PBB Ubah Peta Dunia, Afrika Tak Lagi Terlihat Kecil

Majelis Umum PBB beralih dari proyeksi Mercator. 164 negara setuju, AS menolak. Peta Afrika terbaru didorong lewat Equal Earth.

Muhamad Agil Aliansyah
Oleh Muhamad Agil Aliansyah - Reporter
PBB Ubah Peta Dunia, Afrika Tak Lagi Terlihat Kecil
<p>Ilustrasi peta dunia. (Foto by AI)</p>

Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyetujui resolusi untuk beralih dari proyeksi Mercator ke peta dunia yang lebih akurat dalam membandingkan ukuran benua, dengan fokus pada Afrika. Sebanyak 164 negara mendukung, enam abstain, dan Amerika Serikat menjadi satu-satunya penolak. Langkah ini mendorong penggunaan peta Afrika terbaru dalam berbagai platform pemetaan.

Keputusan itu tertuang dalam resolusi 'Correct the Map' yang diadopsi pada Jumat (4/9), sebagaimana dilansir dari thenationalnews pada Sabtu (5/9). Resolusi yang diajukan Togo dan didukung Uni Afrika tersebut menyerukan peralihan dari proyeksi Mercator yang selama ini lazim dipakai untuk peta dunia.

Proyeksi Mercator dikembangkan pada abad ke-16 dan banyak digunakan, namun mendistorsi ukuran daratan, terutama di wilayah dekat kutub, sehingga Afrika tampak lebih kecil dibanding Eropa dan Amerika Utara. Resolusi juga mendorong kerja sama antara badan-badan PBB, organisasi regional, kalangan akademisi, lembaga pemikir, dan kelompok teknologi guna memperkuat kemampuan pemetaan nasional serta mendukung penelitian dan inovasi, khususnya di negara berkembang dan Afrika.

"Keberlangsungan distorsi ini dalam peta telah menimbulkan konsekuensi signifikan dari waktu ke waktu," kata Menteri Luar Negeri Togo Robert Dussey dalam sidang Majelis Umum PBB.

"Ini berkaitan dengan keadilan kognitif, akses terhadap pengetahuan geografis yang akurat, martabat masyarakat, dan memori sejarah," ujar dia.

AS Menentang Resolusi Peta PBB

Amerika Serikat menolak resolusi tersebut dan menilai upaya itu bermuatan ideologis yang dapat merusak kredibilitas PBB. Sikap itu disampaikan Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz.

"Inisiatif ini disajikan sebagai upaya sederhana untuk memperbarui proporsi kartografi," kata Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz.

"Amerika Serikat melihat bahwa inisiatif ini tidak dapat dipisahkan dari proyek ideologis yang jauh lebih besar dan radikal yang melatarbelakanginya," ujar dia.

Waltz mengkritik Majelis Umum PBB karena membahas "proyek peta dari abad ke-16 dan perannya dalam mendorong reparasi serta keadilan kognitif", alih-alih fokus pada berbagai tantangan terhadap perdamaian internasional.

"Resolusi seperti ini dan agenda ideologis yang dipromosikannya menjadi penghambat pekerjaan kita di sini dan menjadi alasan lembaga ini kehilangan kredibilitas," kata Waltz.

"Ketika PBB mempertanyakan mengapa mereka kehilangan legitimasi di dunia dan berulang kali tidak dianggap serius, kami menunjuk pada resolusi seperti ini," lanjutnya.

Promosikan Equal Earth untuk Peta Afrika Terbaru

Resolusi 'Correct the Map' mempromosikan penggunaan proyeksi Equal Earth yang dinilai lebih akurat dalam menggambarkan ukuran benua.

Utusan Ukraina untuk PBB, Andriy Melnyk, memilih abstain. Ia menyebut Kyiv tidak dapat mendukung resolusi dalam bentuk saat ini karena "masalah khusus terkait proyeksi kartografi Equal Earth".

"Pada peta Equal Earth, sebagian wilayah Ukraina yang untuk sementara diduduki Rusia dalam pelanggaran terang-terangan terhadap Piagam PBB dan hukum internasional digambarkan dengan cara yang sepenuhnya tidak dapat diterima," kata Melnyk.

Melnyk menyebut penggambaran itu melanggar prinsip kedaulatan dan integritas wilayah, serta tidak sejalan dengan sejumlah resolusi Majelis Umum PBB yang menegaskan integritas teritorial Ukraina dan menolak aneksasi Krimea oleh Rusia pada 2014.

Rekomendasi