FOTO: Puluhan Orangutan Tapanuli Tewas Akibat Longsor di Batang Toru
Longsor yang dipicu hujan ekstrem di Batang Toru diperkirakan menewaskan puluhan Orangutan Tapanuli yang terancam punah.
Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda kawasan Batang Toru, Sumatera Utara, pada akhir 2025 diperkirakan telah menewaskan sekitar 58 Orangutan Tapanuli, salah satu spesies kera besar paling langka di dunia. Temuan tersebut terungkap dalam laporan yang dirilis para ilmuwan pada 10 Juni 2026.
Jumlah kematian itu setara dengan sekitar tujuh persen dari total populasi Orangutan Tapanuli yang diperkirakan hanya berjumlah sekitar 800 individu di alam liar. Sebagian besar populasi satwa endemik tersebut hidup di kawasan Hutan Batang Toru yang menjadi habitat terakhir mereka.
Peristiwa ini mengingatkan pada penemuan bangkai seekor Orangutan Tapanuli remaja yang ditemukan di antara tumpukan kayu yang terbawa arus banjir bandang di Sumatera Utara pada Desember 2025. Temuan tersebut menjadi salah satu bukti dampak bencana alam terhadap satwa liar yang populasinya sudah berada dalam kondisi kritis.
Berdasarkan hasil penelitian, longsor yang dipicu hujan ekstrem menyebabkan kerusakan besar pada habitat orangutan, terutama di Blok Barat Batang Toru. Kawasan tersebut merupakan wilayah utama yang menampung lebih dari 500 individu Orangutan Tapanuli dan berperan penting bagi kelangsungan spesies tersebut.
Selain menyebabkan kematian satwa, longsor juga menghancurkan area hutan yang menjadi sumber pakan, tempat berlindung, dan jalur pergerakan orangutan. Kerusakan habitat dalam skala besar dinilai dapat memperburuk peluang pemulihan populasi yang memiliki tingkat reproduksi sangat rendah.
Temuan ini menambah kekhawatiran terhadap dampak perubahan iklim terhadap keanekaragaman hayati Indonesia. Bagi Orangutan Tapanuli yang populasinya terbatas dan hanya ditemukan di kawasan Batang Toru, kehilangan puluhan individu dalam satu peristiwa menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan spesies tersebut di masa depan.