Heboh di media sosial warga Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah digegerkan penemuan tulang tempayan atau gentong. Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) wilayah XVIII Sulbar-Sulteng menyebut lokasi penemuan tulang tersebut merupakan Kawasan Megalitikum Lembah Napu.
ASN BPK wilayah XVIII, Chalid AS menjelaskan sebenarnya penemuan tulang dalam tempayan tersebut sejak akhir Januari 2026. Hanya saja, penemuan tulang tersebut kembali viral di media sosial.
"Itu warga Desa Kalemago, Kecamatan Lore yang menemukan akhir Januari kemarin. Kami baru ke sana pada Februari untuk melakukan pemantauan berkala," ujarnya saat dihubungi melalui telepon, Senin (30/3).
Advertisement
Meski ditemukan di kawasan Megalitikum, Chalid belum bisa memastikan apakah tulang tersebut merupakan peninggalan zaman prasejarah atau bukan. Chalid menegaskan sampai saat ini BPK wilayah XVIII masih melakukan identifikasi dan menentukan usia tulang tersebut.
"Masih spekulatif untuk memastikan usia temuan tulang dalam tempayan itu," kata mantan Presiden Keluarga Mahasiswa Arkeologi Universitas Hasanuddin ini.
Meski demikian, Chalid menyebut prosesi penguburan dengan menggunakan tempayan sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Chalid menyebut wilayah Lore memang banyak ditemukan kuburan tempayan.
"Sampai saat ini baru satu dari dua tempayan berisi tulang manusia yang sudah diidentifikasi. Wilayah Lore memang banyak ditemukan kuburan Lore," kata dia.
Chalid mengaku saat ini BPK wilayah XVIII berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menjaga situs tersebut. Apalagi, lokasi penemuan itu rawan longsor dan bisa merusak situs.
"Lokasinya memang rawan longsor. Sehingga kami berkoodinasi dengan dinas pendidikan. Apalagi ada tempayang yang sudah pecah di lokasi," ucapnya.