5 Cara Atasi Kolesterol Tinggi Usai Pesta Daging saat Iduladha
Konsumsi daging berlebihan saat Idul Adha dapat memicu kenaikan kolesterol. Kenali risikonya dan cara menjaga kesehatan tubuh.
Kolesterol merupakan zat yang diperlukan oleh tubuh, tetapi penting untuk menjaga agar kadarnya tetap dalam batas wajar agar tidak menimbulkan masalah kesehatan, seperti hipertensi dan risiko penyakit jantung. Salah satu faktor yang dapat meningkatkan kadar kolesterol adalah konsumsi daging secara berlebihan, terutama daging sapi dan kambing yang biasanya banyak tersedia saat perayaan Idul Adha.
Menurut penjelasan dari dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya, Firman, jika kadar kolesterol total dalam darah melebihi 200 mg/dl, maka dalam jangka panjang kolesterol tersebut dapat mengendap di dinding pembuluh darah.
"Akibatnya, aliran darah ke seluruh tubuh akan terhambat, sehingga jantung akan bekerja lebih keras agar darah dapat mengalir dengan baik, di sinilah hipertensi dimulai dan menyebabkan penyakit jantung," ungkap Firman.
Untuk menjaga kesehatan tubuh dan menurunkan kadar kolesterol setelah mengonsumsi daging serta makanan lain yang kaya kolesterol, ada beberapa langkah yang bisa diambil. Pertama, disarankan untuk berolahraga secara teratur antara 3 hingga 5 kali dalam seminggu. Aktivitas fisik yang dianjurkan meliputi program latihan yang mencakup setidaknya 30 menit dengan intensitas sedang, yang dapat membakar kalori sekitar 4 hingga 7 kkal per menit.
Olahraga yang direkomendasikan termasuk jalan cepat, lari, bersepeda, berenang, atau aktivitas lain yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing individu. Firman juga menekankan pentingnya tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat, karena hal tersebut justru dapat meningkatkan risiko gagal jantung.
Konsumsi Makanan Kaya Serat
Salah satu cara yang efektif untuk menurunkan kadar kolesterol adalah dengan mengonsumsi makanan yang kaya serat. Makanan yang tinggi serat, seperti biji-bijian utuh, roti gandum utuh, kacang-kacangan, serta sayuran berdaun hijau gelap, dapat membantu menurunkan kolesterol. Selain itu, kedelai yang mengandung isoflavon dan fitoestrogen juga bermanfaat dalam mencegah penyerapan kolesterol dalam tubuh. Dengan demikian, memperhatikan asupan serat dalam diet sehari-hari sangat penting untuk kesehatan jantung.
Selanjutnya, jangan sepelekan peran rempah-rempah dalam masakan Anda. Rempah-rempah seperti kunyit, cabai rawit merah, serai, dan jahe tidak hanya menambah cita rasa masakan, tetapi juga memiliki khasiat yang terbukti dalam menurunkan kadar kolesterol.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa penggunaan rempah-rempah ini secara teratur dapat memberikan manfaat kesehatan yang signifikan. Oleh karena itu, penting untuk memasukkan rempah-rempah ini ke dalam menu harian Anda.
Ketika mengonsumsi daging sapi, sebaiknya dikombinasikan dengan makanan yang kaya akan lemak tak jenuh atau kolesterol baik. Makanan seperti salmon, tuna, biji chia, alpukat, almond, kenari, dan minyak zaitun sangat efektif dalam menurunkan kolesterol jahat. Lemak tak jenuh ini dapat membantu menjaga keseimbangan kadar kolesterol dalam tubuh. Dengan cara ini, Anda dapat menikmati makanan yang lezat sekaligus mendukung kesehatan jantung.
“Terakhir, jika Anda diketahui menderita dislipidemia atau kadar kolesterol tinggi dalam darah. Selain dapat menerapkan beberapa metode di atas, jika kadar kolesterol tidak turun, terapi obat statin biasanya dianjurkan (simvastatin, lovastatin, atorvastatin, rosuvastatin, dan sebagainya),” ujar Firman.
Daging Kambing Lebih Baik dari Sapi
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa daging kambing tidak seharusnya disalahkan atas peningkatan tekanan darah dan kolesterol. Hal ini disebabkan karena lemak jenuh yang terdapat pada daging kambing jauh lebih rendah, yaitu tiga kali lipat dibandingkan dengan daging sapi. Dalam sebuah unggahan di Instagram yang dikutip oleh kanal Health Liputan6.com pada Rabu, 27 Mei 2026, Budi menyatakan bahwa dalam 100 gram daging kambing terdapat 0,8 gram lemak jenuh. Sebaliknya, daging sapi mengandung 3 gram lemak jenuh untuk jumlah yang sama.
Selain itu, kolesterol dalam daging kambing juga lebih rendah dibandingkan dengan daging sapi. Dalam 100 gram daging kambing, terdapat 64 mg kolesterol, sementara daging sapi mengandung 73 mg kolesterol. Dengan data tersebut, Budi meminta masyarakat untuk tidak menyalahkan daging kambing jika mereka mengalami peningkatan kolesterol atau tekanan darah tinggi. Menurutnya, penyebab dari masalah tersebut bukanlah daging kambing, melainkan cara pengolahan yang tidak sehat. "Daging kambing udah benar sehat, sama yang masak ditambah santan sebanyak ini, ditambah jeroan, garam yang banyak, gula yang banyak," ungkap Budi.
Cara Sehat Olah Daging Kambing
Oleh karena itu, Budi merekomendasikan agar daging kambing diolah tanpa menggunakan santan serta mengurangi penggunaan gula dan garam, seperti dalam sop kambing bening. "Sop kambing bening aja, cemplung-cemplung sayur deh," ungkap Budi di kolom komentar sebagai jawaban atas pertanyaan dari warganet.
Dalam kesempatan lain, Prof. Ronny Rachman Noor, seorang Guru Besar di bidang Genetika dan Pemuliaan Ternak Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), memberikan saran untuk menghilangkan lemak yang terdapat pada daging kambing sebelum memasaknya.
"Sebelum dimasak, dianjurkan untuk membuang lemak yang menempel pada daging guna memastikan kandungan lemak seminimal mungkin," ujarnya, seperti yang dikutip dari laman IPB.
Sejalan dengan pendapat Budi, Ronny menegaskan bahwa daging kambing termasuk dalam kategori daging merah yang sehat. Daging ini sering disebut sebagai chevon karena memiliki kandungan lemak yang lebih rendah, kepadatan protein yang lebih tinggi, serta profil kolesterol yang lebih baik dibandingkan dengan daging sapi dan domba.
Chevon juga mengandung lemak jenuh yang lebih sedikit dibandingkan daging merah lainnya, sehingga memberikan manfaat bagi kesehatan jantung. Namun, Ronny mengingatkan pentingnya untuk tidak mengonsumsi daging kambing secara berlebihan.