Arab Saudi Temukan 1.774 Artefak Arkeologi di Madinah, Termasuk Prasasti Bertuliskan Nama Khalifah Umar
Arkeolog menemukan prasasti Islam, prasasti Thamudik, panel seni cadas, struktur batu, istana bersejarah, sumur, dan dua jalur kafilah kuno.
Komisi Warisan Budaya Arab Saudi mendokumentasikan 1.774 temuan arkeologi di Kabupaten Al Mahd, wilayah Madinah. Temuan tersebut mencakup prasasti yang memuat nama Khalifah Umar bin Khattab, seni cadas, jalur kafilah, sumur kuno, serta prasasti Islam awal.
Komisi Warisan Budaya mengumumkan bahwa musim kedua survei arkeologi di Al Mahd berhasil mencatat berbagai temuan di tiga kawasan, yakni Al Suwayriqiyah, Al Muwayhiyah, dan Hadhah. Material yang berhasil didokumentasikan meliputi prasasti Islam, prasasti Thamudik, panel seni cadas, struktur batu, istana bersejarah, sumur, dan dua jalur kafilah kuno.
Dilansir Arkeonews, Kamis (11/6), salah satu penemuan paling penting adalah prasasti batu yang memuat nama Umar bin Khattab, khalifah kedua dalam sejarah Islam. Keberadaan nama tersebut memberikan bobot historis yang besar pada survei ini, bukan karena membuktikan hubungan langsung dengan Umar, melainkan karena nama beliau memiliki makna religius dan politik yang sangat kuat pada masa awal Islam.
Arsip Gurun yang Terukir di Batu
Survei tersebut mencatat 156 situs arkeologi baru. Di dalamnya, para peneliti mengidentifikasi:
461 prasasti Islam
34 prasasti Thamudik
1.259 panel seni cadas
11 struktur batu
3 istana bersejarah
2 jalur kafilah
4 sumur
Secara keseluruhan, temuan-temuan ini menunjukkan bahwa Al Mahd bukanlah wilayah gurun yang kosong, melainkan kawasan yang berulang kali dilintasi, ditandai, dan dimanfaatkan oleh berbagai komunitas sepanjang sejarah.
Di Jazirah Arab, prasasti batu sering digunakan sebagai media untuk menuliskan nama pribadi, doa, identitas suku, potongan puisi, hingga penanda perjalanan jarak jauh.
Sementara itu, prasasti Thamudik mengindikasikan tradisi tulis-menulis yang lebih tua, berasal dari masa pra-Islam di Arabia utara dan tengah. Istilah "Thamudik" umumnya digunakan untuk menyebut kelompok aksara Arab Utara Kuno yang banyak diukir oleh para pengembara, penggembala, maupun komunitas lokal yang hidup di kawasan gurun sebelum munculnya Islam.
Sebaliknya, prasasti Islam berasal dari periode yang lebih belakangan, ketika literasi bahasa Arab, ekspresi keagamaan, serta jaringan perdagangan dan ziarah mulai berkembang pesat.
Survei tersebut mencatat 156 situs arkeologi baru. Di dalamnya, para peneliti mengidentifikasi:
461 prasasti Islam
34 prasasti Thamudik
1.259 panel seni cadas
11 struktur batu
3 istana bersejarah
2 jalur kafilah
4 sumur
Secara keseluruhan, temuan-temuan ini menunjukkan bahwa Al Mahd bukanlah wilayah gurun yang kosong, melainkan kawasan yang berulang kali dilintasi, ditandai, dan dimanfaatkan oleh berbagai komunitas sepanjang sejarah.
Di Jazirah Arab, prasasti batu sering digunakan sebagai media untuk menuliskan nama pribadi, doa, identitas suku, potongan puisi, hingga penanda perjalanan jarak jauh.
Sementara itu, prasasti Thamudik mengindikasikan tradisi tulis-menulis yang lebih tua, berasal dari masa pra-Islam di Arabia utara dan tengah. Istilah "Thamudik" umumnya digunakan untuk menyebut kelompok aksara Arab Utara Kuno yang banyak diukir oleh para pengembara, penggembala, maupun komunitas lokal yang hidup di kawasan gurun sebelum munculnya Islam.
Sebaliknya, prasasti Islam berasal dari periode yang lebih belakangan, ketika literasi bahasa Arab, ekspresi keagamaan, serta jaringan perdagangan dan ziarah mulai berkembang pesat.
Nama Seorang Khalifah yang Terukir di Batu Gurun
Pentingnya prasasti yang berkaitan dengan Umar bin Khattab terletak pada kemampuannya mengungkap bagaimana memori dan identitas keislaman berkembang pada masa itu.
Nama-nama tokoh besar Islam awal kerap muncul dalam konteks penghormatan maupun peringatan. Kehadirannya dapat mencerminkan rasa hormat, loyalitas politik, pendidikan agama, atau penyebaran memori sejarah Islam di kalangan masyarakat yang tinggal jauh dari pusat-pusat perkotaan.
Bagi para arkeolog, prasasti semacam ini membantu menghubungkan catatan sejarah tertulis dengan lanskap fisik yang masih ada hingga kini. Temuan tersebut menunjukkan bagaimana nama-nama tokoh Islam, keyakinan keagamaan, dan bahasa puitis menyebar melalui jalur yang digunakan oleh para musafir, pedagang, penggembala, dan penduduk lokal.
Puisi Arab yang terukir di permukaan batu juga menambah nilai sejarah temuan tersebut. Di Jazirah Arab, puisi bukan sekadar karya sastra, melainkan sarana untuk menyimpan ingatan kolektif, menunjukkan status sosial, mengekspresikan emosi, dan membangun identitas. Ketika diukir pada batu, puisi mampu mengabadikan sebuah momen menjadi bagian permanen dari lanskap.
Jalur Kafilah, Sumur, dan Infrastruktur Perjalanan
Dokumentasi terhadap dua jalur kafilah dan empat sumur kuno juga dianggap sangat penting.
Di kawasan gurun yang kering, mobilitas manusia sangat bergantung pada keberadaan sumber air, jalur perjalanan yang dikenal, pengetahuan musiman, dan tempat persinggahan. Sumur bukanlah sekadar fasilitas pendukung, melainkan faktor utama yang menentukan ke mana orang dapat bepergian, tempat hewan beristirahat, serta lokasi pemukiman dan pos perhentian berkembang.
Penemuan di Al Mahd juga sejalan dengan pola yang muncul dari berbagai proyek arkeologi terbaru di Arab Saudi.
Di Miqat Al-Juhfah, misalnya, proyek terpisah yang dikerjakan Komisi Warisan Budaya bersama Universitas Exeter mendokumentasikan lebih dari 1.700 artefak di salah satu titik masuk bersejarah bagi para peziarah yang menuju Makkah.
Di lokasi tersebut ditemukan keramik, kaca, cangkang, manik-manik, benda logam, enam tungku pembakaran tembikar, saluran air, serta batu nisan yang sebagian berasal dari periode Dinasti Umayyah dan Abbasiyah.
Meski Al Mahd dan Miqat Al-Juhfah merupakan konteks arkeologi yang berbeda, keduanya menunjukkan gambaran yang sama: Arabia pada masa awal Islam terhubung oleh jalur perdagangan, sistem pengelolaan air, aktivitas kerajinan, prasasti, dan pergerakan keagamaan.
Lanskap tersebut bukan sekadar latar belakang yang statis, melainkan koridor aktif tempat berlangsungnya perjalanan, pertukaran budaya, keyakinan, dan memori kolektif.
Catatan Arkeologi Arab Saudi Terus Berkembang
Komisi Warisan Budaya Arab Saudi menyatakan bahwa survei di Al Mahd merupakan bagian dari program nasional yang bertujuan mengidentifikasi, mendokumentasikan, dan melindungi situs-situs arkeologi di seluruh negeri.
Program ini juga mendukung target budaya dalam Visi Arab Saudi 2030, yang menempatkan arkeologi, museum, dan pariwisata warisan budaya sebagai bagian penting dari strategi pembangunan nasional.
Bagi Kabupaten Al Mahd, hasil survei terbaru ini menawarkan lebih dari sekadar angka temuan yang besar. Penemuan tersebut memberikan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana manusia memanfaatkan kawasan Madinah pada berbagai periode sejarah.
Seni cadas menyimpan jejak tradisi visual kuno. Inskripsi Thamudik mengingatkan pada mobilitas masyarakat pra-Islam. Sementara inskripsi Islam dan puisi Arab mencerminkan dunia yang dibentuk oleh keimanan, ingatan, dan tradisi tulis-menulis.
Prasasti yang memuat nama Umar bin Khattab kemungkinan akan menjadi temuan yang paling menarik perhatian publik. Namun nilai sesungguhnya terletak pada gambaran arkeologis yang lebih luas: sebuah lanskap tempat batu, jalur perjalanan, sumur, dan kata-kata masih menyimpan jejak orang-orang yang melintasi gurun Arabia berabad-abad lalu.