BRIN Ungkap Fakta di Balik Dentuman Misterius Guncang Bandung

PVMBG Badan Geologi dan BMKG silang pendapat mengenai suara dentuman didengar warga Bandung Raya.

Azzura Galexia
Oleh Azzura Galexia - Reporter
BRIN Ungkap Fakta di Balik Dentuman Misterius Guncang Bandung
Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali meningkat. (Liputan6.com/Istimewa).

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan suara dentuman terdengar warga Bandung Raya pada Jumat (4/9) malam hingga Sabtu (5/9) dini hari bukan berasal dari fenomena antariksa.

"Yang jelas bukan bersumber dari antariksa," kata Peneliti Riset Astronomi dan Astrofisika Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin, kata dia kepada wartawan pada Sabtu (5/9).

Thomas juga menepis informasi suara dentuman itu berasal dari fenomena space quake atau goncangan ekstrem di magnet bumi.

"Tidak ada fenomena space quake (goncangan ekstrem di medan magnet bumi) yang terasa atau terdengar di permukaan bumi," tegas dia.

"Dugaan saya, sumber dentuman atau getaran lokal Bandung, bukan fenomena dari antariksa," lanjut dia.

Selain itu, sambung Thomas, tak ada benda langit seperti meteor yang dilaporkan jatuh atau melintas. Maka dari itu, dia memastikan suara dentuman itu bukan berasal dari aktivitas antariksa.

"Tidak ada saksi yang melihat meteor besar yang melintas yang bisa menyebabkan gelombang kejut," ujar dia.

Analisis PVMBG Badan Geologi dan MBKG

Sebelumnya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi meyakini bahwa suara dentuman terdengar warga Bandung Raya terkait dengan erupsi Gunung Anak Krakatau. Sebab, erupsi disertai lava fountain atau air mancur lava biasanya disertai dengan suara dentuman nyaring. Suara itu dapat merambat hingga ratusan kilometer.

Menurut PVMBG, sudah ada penyelidikan dan catatan memungkinkan terjadinya gelombang perambatan suara ratusan kilometer saat gunung sedang mengalami erupsi. Hal itu pernah terjadi di Gunung Kelud. Saat itu, rambatan suara terdengar hingga Yogyakarta dan beberapa wilayah di Jawa Tengah.

Adapun kencang atau tidaknya rambatan suara akibat erupsi gunung dapat dipengaruhi berbagai faktor seperti perbedaan temperatur, arah, hingga kecepatan angin.

Sementara itu, BMKG memiliki pandangan berbeda soal asal muasal suara dentuman. BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung menilai suara dentuman kemungkinan bukan berasal dari aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Sebab, meski terdapat aktivitas petir yang signifikan di sekitar Gunung Anak Krakatau saat erupsi terjadi, arah angin berembus dari Timur ke Barat atau berlawanan dengan arah ke Bandung Raya. Hal itu terdeteksi dari data citra satelit BMKG.

Rekomendasi