Xanana Gusmao: Jangan Terlalu Bergantung pada Google dan AI

Dalam orasi ilmiahnya, Xanana ingin generasi muda tidak bergantung pada Google dan Artificial Intelligence (AI).

Ihwan Fajar
Oleh Ihwan Fajar - Reporter
Xanana Gusmao: Jangan Terlalu Bergantung pada Google dan AI
PM Timor Leste Kay Rala Xanana Gusmao mendapatkan gelar Honoris Causa dari Universitas Hasanuddin di Baruga Andi Pettarani, Sabtu (5/9). (merdeka.com/Fajar Ihwan).

Perdana Menteri Timor Leste, Kay Rala Xanana Gusmao mendapatkan gelar kehormatan Honoris Causa dari Universitas Hasanuddin Makassar, Sabtu (5/9). Dalam orasi ilmiahnya, Xanana ingin generasi muda tidak bergantung pada Google dan Artificial Intelligence (AI).

"Kita tidak butuh generasi muda jika mereka bergantung terlalu banyak pada Google dan AI. Karena mereka tidak akan menjadi mesin dan dari sana, dunia berkembang," ujar Xanana kepada wartawan.

 

PM Timor Leste Kay Rala Xanana Gusmao mendapatkan gelar Honoris Causa dari Universitas Hasanuddin di Baruga Andi Pettarani, Sabtu (5/9). (merdeka.com/Fajar Ihwan).
PM Timor Leste Kay Rala Xanana Gusmao mendapatkan gelar Honoris Causa dari Universitas Hasanuddin di Baruga Andi Pettarani, Sabtu (5/9). (merdeka.com/Fajar Ihwan).

Xanana menengaskan Timor Leste membutuhkan generasi muda pintar dan rajin. Alasannya, pemimpin dunia berasal dari generasi suka meneliti dan mencoba memecahkan semua permasalahan.

"Itulah sebabnya, berbicara tentang pemimpin dunia, mereka berasal dari generasi muda yang meneliti, mencari, dan mencoba memahami semua masalah ini," ujar dia.

Xanana mengapresiasi Universitas Hasanuddin yang mengajarkan orang untuk berpikir. Dia menegaskan seharusnya semua perguruan tinggi harus bisa melakukan hal tersebut.

"Saya menggambarkan perasaan terhadap Unhas dan universitas yang mengajarkan bagaimana orang berpikir, meneliti semua faktor, sains, alam, sosial, pemimpin baru datang dari sana. Ketika orang melihat kesulitan, belajar bagaimana menyelesaikannya dengan visi untuk masa depan, itu akan datang," ujar dia.

 

PM Timor Leste Kay Rala Xanana Gusmao mendapatkan gelar Honoris Causa dari Universitas Hasanuddin di Baruga Andi Pettarani, Sabtu (5/9). (merdeka.com/Fajar Ihwan).
PM Timor Leste Kay Rala Xanana Gusmao mendapatkan gelar Honoris Causa dari Universitas Hasanuddin di Baruga Andi Pettarani, Sabtu (5/9). (merdeka.com/Fajar Ihwan).

Terkait gelar Honoris Causa yang diberikan oleh Unhas, Xanana mengaku tidak hanya sangat terhormat, tetapi juga memiliki arti lebih besar dan tidak sekadar kata-kata.

"Ini adalah tanggung jawab besar. Tanggung jawab besar dalam arti bahwa seperti yang sudah sering saya katakan, pahlawan sejati adalah rakyat kita. Tidak ada lagi pahlawan di barat; pahlawan adalah rakyat Timor Leste," kata Xanana.

Setelah 24 tahun Timor Leste merdeka, Xanana mengakui masih ada kemiskinan. Dia menganggap hal tersebut sebagai masalah yang harus diselesaikan.

"Setelah 24 tahun merdeka, kita masih melihat kemiskinan, kita masih melihat banyak sekali masalah yang dihadapi rakyat kita. Itulah sebabnya tanggung jawab ini adalah semacam amanat. Kita harus terus berbuat yang terbaik bagi rakyat, untuk kemerdekaan dan kesejahteraan," kata Xanana.

Sementara itu, Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa menambahkan keberadaan AI bukan segalanya. JJ menilai AI bisa digunakan, tetapi harus tetap menjadi diri sendiri.

"Saya kira ini kesimpulan yang luar biasa. AI ada, tapi itu bukanlah segalanya. Bisa kita gunakan, tapi kita harus menjadi diri sendiri," kata JJ.

Sementara Promotor, Prof Hafid Abbas menjelaskan ada empat poin alasan Kay Rala Xanana Gusmao untuk mendapatkan gelar Honoris Causa. Pertama, kata Prof Hafid, Xanana adalah simbol perjuangan lahirnya Timor Leste.

"Xanana dipandang bukan hanya sebagai saksi sejarah, melainkan arsitek utama yang memimpin rakyatnya melewati masa-masa sulit menuju kemerdekaan Timor Leste," kata dia.

Poin kedua yakni, Xanana dianggap sebagai jembatan rekonsiliasi dan perdamaian. Prof Hafid menilai Xanana mampu mengubah luka konflik menjadi hubungan yang saling menghormati.

"Xanana memilih jalan memaafkan tanpa melupakan, serta membangun kemitraan yang harmonis bersama para pemimpin Indonesia," ujar Hafid.

Poin ketiga, Xanana dianggap transformasi pejuang menjadi negarawan. Prof Hafid menjelaskan pasca-kemerdekaan, Xanana aktif membangun institusi negara, memperkuat demokrasi, serta memperjuangkan kedaulatan Timor Leste melalui jalur hukum dan diplomasi.

"Terakhir, beliau sebagai pewarisan Nilai perdamaian kemanusiaan. Keberanian yang berpadu dengan kerendahan hatinya dinilai sejalan dengan misi Unhas dalam membangun fondasi ilmu pengetahuan, keadilan, dan peradaban," kata dia.

​Melalui penganugerahan tersebut, Unhas berharap hubungan bilateral kedua negara terus mempererat jembatan keilmuan dan perdamaian di masa depan.

Rekomendasi