Kowani Ajak Perempuan Indonesia Aktif dalam Pelestarian Kebaya sebagai Identitas Bangsa

Kongres Wanita Indonesia (Kowani) menyerukan perempuan Indonesia untuk terus berpartisipasi aktif dalam pelestarian kebaya, menjadikannya simbol persatuan dan jati diri bangsa yang tak lekang oleh waktu.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kowani Ajak Perempuan Indonesia Aktif dalam Pelestarian Kebaya sebagai Identitas Bangsa
Kongres Wanita Indonesia (Kowani) menyerukan perempuan Indonesia untuk terus berpartisipasi aktif dalam pelestarian kebaya, menjadikannya simbol persatuan dan jati diri bangsa yang tak lekang oleh waktu. (AntaraNews)

Kongres Wanita Indonesia (Kowani) secara konsisten mengajak seluruh perempuan di Tanah Air untuk terus melestarikan kebaya. Ajakan ini disampaikan sebagai upaya menjaga identitas budaya bangsa yang kaya, sekaligus memperkuat simbol persatuan, perjuangan, dan jati diri perempuan Indonesia di kancah nasional maupun internasional. Ketua Umum Kowani, Nannie Hadi Tjahjanto, menyampaikan apresiasi mendalam kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam melestarikan warisan budaya ini.

Pernyataan ini disampaikan Nannie Hadi Tjahjanto saat menghadiri acara Parade Perempuan Kebaya Kain Songket yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Kebaya Nasional ke-3 tahun 2026. Acara tersebut berlangsung meriah di kawasan Car Free Day (CFD) Palembang, menarik perhatian banyak peserta dan masyarakat. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menunjukkan komitmen perempuan Indonesia dalam melestarikan budayanya.

Nannie Hadi Tjahjanto juga menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, pimpinan organisasi, dan perempuan Indonesia yang terus menjaga kebersamaan. Ia menekankan pentingnya persatuan dalam melestarikan budaya bangsa serta berkontribusi mewujudkan perempuan Indonesia yang maju, mandiri, berdaya, berintegritas, dan berkarakter.

Kebaya sebagai Identitas Nasional dan Simbol Perjuangan

Hari Kebaya Nasional, yang diperingati setiap tanggal 24 Juli, bukan hanya sekadar perayaan seremonial atau peragaan busana semata. Menurut Nannie Hadi Tjahjanto, momen ini adalah kesempatan emas untuk memperkuat identitas nasional. Kebaya, dengan segala keanggunan dan kesederhanaannya, melambangkan jati diri, kesantunan, martabat, serta semangat perjuangan perempuan Indonesia.

Penetapan tanggal 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 merupakan bentuk pengakuan resmi negara terhadap kebaya sebagai identitas nasional. Keputusan ini ditetapkan pada 4 Agustus 2023, menegaskan posisi kebaya sebagai aset budaya yang sangat berharga dan perlu dijaga kelestariannya.

Sejarah gerakan perempuan Indonesia juga memiliki ikatan erat dengan kebaya. Pada Kongres Wanita Indonesia (Kowani) ke-10 tahun 1964, ribuan perempuan dari seluruh pelosok Indonesia mengenakan kebaya sebagai simbol persatuan dan perjuangan. Hal ini menunjukkan bahwa kebaya telah lama menjadi bagian integral dari perjalanan emansipasi dan pergerakan perempuan di Indonesia.

Dampak Ekonomi dan Pengakuan Internasional Kebaya

Gerakan mengenakan dan melestarikan kebaya tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga dampak ekonomi yang signifikan. Nannie Hadi Tjahjanto menjelaskan bahwa kegiatan ini melibatkan banyak pihak, mulai dari penenun songket, perajin, penjahit, desainer, hingga pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di berbagai daerah. Ini membuktikan bahwa kebaya adalah penggerak ekonomi kreatif yang potensial.

Parade Perempuan Kebaya Kain Songket di Palembang, yang diinisiasi oleh DPD Perempuan Indonesia Maju (PIM) Sumatera Selatan, berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Acara ini diakui dalam kategori Parade Perempuan Kebaya Kain Songket Terbanyak, menunjukkan antusiasme dan dukungan besar masyarakat terhadap pelestarian busana tradisional ini. Dalam kesempatan tersebut, Nannie Hadi Tjahjanto turut memberikan penghargaan kepada Ketua Umum DPP Perempuan Indonesia Maju (PIM), Lana T Koentjoro, beserta Tim Nasional Kebaya Indonesia dan seluruh pegiat kebaya atas perjuangan mereka dalam mewujudkan Hari Kebaya Nasional.

Pengakuan terhadap kebaya semakin menguat di tingkat internasional dengan ditetapkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada Desember 2024. Penetapan ini merupakan hasil nominasi multinasional bersama sejumlah negara Asia Tenggara lainnya, seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Nannie Hadi Tjahjanto menegaskan, kebaya bukan sekadar benda budaya yang hanya disimpan untuk dikenang, melainkan warisan budaya hidup yang harus terus dikenakan, dikenalkan, dikembangkan, dilindungi, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Melestarikan Kain Tradisional Nusantara

Masyarakat diajak untuk tidak hanya melestarikan kebaya, tetapi juga kain tradisional Nusantara lainnya, khususnya songket. Kain songket, dengan motif dan coraknya yang khas, merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Indonesia. Pelestarian kain-kain tradisional ini juga berpotensi besar sebagai penggerak ekonomi kreatif di berbagai daerah.

Kowani dan organisasi perempuan lainnya terus berkomitmen untuk memperkuat persatuan dan melestarikan budaya bangsa. Perjuangan untuk menetapkan Hari Kebaya Nasional dan mendapatkan pengakuan UNESCO membuktikan bahwa ketika perempuan Indonesia bersatu, memiliki visi yang sama, dan bergerak secara konsisten, sebuah gagasan mampu menjadi gerakan nasional yang diakui negara dan dunia.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi