Survei Global Ungkap Negara Paling Dermawan, Ternyata Bukan Eropa

Survei global memetakan negara paling dermawan. Eropa di bawah rata-rata, Jepang terendah. Nigeria memimpin daftar. Simak angkanya.

Cahya Alena Fauza
Oleh Cahya Alena Fauza - Reporter
Survei Global Ungkap Negara Paling Dermawan, Ternyata Bukan Eropa
<p>Ilustrasi peta dunia. (Foto by AI)</p>

Nigeria menempati peringkat teratas sebagai negara paling dermawan di dunia. Warganya menyisihkan rata-rata 2,8 persen dari pendapatan harian maupun bulanan untuk donasi, mulai dari lembaga amal, kegiatan keagamaan, hingga bantuan langsung kepada pihak yang membutuhkan.

Temuan ini berbanding terbalik dengan tren di Eropa. Seluruh negara yang masuk 10 besar justru berasal dari kelompok negara berpendapatan rendah hingga menengah ke bawah, sementara kawasan Eropa mencatat proporsi donasi amal terendah di antara benua lainnya. Dikutip dari EuroNews, Sabtu (5/9/2026).

Jika dihitung sebagai persentase dari pendapatan harian, warga Eropa rata-rata hanya menyisihkan 0,6 persen untuk beramal. Angka tersebut berada di bawah rata-rata global sebesar 1 persen, meski banyak negara Eropa termasuk ekonomi maju.

Dilihat secara geografis, delapan dari 10 negara terdermawan berada di Afrika dan dua lainnya di Asia. Di kelompok negara tersebut, 80 persen penduduknya rutin beramal—di atas rata-rata global 61 persen—dengan porsi sumbangan mencapai 2,1 persen dari pendapatan.

Donatur di negara berkembang juga menyalurkan hampir separuh dananya secara langsung kepada individu atau keluarga, sekitar 45 persen dari total donasi.

Di Jepang, Rata-Rata Donasi Hanya 0,2 Persen, Terendah di 105 Negara

Di sisi lain, Jepang mencatatkan proporsi donasi paling rendah dari total 105 negara yang disurvei. Rata-rata warga hanya mendonasikan 0,2 persen dari pendapatan mereka.

Kesenjangan ekonomi dengan Nigeria sangat kontras. Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita Jepang mencapai sekitar 28 kali lipat dibandingkan Nigeria.

Rendahnya proporsi donasi di Jepang sejalan dengan tingkat kepercayaan terhadap lembaga penyalur bantuan. Skor kepercayaan rata-rata tercatat 5 pada skala 10 untuk yayasan amal.

Pada 2025, hanya 15 persen warga Jepang yang secara spesifik menyalurkan donasinya melalui lembaga atau yayasan resmi.

Alasan Banyak Responden di Negara Berpendapatan Tinggi Tak Berdonasi

Survei juga mengungkap alasan terbanyak seseorang tidak beramal: dua dari lima responden (39 persen) menyatakan tidak memiliki kemampuan finansial.

Menariknya, responden di negara berpendapatan tinggi paling sering mengaku “tidak mampu beramal” (44 persen), lebih tinggi dibandingkan negara berkembang (37 persen).

Alasan populer kedua adalah preferensi pada metode bantuan non-tunai (17 persen), seperti menyumbang dalam bentuk barang, menjadi sukarelawan, atau menggalang dana (crowdfunding).

Rekomendasi