Harga Emas Global Melonjak Tajam 64 Persen Sepanjang 2025, Bakal Terulang Tahun 2026?
Kondisi ini menegaskan bahwa emas masih berada dalam tren naik yang solid dan bukan dalam fase pembalikan arah.
Harga emas di pasar internasional menutup tahun 2025 dengan performa yang sangat mengesankan. Sepanjang tahun tersebut, harga emas (XAU/USD) berhasil mencetak sekitar 50 rekor harga tertinggi baru.
Lonjakan terakhir terjadi pada Boxing Day, di mana harga spot mencapai sekitar USD 4.549,71 per ons, sebelum akhirnya stabil di rentang USD 4.300 hingga USD 4.310 hingga akhir tahun.
Dikutip dari Trading News, secara tahunan, harga emas mengalami kenaikan sekitar 64 persen, yang merupakan performa terbaik sejak akhir 1970-an. Meskipun pada pekan-pekan terakhir bulan Desember terjadi koreksi akibat minimnya likuiditas di libur akhir tahun dan kejenuhan tren, struktur teknikal mingguan masih menunjukkan adanya dukungan yang kuat di area USD 4.000 per ons.
Kondisi ini menegaskan bahwa emas masih berada dalam tren naik yang solid dan bukan dalam fase pembalikan arah.
Penguatan harga emas ini tidak terlepas dari adanya perubahan struktural di sektor keuangan global. Salah satu pendorong utama adalah implementasi Basel III, yang kini mengklasifikasikan emas fisik sebagai aset likuid berkualitas tinggi (Tier 1) dengan nilai penuh 100 persen dari harga pasar.
Sebelumnya, emas hanya dihitung 50 persen sebagai aset Tier 3. Kebijakan ini bagi perbankan besar mengubah emas dari sekadar instrumen lindung nilai menjadi agunan inti yang lebih efisien dari segi modal.
Selain itu, bank sentral di seluruh dunia juga terus meningkatkan kepemilikan emas mereka, yang semakin memperkuat posisi emas di pasar keuangan global.
Ketegangan dalam Geopolitik Mempengaruhi Perdagangan Global
Setelah bank sentral global membeli 1.136 ton emas pada tahun 2022, mereka terus melanjutkan akumulasi hingga tahun 2025. Pada kuartal ketiga, pembelian emas kembali mencapai puluhan ton, menunjukkan bahwa akumulasi ini akan berlanjut hingga tahun 2026.
Hal ini menjadikan permintaan dari sektor resmi sebagai faktor penopang harga emas secara struktural, sehingga level harga di atas USD 4.000 kini dianggap semakin kredibel secara fundamental.
Dari perspektif teknikal, pergerakan XAU/USD saat ini berada dalam fase konsolidasi setelah mengalami kenaikan yang signifikan. Harga emas sempat mencapai puncak di USD 4.549,71, namun kemudian mengalami koreksi ke sekitar USD 4.300 dan saat ini bergerak dalam pola segitiga lebar.
Proyeksi untuk jangka menengah masih menunjukkan arah menuju USD 4.800 per ons, asalkan harga dapat menembus zona resistensi di kisaran USD 4.500 hingga USD 4.550.
Faktor lain yang turut mendukung harga emas adalah meningkatnya ketegangan geopolitik dan situasi perdagangan global. Kebijakan tarif yang diberlakukan oleh Amerika Serikat kembali menekan nilai mata uang dan logam industri, sehingga mendorong para investor untuk beralih ke aset lindung nilai seperti emas.
Di Eropa, perdebatan mengenai kedaulatan cadangan devisa juga semakin mengangkat posisi emas sebagai simbol kemandirian strategis.
Jerman dan Italia tercatat memiliki sekitar 5.800 ton emas, yang nilainya mencapai USD 320 miliar pada akhir tahun 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar sepertiga cadangan emas Jerman, atau sekitar 1.200 ton, masih disimpan di Federal Reserve New York. Dorongan politik untuk memulangkan emas tersebut semakin menguat, menambah kompleksitas dalam dinamika pasar emas global.
Sistem Pembayaran Gunakan Emas Sebagai Dasar
Di Amerika Serikat, muncul kembali seruan untuk melakukan audit menyeluruh terhadap Fort Knox, yang menyimpan sekitar 147 juta ons emas. Isu ini semakin memperkuat pandangan bahwa emas berfungsi sebagai agunan bagi kedaulatan suatu negara.
Sementara itu, negara-negara BRICS mulai mempertimbangkan sistem pembayaran alternatif yang berbasis emas, dengan tujuan mengurangi ketergantungan mereka pada dolar AS.
Dari sisi pasokan, sektor pertambangan mengalami berbagai gangguan. Di Mali, terjadi konflik antara Barrick dan pemerintah yang mengakibatkan penyitaan sekitar 35.000 ons emas senilai USD 117 juta, serta penghentian sementara operasi tambang.
Di Burkina Faso, pemerintah meningkatkan tuntutan kepemilikan negara di tambang baru, yang menambah risiko fiskal. Situasi ini semakin memperkuat premi kelangkaan emas fisik.
Pengalaman Zimbabwe dengan mata uang Zig juga menjadi contoh emas berfungsi sebagai jangkar moneter. Mata uang tersebut didukung oleh emas dan cadangan mineral, sementara bank sentral menerapkan kebijakan moneter ketat untuk menjaga stabilitas.
Bagi investor global, eksposur terhadap tema moneter emas lebih praktis dilakukan melalui instrumen likuid seperti SPDR Gold Trust (GLD).
Ke depan, arah kebijakan The Fed tetap menjadi faktor kunci yang harus diperhatikan. Meskipun suku bunga telah dipangkas tiga kali pada tahun 2025, inflasi yang masih bertahan di kisaran 3,8 persen membuat emas tetap sensitif terhadap dinamika suku bunga riil.
Dalam situasi volatilitas global yang tinggi, emas masih dianggap memiliki daya tarik sebagai aset lindung nilai utama hingga tahun 2026.