Rendahnya literasi keuangan ternyata tidak hanya berdampak pada kerugian materi, tetapi juga menyita waktu berharga. Studi terbaru dari TIAA Institute mengungkapkan bahwa warga dewasa di Amerika Serikat (AS) dengan tingkat pemahaman finansial terendah harus menghabiskan rata-rata 13 jam per minggu untuk memikirkan dan mengurusi masalah keuangan mereka.
Angka ini berbanding terbalik dengan mereka yang memiliki literasi keuangan tinggi, yang hanya menghabiskan waktu sekitar 4 jam seminggu. Selisih 9 jam tersebut hampir setara dengan satu hari kerja penuh yang hilang setiap minggunya.
Akar Masalah
Para ahli menilai fenomena 'rugi waktu' ini dipicu oleh dua faktor utama. Yang pertama yaitu, faktor kelangkaan (scarcity). Direktur Keuangan Pribadi di Morningstar, Christine Benz menyebut ada korelasi kuat antara literasi rendah dan ketidakamanan finansial. Waktu mereka habis karena harus memutar otak demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti memindahkan dana, menghadapi penagih utang, dan menyortir tagihan.
Yang kedua, kecemasan akibat urusan yang menggantung (open loops). Doug Boneparth, pendiri Bone Fide Wealth, menjelaskan bahwa stres terbesar bukan datang dari rumitnya teori keuangan, melainkan dari banyaknya tugas finansial yang tidak diotomatisasi dan keputusan yang terus ditunda.
"Ini bukan sekadar soal tahu lebih banyak informasi, melainkan bagaimana menyelesaikan urusan-urusan finansial yang menggantung tersebut," ujar Boneparth.
Berikut adalah cara yang disarankan oleh Boneparth dan para ahli keuangan lainnya untuk mengatasi hal tersebut, melansir dari laman CNBC, Kamis (9/7).
Advertisement
Para ahli keuangan merekomendasikan untuk membuat dana darurat terlebih dahulu yang cukup untuk biaya hidup selama tiga sampai enam bulan. Menurut Benz, ini bisa jadi sulit, terutama jika mempunyai prioritas keuangan yang lain.
Jika ada kekhawatiran keuangan secara terus menerus, penyisihan uang untuk dana darurat ini harus menjadi tugas nomor satu.
"Membangun bantalan darurat dan menempatkannya di atas tujuan keuangan lainnya benar-benar memberikan manfaat besar bagi ketenangan pikiran. Selain itu, hal ini kemungkinan besar menghemat waktu yang biasanya habis untuk memutar otak dan memindahkan uang," ujar Benz.
Secara sederhana, memiliki dana darurat dapat menghilangkan kecemasan jika ada suatu hal terjadi. Misal, ban bocor atau biaya berobat ke dokter, karena tidak akan cemas kekurangan uang untuk membayar sewa rumah atau jatuh tempo kartu kredit.
Advertisement
Cara termudah agar tidak menghabiskan banyak waktu adalah dengan mengotomatiskan perputaran uang. Menurut Benz, ini bisa dimulai dari mengatur transfer otomatis ke dana darurat dan semua tagihan, langganan, atau cicilan yang ada, tanpa harus melihat keluar-masuk uang dari rekening.
"Jika Anda tidak pernah melihatnya, Anda tidak perlu pusing mengambil keputusan," kata Boneparth.
"Semuanya sudah berjalan sendiri."
Untuk mengelola keuangan, Boneparth merekomendasikan penggunaan aplikasi atau layanan yang dapat menghubungkan berbagai lembaga keuangan, agar dapat menampilkan pengeluaran, tabungan, investasi, dan hutang dalam satu layar.
Advertisement
"Edukasi keuangan telah berkembang, dan sumber daya yang berkualitas kini sangat mudah diakses," kata Surya Kolluri dari TIAA Institute.
Dan jika ingin menguasai keuangan dengan lebih baik, jangan mencoba mempelajari segala hal tentang uang sekaligus, saran Kolluri.
Sebaliknya, fokus pada aspek keuangan yang relevan dengan tahapan kehidupan saat ini. Artinya, anak muda bisa fokus pada kebiasaan menabung dan investasi jangka panjang, sementara mereka yang lebih tua akan lebih diuntungkan dengan mempelajari seluk-beluk klaim jaminan sosial.
Reporter Magang: Hanan Mahira Amani