Korban Bencana Alam Tapanuli Utara: 15 Meninggal, 36 Hilang Akibat Cuaca Ekstrem

Bencana alam hidrometeorologi melanda Tapanuli Utara, menyebabkan 15 orang meninggal dunia dan 36 lainnya masih hilang. Cuaca ekstrem ini dipicu oleh Siklon Tropis Senyar yang berdampak luas di Sumatera Utara.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Korban Bencana Alam Tapanuli Utara: 15 Meninggal, 36 Hilang Akibat Cuaca Ekstrem
Bencana alam hidrometeorologi melanda Tapanuli Utara, menyebabkan 15 orang meninggal dunia dan 36 lainnya masih hilang. Cuaca ekstrem ini dipicu oleh Siklon Tropis Senyar yang berdampak luas di Sumatera Utara. (AntaraNews)

Bencana alam hidrometeorologi kembali menelan korban jiwa di wilayah Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Data terbaru dari Kepolisian Resor (Polres) Tapanuli Utara mencatat setidaknya 15 orang meninggal dunia dan 36 warga lainnya masih dinyatakan hilang. Tim gabungan terus berupaya melakukan pencarian dan evakuasi di tengah kondisi yang menantang.

Peristiwa tragis ini tersebar di beberapa kecamatan, dengan Adiankoting menjadi wilayah terdampak paling parah. Longsor dan banjir yang terjadi juga menyebabkan sejumlah jalur transportasi terisolir. Upaya pembersihan material longsor terus digencarkan untuk membuka akses jalan bagi bantuan dan tim penyelamat.

Musibah ini merupakan bagian dari dampak cuaca ekstrem yang melanda 13 kabupaten/kota di Sumatera Utara dalam beberapa hari terakhir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara sebelumnya melaporkan total 47 korban jiwa di seluruh provinsi. Fenomena alam ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dan masyarakat setempat.

Data yang dihimpun oleh Polres Tapanuli Utara menunjukkan dampak signifikan dari bencana alam yang terjadi. Kepala Seksi Hubungan Masyarakat (Humas) Polres Tapanuli Utara, Aiptu Walpon, mengungkapkan rincian korban jiwa. "Puluhan warga yang meninggal dunia di antaranya 11 merupakan warga Kecamatan Adiankoting, dua korban meninggal dari Kecamatan Parmonangan dan dua orang merupakan karyawan swasta," ujarnya di Tarutung pada Jumat (28/11).

Selain korban meninggal, sebanyak 36 orang lainnya masih dalam pencarian tim evakuasi, menambah daftar panjang kekhawatiran di wilayah tersebut. Bencana ini tidak hanya terpusat di satu titik, melainkan menyebar di berbagai kecamatan. Beberapa wilayah yang terdampak meliputi Kecamatan Adiankoting, Kecamatan Parmonangan, Kecamatan Pahe jahe, Kecamatan Purbatua, dan Kecamatan Tarutung.

Dampak bencana juga terasa di Kecamatan Simangumban, Kecamatan Siatasbarita, Kecamatan Sipoholon, dan Kecamatan Pahae Julu. Luasnya area terdampak menunjukkan skala bencana yang cukup besar, memerlukan koordinasi intensif dari berbagai pihak. Tim gabungan yang terdiri dari unsur kepolisian, TNI, BPBD, dan relawan terus bekerja keras untuk mengevakuasi korban dan membersihkan area terdampak.

Cuaca ekstrem yang memicu bencana hidrometeorologi di Sumatera Utara ini dijelaskan oleh Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan, Hendro Nugroho. Ia menyebutkan bahwa fenomena ini merupakan dampak dari Siklon Tropis Senyar. "Dampaknya dalam satu minggu terakhir, wilayah Sumatera Utara dilanda hujan setiap hari," kata Hendro.

Siklon Tropis Senyar, yang sebelumnya dikenal sebagai Bibit Siklon Tropis 95B, telah berkembang sejak 21 November di perairan timur Aceh dan Selat Malaka. Perkembangan siklon ini secara signifikan mempengaruhi kondisi atmosfer di wilayah Sumatera Utara. Hal ini menyebabkan peningkatan intensitas dan memicu cuaca ekstrem yang berkelanjutan.

Dampak dari Siklon Tropis Senyar meliputi hujan lebat hingga ekstrem, gelombang tinggi, dan angin kencang di berbagai wilayah Sumut. Kelembapan udara yang terpantau sangat tinggi juga turut mendukung potensi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat. "Dengan kelembapan udara terpantau sangat tinggi, sehingga udara cukup basah semakin mendukung potensi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat di beberapa wilayah Sumatera Utara," tambah Hendro, menjelaskan kondisi meteorologis yang terjadi.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi