Iran menyatakan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah menyita sebuah drone kapal selam milik Amerika Serikat (AS) di kawasan strategis Selat Hormuz. Klaim ini muncul ketika Iran masih mempertahankan blokade di jalur pelayaran energi tersebut.
Keterangan disampaikan pada Selasa, 8 September, di tengah perang berbulan-bulan di Timur Tengah. Dikutip dari Channel News Asia, Rabu (9/9/2026), pasukan Angkatan Laut IRGC menyebut perangkat bawah air tanpa awak itu ditangkap dalam operasi intelijen dan operasional yang kompleks pada Selasa dini hari.
"Pasukan Angkatan Laut IRGC menangkap salah satu kapal selam tanpa awak dan pintar paling modern milik tentara teroris AS di pintu masuk Selat Hormuz dalam sebuah operasi intelijen dan operasional yang kompleks saat fajar hari ini," kata Garda Revolusi dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah.
IRGC mengeklaim drone tersebut dilengkapi teknologi bawah permukaan terbaru di dunia dan merupakan bagian dari peralatan yang diserahkan kepada armada militer AS pada 2025.
"Kapal selam pintar ini dilengkapi dengan teknologi terbaru di bidang bawah permukaan di dunia, yang diserahkan kepada armada tentara teroris AS pada 2025," lanjut pernyataan tersebut.
Garda Revolusi menyebut perangkat itu kini berada dalam penguasaan Iran. Mereka juga mengatakan gambar drone akan dirilis dalam beberapa jam setelah pengumuman.
Media Iran melaporkan kendaraan bawah air tanpa awak tersebut memiliki sejumlah kemampuan utama, termasuk pengintaian dan pengawasan bawah permukaan, pemetaan dasar laut, deteksi ranjau, serta pemeriksaan kabel dan jaringan pipa bawah laut.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital bagi perdagangan energi global. Iran mempertahankan blokade di selat itu sejak pecahnya perang pada akhir Februari. Jalur ini biasanya dilintasi sekitar seperlima ekspor minyak dan gas alam cair dunia.
Amerika Serikat, di sisi lain, memberlakukan blokade tandingan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Pemerintah Iran juga menyatakan berencana menarik biaya dari kapal yang melintas di Selat Hormuz untuk membiayai berbagai layanan, termasuk perlindungan lingkungan. Rencana tersebut mendapat penolakan keras dari Amerika Serikat.