Jelang Muktamar ke-35, Muncul Kritik soal Arah dan Marwah Jam’iyyah NU
Salah satunya datang dari KH Muhammad Shofwan Taj atau yang dikenal sebagai Lora Shofwan, Pengasuh PP Sembilangan, Bangkalan, Madura.
Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) pada awal Agustus 2026, sejumlah pandangan kritis mulai mencuat terkait arah dan dinamika internal organisasi. Salah satunya datang dari KH Muhammad Shofwan Taj atau yang dikenal sebagai Lora Shofwan, Pengasuh PP Sembilangan, Bangkalan, Madura.
Dalam pandangannya, dinamika yang terlihat selama pelaksanaan Konferensi Besar (Konbes) dan Musyawarah Nasional (Munas) NU di Ploso, Kediri, pada 20–22 Juni 2026 menjadi cerminan kondisi internal organisasi yang menurutnya tengah menghadapi tantangan menjaga marwah dan nilai-nilai jam’iyyah.
Lora Shofwan menilai terdapat gejala pergeseran budaya organisasi yang ditandai menguatnya praktik-praktik yang dianggap tidak sejalan dengan etika dan tradisi NU. Ia menggunakan istilah “preman organisasi” untuk menggambarkan pihak-pihak yang dinilai bertindak tanpa mengedepankan adab berorganisasi serta lebih mengutamakan kepentingan kelompok maupun ambisi pribadi.
"Fenomena tersebut terlihat dalam dinamika sidang pleno Konbes dan Munas. Di hadapan para masyayikh dan sesepuh pesantren, muncul ekspresi yang menurut saya jauh dari tradisi adab dan unggah-ungguh santri," ujar Lora Shofwan.
Peserta dari Kalangan Muda
Menurut dia, kondisi tersebut tidak hanya diperlihatkan oleh peserta dari kalangan muda, tetapi juga melibatkan tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh besar di lingkungan NU. Ia mengingatkan bahwa pola perilaku seperti itu berpotensi menjadi contoh yang diikuti generasi berikutnya.
Lebih lanjut, Lora Shofwan menilai pragmatisme dan orientasi kepentingan telah mulai memengaruhi sebagian struktur organisasi. Ia menyebut keberadaan para masyayikh dan sesepuh pesantren semestinya tetap menjadi rujukan moral dalam kehidupan berjam’iyyah.
Dalam pandangannya, peringatan mengenai pentingnya menjaga arah organisasi juga pernah disampaikan oleh pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. Lora Shofwan mengutip pandangan yang termuat dalam kitab Tanbih an-Nahdliyyin terkait pentingnya kepemimpinan yang mengutamakan kemaslahatan jam’iyyah dibanding kepentingan pribadi.
Hubungan Antara Organisasi
Ia juga menyoroti hubungan antara organisasi dan kekuasaan politik. Menurutnya, NU perlu menjaga posisi sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan agar tetap mampu menjalankan fungsi sosial dan menjadi ruang bersama bagi warga nahdliyin.
Lora Shofwan menilai keterlibatan pengurus organisasi dalam jabatan politik atau kekuasaan perlu menjadi bahan refleksi menjelang Muktamar. Ia merujuk pada keputusan Muktamar NU tahun 1954 yang pernah menegaskan pentingnya menghindari konflik kepentingan dalam kepemimpinan organisasi.
Muktamar ke-35 NU mendatang diperkirakan menjadi momentum penting bagi organisasi untuk menegaskan kembali arah gerak, memperkuat konsolidasi internal, serta menjawab berbagai kritik dan aspirasi yang berkembang di kalangan warga nahdliyin.