Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendesak perumusan rencana lanjutan pengembangan Situs Patiayam. Desakan ini bertujuan untuk pelestarian kawasan purbakala yang berlokasi di Kudus dan Pati, Jawa Tengah. Hal ini disampaikan dalam Forum Diskusi Aktual Berbangsa Bernegara (FDABB) yang baru-baru ini diselenggarakan.
Lestari Moerdijat menyoroti ancaman dari alam yang sering berubah secara ekstrem. Ia juga menekankan kurangnya kepedulian masyarakat terhadap pelestarian benda-benda bersejarah di Situs Patiayam. Oleh karena itu, langkah nyata dan terpadu sangat dibutuhkan untuk menjaga situs ini.
Forum diskusi tersebut menghadirkan para pakar arkeologi, geologi, dan kesehatan. Tujuannya adalah memahami Situs Patiayam dalam konteks prasejarah Indonesia secara mendalam. Kolaborasi kuat antara pemangku kepentingan dan masyarakat diharapkan dapat merealisasikan langkah yang tepat.
Advertisement
Advertisement
Keunikan dan Potensi Situs Patiayam
Ketua Center for Prehistoric and Austronesian Studies (CPAS) Indonesia, Truman Simanjuntak, menyatakan Situs Patiayam adalah situs purbakala yang lengkap dan unik. Keunikannya terletak pada isolasinya dari situs hominid lain yang ada di Indonesia. Kawasan ini merupakan kekayaan bangsa yang tersembunyi.
Truman juga menambahkan potensi penggalian dapat dikembangkan ke lokasi lain. Terutama di area yang memiliki lapisan batuan dengan formasi Slumprit. Lapisan ini diperkirakan berusia sekitar 800 ribu tahun, menunjukkan potensi temuan yang signifikan.
Untuk menjaga kelestarian dan keamanan fosil di Situs Patiayam, Truman menekankan pentingnya beberapa hal. Ini termasuk keamanan fosil, kerja sama dengan masyarakat, pemberian tali asih, dan sertifikat bagi penemu fosil. Upaya ini harus konsisten diterapkan.
Advertisement
Dalam proses pengembangan ke depan, Truman berharap Situs Patiayam dapat berdampak positif bagi masyarakat. Pengelolaan harus mengedepankan perspektif keilmuan, kebudayaan, dan lingkungan. Ini akan memastikan keberlanjutan situs dan manfaatnya bagi sekitar.
Advertisement
Tantangan dan Arah Penelitian Geologi di Patiayam
Francois Semah dari Muséum national d'Histoire Naturelle, Perancis, berpendapat bahwa temuan ekskavasi tiga tahun terakhir di Patiayam sangat memuaskan. Ia menyarankan agar upaya ekskavasi selanjutnya diarahkan menjauh dari lapisan yang dipengaruhi gunung api. Fokus sebaiknya ke lokasi-lokasi yang mendekati muara sungai purba.
Menurut Francois, jika ditemukan sungai di masa lalu, ada kemungkinan akan ditemukan artefak batu, fosil, bahkan mungkin fosil manusia. Untuk mendapatkan konteks arkeologis yang benar, lokasi-lokasi di pinggir sungai yang terfosilkan harus dicari. Ini dapat menghadirkan penemuan yang lebih banyak.
Pakar geologi dari Universitas AKPRIND, Sri Mulyaningsih dan Sutikno Bronto, menyoroti peran aktivitas gunung berapi. Aktivitas di sekitar Gunung Muria di masa lalu menghasilkan cekungan batuan yang disebut maar. Di sekitar Gunung Muria, terdapat sekitar 14 maar, dua di antaranya adalah Rawa Gembong dan Waduk Logung.
Advertisement
Cekungan batuan tersebut membentuk danau-danau yang di sekitarnya menjadi tempat tinggal makhluk hidup. Ini termasuk hewan dan manusia purba, sehingga penelitian lanjutan dapat diarahkan ke lokasi maar tersebut. Tantangan penelitian ke depan adalah mengubah paradigma dari geologi sedimenter ke geologi gunung api.
Sutikno memperkirakan bahwa air sumber kehidupan bagi fauna dan manusia purba di masa lalu berasal dari danau-danau maar. Oleh karena itu, peneliti perlu mendalami penelitian dari kacamata geologi gunung api. Tantangan lainnya adalah perluasan lokasi penelitian, tidak hanya di Situs Patiayam tetapi juga kawasan lain di Semenanjung Muria.
Advertisement
Peran Masyarakat dan Pengembangan Berkelanjutan Situs Patiayam
Dekan FIK Universitas Kristen Satya Wacana, Ferry Fredy Karwur, berpendapat bahwa masih ada gap pemahaman antara ilmuwan dan masyarakat umum. Gap ini terkait dengan pentingnya Situs Patiayam sebagai warisan prasejarah. Kegiatan arkeologi di situs ini dapat memperkaya cabang ilmu lain, seperti biologi molekuler.
Ferry melihat kondisi ini sebagai peluang bagi Situs Patiayam untuk mempersempit gap tersebut. Model-model penataan ruang dalam pengelolaan kawasan harus dipikirkan secara serius. Tujuannya adalah agar kepentingan sosial masyarakat dan pelestarian situs dapat berjalan beriringan.
Di kawasan Patiayam, terdapat dua kegiatan ekonomi utama masyarakat, yaitu buruh pabrik dan petani. Situs Patiayam berpotensi menjadi tempat pembelajaran lapangan bagi mereka. Hal ini dapat mendorong masyarakat sekitar menjadi ilmuwan di bidang arkeologi, geologi, dan vulkanologi di masa depan.
Advertisement
Pemerintah Kabupaten Kudus juga berkomitmen untuk terus mendukung upaya pelestarian dan pengembangan Situs Patiayam. Dukungan ini melalui kewenangan yang dimiliki, seperti menganggarkan dana untuk tali asih. Selain itu, pemerintah daerah juga memberikan sertifikat bagi masyarakat yang menemukan fosil dan melakukan edukasi.
Sumber: AntaraNews