sekadar soal membeli baju murah, tetapi menjadi salah satu cara bagi anak muda untuk tetap bergaya tanpa membuat dompet ikut merana.