Pangkas Emisi Hingga 38 Persen, SIG Sulap Sampah Jadi Bahan Bakar Pabrik

Manfaatkan sampah perkotaan jadi bahan bakar alternatif, SIG sukses ciptakan semen ramah lingkungan.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Pangkas Emisi Hingga 38 Persen, SIG Sulap Sampah Jadi Bahan Bakar Pabrik
Hari Ozon Sedunia yang diperingati setiap tanggal 16 September menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya peran lapisan ozon sebagai pelindung bumi dari bahaya radiasi ultraviolet (UV) matahari, terutama UV-B. (Dok. Semen Indonesia)

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) menegaskan bahwa penggunaan bahan bangunan rendah emisi merupakan fondasi utama dalam mempercepat terwujudnya konstruksi berkelanjutan di Indonesia.

Direktur Operasi SIG, Reni Wulandari menyampaikan bahwa penerapan bangunan hijau tidak bisa sekadar bergantung pada standar atau kerangka penilaian di atas kertas, melainkan harus dibuktikan langsung mulai dari pemilihan material hingga proses pembangunan di lapangan.

"Transisi menuju konstruksi rendah emisi membutuhkan kolaborasi seluruh rantai nilai, sekaligus ketersediaan solusi bahan bangunan untuk berbagai kebutuhan proyek," ujar Reni dikutip dari Antara, Kamis (10/9).

Menurut Reni, menekan emisi di sektor konstruksi mensyaratkan proses produksi material yang efisien serta pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.

Guna menekan dampak lingkungan, SIG telah menerapkan prinsip ekonomi sirkular dalam rantai produksinya. Perusahaan memanfaatkan bahan bakar alternatif berbasis limbah, seperti sampah perkotaan yang diolah menjadi refuse-derived fuel (RDF), limbah industri, hingga biomassa.

Langkah ini berhasil mengerek tingkat substitusi termal (thermal substitution rate/TSR) di pabrik-pabrik SIG hingga menyentuh angka 25 persen. Angka tersebut mencerminkan porsi energi panas dalam proses produksi yang sukses digantikan oleh bahan bakar alternatif.

Tak berhenti di situ, SIG juga memanfaatkan Energi Baru Terbarukan (EBT) melalui pemasangan panel surya di area operasional, serta mengoptimalkan gas panas buang lewat teknologi Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG).

Proses produksi pun kian efisien berkat digitalisasi pabrik berbasis sistem pengoptimal (plant optimizer system) yang telah diterapkan di beberapa fasilitas dan bakal diperluas ke pabrik lainnya.

Reni menegaskan bahwa seluruh langkah ini bermuara pada satu tujuan: menghadirkan bahan bangunan beremisi rendah tanpa mengorbankan kualitas produk.

Produk Ramah Lingkungan dengan TKDN Tinggi

Pangkas Emisi Hingga 38 Persen, SIG Sulap Sampah Jadi Bahan Bakar Pabrik
Pangkas Emisi Hingga 38 Persen, SIG Sulap Sampah Jadi Bahan Bakar Pabrik

Berkat inovasi tersebut, produk semen rendah emisi buatan SIG tercatat mampu menekan intensitas emisi hingga 38 persen lebih rendah dibanding semen konvensional. Produk-produk ini pun telah mengantongi sertifikasi Green Label.

Selain semen, SIG terus merancang variasi produk beton serta bahan bangunan turunan yang mengedepankan efisiensi material dan keberlanjutan. Seluruh produk dipastikan telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) melampaui 90 persen. 

Bagi Reni, penerapan prinsip ramah lingkungan menjadi makin mendesak seiring masifnya pembangunan infrastruktur dan gedung di tanah air.

Guna memperluas pemahaman publik dan pelaku industri mengenai bangunan hijau, SIG menggandeng Green Building Council Indonesia (GBCI) menggelar Indonesia Green Building Festival 2026. 

Rangkaian ajang edukasi ini dijadwalkan menyapa lima kota besar, yakni Bandung (9 September), Yogyakarta (14 September), Makassar (24 September), Denpasar (26 September), dan berakhir di Surabaya pada 29 September 2026. Ajang ini diharapkan mampu mendorong para pelaku industri untuk beralih ke bahan bangunan dan metode konstruksi yang lebih ramah lingkungan.

Rekomendasi