Gempa berkekuatan Magnitudo 5,9 mengguncang wilayah Kepulauan Seribu pada Sabtu (12/9/2026).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan peristiwa ini tidak berpotensi tsunami.
Berdasarkan analisis lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, BMKG mengklasifikasikan gempa ini sebagai gempa dalam yang dipicu aktivitas intraslab. Episenternya berada di bawah Laut Jawa, di utara Jakarta.
"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan geser turun (oblique normal)," kata Wijayanto dalam keterangannya.
Dalam kesempatan berbeda, pakar edukasi mitigasi bencana yang juga anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan karakter gempa intraslab dan sumber pemicunya. Ia menyebut patahan terjadi pada slab Lempeng Samudra Australia yang telah menunjam jauh di bawah Laut Jawa.
"Gempa ini bukan dipicu oleh aktivitas sesar aktif di dangkal, melainkan akibat patahnya batuan pada slab Lempeng Samudra Australia yang telah menunjam jauh ke bawah Laut Jawa hingga kedalaman 358 km. Proses deformasi batuan di dalam lempeng tersubduksi ini dikategorikan sebagai peristiwa intraslab," jelas dia.
Menurut Daryono, meski pusat gempa berada di utara Jakarta, getaran justru terasa lebih awal dan lebih kuat di Jawa bagian selatan, seperti Sukabumi. "Hal ini terjadi karena gelombang seismik merambat paling efisien melalui medium slab lempeng yang padat dan homogen menuju arah selatan sebelum menyebar ke permukaan," tutur dia.
Advertisement
Mengapa Getarannya Menjangkau Area Luas
Daryono menuturkan, kedalaman hiposenter yang melebihi 300 km (deep focus) menyebabkan spektrum attenuasi gelombang melemah secara bertahap tetapi menjangkau area geografis yang sangat luas (dari Sumatra hingga Jawa Bagian Timur dan Kalimantan).
"Meskipun wilayah jangkauan getaran sangat lebar, energi di permukaan sudah terdisipasi sehingga tidak berpotensi menimbulkan kerusakan struktural," kata dia.