Siswa Pingsan Usai Makan MBG, Satgas Langsung Minta Evaluasi

Ratusan siswa di Lombok Tengah diduga keracunan MBG. Orang tua mengungkap gejala hingga pingsan. Satgas MBG NTB instruksikan evaluasi.

Muhamad Agil Aliansyah
Oleh Muhamad Agil Aliansyah - Reporter
Siswa Pingsan Usai Makan MBG, Satgas Langsung Minta Evaluasi
Siswa dilarikan ke rumah sakit di lombok tengah usai santap MBG. (tangkapan layar video).

Ratusan siswa di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, diduga mengalami keracunan MBG usai menyantap paket makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah. Seorang orang tua mengungkap anaknya sempat tidak sadarkan diri setelah makan.

Inak Yana, orang tua salah satu siswa, menyebut anaknya mengeluhkan sakit perut, sesak napas, dan sakit kepala. "Perut sama sesak napas sama kepalanya sakit," ujar Inak Yana sebagaimana dikutip dari Liputan6 SCTV, Jumat (11/9/2026).

Ia mengatakan kondisi itu muncul setelah sang anak menyantap menu MBG yang dibagikan di sekolah, lalu dibawa untuk mendapatkan penanganan. "Dibawa dari sekolah, dia pingsan setelah makan itu MBG-nya," kata dia.

Adapun menu yang disantap terdiri dari kebab, daging ayam sebagai lauk, sayuran, dan buah salak.

Menurut Inak Yana, kondisi anaknya kini mulai membaik. "Agak baikan sekarang, tapi tadinya pingsan tiga kali," ujar dia.

Satgas MBG NTB Instruksikan Evaluasi Usai Dugaan Keracunan MBG

Ketua Satgas MBG NTB, Fathul Gani, meminta seluruh pihak yang terlibat dalam penyediaan makanan MBG melakukan evaluasi menyeluruh menyusul kejadian ini.

Ia menugaskan satgas di Lombok Tengah, koordinator wilayah, koordinator cabang, SPPI, hingga mitra yayasan untuk melakukan introspeksi dan memastikan layanan diberikan dengan standar terbaik. "Harapan kita, saya langsung instruksikan kepada seluruh satgas, terutama satgas yang ada di Lombok Tengah, kemudian korwil, korcang, SPPI, mitra yayasan untuk menjadi bahan evaluasi. Introspeksilah dengan situasi kondisi saat ini. Maka mari kita berikan layanan yang terbaik," kata Fathul.

Fathul juga menekankan agar penyedia lebih selektif memilih bahan makanan, terutama menghindari bahan yang cepat basi karena waktu konsumsi siswa berbeda-beda. "Pilihlah bahan makanan yang tidak berpotensi cepat basi. Itu cepat basi. Karena bagaimanapun siswa-siswa ini ada yang langsung makan, ada yang menunda dan sebagainya. Jadi tidak sama," ujar dia.

Ia menyebut terdapat siswa yang terlambat menyantap makanan berdasarkan penjelasan di lapangan, namun hal itu tidak boleh dijadikan alasan mengabaikan keamanan pangan. "Kalau menurut penjelasan di lapangan tadi terlambat makan, menyantap. Tapi itu bukan menjadi alasan sebenarnya," tegas dia.

Fathul meminta semua pihak memastikan bahan yang diolah benar-benar aman dan melibatkan ahli gizi untuk menjamin kualitas. "Yang terpenting semua pihak harus mengevaluasi diri dengan memastikan bahan-bahan makanan yang diolah itu benar-benar sehat. Kan ada ahli gizi juga," jelasnya.

Ia juga menegaskan tanggung jawab kepala dapur dalam setiap tahapan, mulai dari pemilihan bahan, proses pengolahan, hingga distribusi. "Yang terpenting kepala dapur betul-betul menjadi kepala rumah tangga di SPBG itu yang bertanggung jawab penuh terhadap siklus dari proses memilih dan memilah bahan, lalu bagaimana prosesnya, lalu bagaimana mendistribusikan," pungkasnya.

Rekomendasi