Keluarga Wili Mbuik di Nusa Tenggara Timur mengaku terus diteror usai kasus penembakan ASN Jayawijaya pada 9 Oktober 2026 oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) Papua. Mereka menyebut ponsel milik almarhum yang dirampas pelaku dipakai untuk melakukan panggilan video ke keluarga di Kupang dan Rote menggunakan nomor Wili.
Dari tiga korban penembakan, dua di antaranya berasal dari NTT, yakni Wili Mbuik (24) asal Kabupaten Rote Ndao dan Alfonsius Albinus Mehan (35) dari Kabupaten Sikka. Keduanya merupakan pegawai pada Dinas Pertanian Pemerintah Kabupaten Jayawijaya.
Paman kandung Wili, Johanis Baba, menyebut teror masih berlangsung. "Sampai saat ini, kami masih diteror. Terornya lewat telepon, video call. Itu yang pegang HP-nya almarhum ini," ungkap Johanis, Sabtu (12/9/2026).
Keluarga meminta pemerintah dan aparat keamanan segera menghentikan kekerasan terhadap warga sipil yang datang untuk mengabdi, serta menindak teror yang kini juga menimpa keluarga di kampung halaman. "Harapan saya kepada aparat agar segera menangkap para pelaku agar tidak ada lagi korban di Tanah Papua," pintanya.
Advertisement
Bantah Tudingan Intelijen dalam Penembakan ASN Jayawijaya
Keluarga membantah tudingan kelompok bersenjata bahwa Wili dan dua rekannya merupakan intelijen aparat. Mereka menilai tuduhan itu hanya alasan yang dicari-cari untuk membenarkan penembakan terhadap para korban.
"Kami datang untuk mengabdi di Tanah Papua, tapi kenapa dicurigai sebagai intelijen? Kalau mau perang, jangan lawan kami warga sipil," ujarnya.
Mereka juga menyoroti bahwa warga pendatang kerap menjadi korban kekerasan di wilayah tersebut dan berharap pemerintah memberikan perlindungan yang memadai. "Mereka bekerja dalam ketakutan, padahal niat kami tulus untuk mengabdi. Negara harusnya melindungi kami," pintanya.