Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan lonjakan harga energi yang dipicu perang dengan Iran kemungkinan baru mereda setelah pemilu tengah waktu (midterm election) yang digelar sekitar dua bulan lagi. Pernyataan tersebut disampaikan saat ia ditanya cara pemerintah menjelaskan kenaikan harga minyak kepada publik.
"Segera setelah pemilu, harga minyak akan anjlok," kata Trump kepada wartawan di Joint Base Andrews sebelum bertolak ke Texas untuk menghadiri konvensi Partai Republik, dikutip dari CNBC, Kamis (10/9/2026).
Pada Rabu, minyak mentah Brent diperdagangkan di atas US$ 101 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) sempat menembus US$ 96 per barel.
Trump menyebut kenaikan harga tersebut mudah dijelaskan kepada warga AS karena terkait ancaman nuklir Iran. "Saya pikir sangat mudah menjelaskannya kepada Amerika. Yang harus Anda katakan adalah, 'Apakah Anda akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir?' Dan jawabannya adalah tidak," kata Trump.
Ia juga menyebut perang dengan Iran yang memasuki bulan ketujuh akan berakhir "segera setelah pemilu."
Advertisement
Trump: Iran Tak Akan Bertahan Lama
Menjawab alasan di balik prediksinya, Trump mengklaim Iran tidak akan mampu bertahan lama dan menuding Teheran ingin memengaruhi hasil pemilu AS. "Mereka sangat ingin mencoba memengaruhi pemilu, sehingga kita mendapatkan kelompok orang yang cukup lemah di sana, lalu membiarkan mereka dan membiarkan mereka memiliki senjata nuklir," ujar Trump.
Pernyataan tersebut menjadi pengakuan langka dari Trump bahwa perang Iran dan dampaknya terhadap harga energi kemungkinan tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Konflik yang berlarut juga menjadi tantangan bagi Trump dan Partai Republik menjelang pemilu, ketika inflasi dan biaya hidup menjadi perhatian utama pemilih.
Sebelumnya, Trump berulang kali menyebut kesepakatan damai dengan Teheran hampir tercapai, namun hingga kini belum terwujud. Belakangan, ia lebih menekankan upaya melemahkan kemampuan militer Iran serta memberi tekanan pada perekonomiannya.
Militer AS pada Selasa menyatakan pasukannya telah menghancurkan 10 kapal tanker Iran dalam sepekan terakhir. Di sisi lain, Iran melalui Garda Revolusi mengklaim telah menghancurkan sebuah kapal tanker minyak di Teluk Persia.
"Saya akan mengatakan bahwa serangan-serangan tersebut disebabkan oleh kami," kata Trump. Dia menambahkan, "Anda akan melihat lebih banyak lagi."
Advertisement
Prediksi Harga Bensin di Bawah US$ 2 per Galon
Trump juga memperkirakan harga bensin di AS—yang saat ini di level rekor—akan turun hingga di bawah US$ 2 per galon, namun ia menilai penurunan itu baru terjadi setelah pemilu tengah waktu pada awal November. "Saya pikir itu akan membutuhkan waktu sedikit lebih lama dari pemilu tengah waktu," kata Trump.
Pernyataan ini berbeda dari jaminannya sebelumnya di Truth Social, ketika ia menulis harga minyak "akan turun drastis" setelah AS memenangkan perang. "Semua itu akan terjadi dengan cepat," tulis Trump.
Keraguan disampaikan analis bahan bakar Patrick De Haan dari GasBuddy. "Saya sama sekali tidak melihat adanya jaminan bahwa hal itu akan terjadi," kata De Haan melalui X.
Perkembangan harga energi menjadi sorotan karena kenaikan minyak berpotensi menambah tekanan inflasi dan memengaruhi daya beli masyarakat. Kondisi ini sekaligus menjadi tantangan politik bagi pemerintahan Trump menjelang pemilu.
Dengan perang Iran yang masih berlangsung dan harga minyak bertahan tinggi, kepastian kapan harga energi akan kembali turun tetap menjadi tanda tanya.