Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti fenomena gaya hidup konsumtif yang kian marak di kalangan generasi muda atau Gen Z. Kemudahan akses teknologi digital saat ini dinilai menjadi tantangan besar bagi anak muda dalam mengelola keuangan dan menabung, jauh berbeda dengan distraksi yang dihadapi generasi sebelumnya.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menjelaskan bahwa kebiasaan berselancar di media sosial sering kali memicu keinginan untuk berbelanja secara impulsif. Hal ini diperparah dengan fitur belanja daring yang sangat mudah diakses oleh siapa saja.
"Anak sekarang, khususnya Gen Z, senangnya scrolling media sosial yang justru rentan memicu kecemasan hingga over-sharing. Saat scrolling, mereka melihat barang belanjaan dan sedikit-sedikit ingin check out," ujar Friderica usai acara Hari Indonesia Menabung di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (28/8/2026).
Advertisement
Risiko Penggunaan Layanan Paylater
Kebiasaan belanja tanpa perencanaan yang matang berpotensi menimbulkan masalah finansial serius, terutama bagi mereka yang belum memiliki penghasilan tetap. Friderica menekankan bahwa banyak anak muda terjebak dalam pola konsumsi yang tidak sebanding dengan kemampuan bayar mereka.
"Bahayanya jika mereka belum memiliki penghasilan, tetapi sudah punya kebiasaan belanja online tanpa tahu bagaimana cara membayarnya nanti. Hal ini banyak dialami anak muda sekarang. Kita sering melihat mereka menggunakan layanan buy now, tanpa memikirkan skema paylater-nya," bebernya.
Menanggapi hal tersebut, OJK meminta para pelaku usaha jasa keuangan (PUJK) untuk lebih selektif dan memberikan edukasi yang memadai terkait produk Buy Now Pay Later (BNPL). Menurut Friderica, produk tersebut tidaklah buruk, namun memerlukan kebijaksanaan dalam penggunaannya.
"Produk seperti itu sebenarnya tidak buruk. Namun, menjadi bermasalah ketika penggunanya belum bijaksana atau belum tepat menggunakannya. Karena itu, kami meminta PUJK mencermati profil calon konsumennya, memastikan mereka sudah memiliki penghasilan, serta memberikan literasi dan perlindungan yang memadai," sambung Friderica.
Advertisement
Upaya Peningkatan Literasi Keuangan Pelajar
OJK mencatat bahwa tingkat literasi keuangan di kalangan pelajar dan mahasiswa saat ini masih berada di bawah rata-rata nasional. Berdasarkan data terbaru, indeks literasi keuangan pelajar dan mahasiswa tercatat sebesar 62,72%, sementara tingkat inklusi keuangannya mencapai 92,76%.
Sebagai perbandingan, tingkat literasi keuangan nasional telah mencapai 69,57% dengan inklusi keuangan di angka 93,61%. Mengingat populasi pelajar dan mahasiswa di Indonesia mencapai sekitar 88 juta jiwa atau 31% dari total penduduk, peningkatan edukasi menjadi agenda krusial.
"Jika melihat literasi dan inklusi keuangan pelajar serta mahasiswa, angkanya masih di bawah standar nasional," jelas Friderica. Ia menambahkan bahwa capaian dari Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tersebut sebenarnya telah melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), namun upaya edukasi harus terus dilakukan.
"Oleh karena itu, ini menjadi tugas kita bersama, termasuk para kepala daerah, untuk terus meningkatkan indeks literasi dan inklusi keuangan pelajar di Indonesia," kata Friderica. Selain itu, ia juga mendorong agar anak muda mulai memprioritaskan menabung sebelum menyisihkan uang untuk kebutuhan konsumtif.
"Godaan saat ini sangat besar, sehingga anak-anak perlu didampingi dan dibekali pengetahuan. Harapannya, ketika memiliki uang, alokasi utama (top of mind) mereka adalah menabung terlebih dahulu. Baru setelah target tabungan terpenuhi, sisanya disisihkan untuk jajan atau belanja. Kebiasaan inilah yang harus kita tanamkan," tuturnya.