Demi Bikin Gebetan Terpukau, 37 Persen Gen Z Nekat Berutang

Demi terlihat mapan saat berkencan, sebagian Gen Z mengaku rela berutang. Tekanan finansial dalam hubungan pun bisa mendorong keputusan keuangan yang berisiko.

Cinta Najwa Fauzi
Oleh Cinta Najwa Fauzi - Reporter
Demi Bikin Gebetan Terpukau, 37 Persen Gen Z Nekat Berutang
<p>Ilustrasi shopping, belanja. (Photo by freestocks on Unsplash)</p>

Tekanan sosial untuk tampil mapan kini mendorong sebagian besar Generasi Z (Gen Z) mengambil keputusan finansial berisiko. Survei Credit One Bank bertajuk ‘The Social Status of Credit: How Millennials & Gen Z View Credit Scores’ mengungkapkan bahwa 37 persen Gen Z rela membuat rekening mereka minus hingga mengambil utang hanya demi mengesankan pasangan atau gebetan.

Di balik unggahan liburan ke luar negeri, fine dining di restoran mewah, hingga barang-barang branded di media sosial, kondisi finansial Gen Z kerap tak seindah yang terlihat. Menurut survei yang dikutip dari Investopedia tersebut, sebanyak 34 persen Gen Z mengaku suka melebih-lebihkan pengeluaran, gaji, hingga gaya hidup mereka.

Selain itu, terdapat 59 persen Gen Z yang terang-terangan mengaku kerap melakukan overspending (pengeluaran berlebih) agar terlihat mapan di depan gebetan, lingkungan sosial, maupun pengikut media sosial mereka.

Demi Pasangan, Skor Kredit Ikut Melorot

apa arti gen z
gen z ©Ilustrasi dibuat AI

Keinginan memberikan kesan terbaik saat berkencan berujung pada penumpukan beban finansial. Sekitar 17 persen Gen Z mengaku pernah terjerat utang atau mengalami penurunan skor kredit akibat membeli hadiah mewah untuk pasangannya.

Fenomena ketimpangan gaya hidup ini sejalan dengan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pada periode Maret 2026, pendanaan bermasalah di industri pinjaman daring (Pindar) menembus angka Rp101,03 triliun. Angka ini didominasi oleh kelompok usia 19–34 tahun (gabungan Generasi Milenial dan Gen Z) dengan porsi mencapai 48,65 persen.

Gengsi dan Tekanan Hubungan Asmara

Meski sebagian Gen Z mengklaim kondisi finansial bukan prioritas utama dalam memilih pasangan, tekanan untuk terlihat stabil secara ekonomi tetap memengaruhi perilaku mereka.

Ekspektasi untuk mentraktir, memberikan hadiah mahal, dan menampilkan citra sukses di hadapan gebetan berpotensi menjebak Gen Z dalam lingkaran utang yang mengancam masa depan finansial mereka.

Rekomendasi