Kabar mengenai pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 pada tahun 2026 di Situbondo, Jawa Timur, semakin menguat. Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo disebut-sebut akan kembali menjadi lokasi perhelatan akbar ini. Kesiapan Situbondo sebagai tuan rumah Muktamar NU ke-35 mendapat respons spiritual dari Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy.
Kiai Azaim, cucu dari KHR As'ad Syamsul Arifin yang merupakan tokoh kunci pendirian NU, menanggapi kabar tersebut dengan kalimat zikir, "Bismillah maa sya Allah laa hawla quwwata illa billahil aliyyiladhim", atau bisa diartikan "Dengan nama Allah, Mahasuci Allah, tiada daya dan upaya, kecuali kekuatan Allah". Pernyataan ini menegaskan sikap rendah hati serta mengakui tak ada kekuatan yang mampu melampaui ketetapan-Nya.
Selain respons spiritual, dukungan konkret juga datang dari Pemerintah Kabupaten Situbondo, yang menyatakan kesiapan penuh untuk mendukung Muktamar. Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, telah mengusulkan daerahnya sebagai tuan rumah dalam berbagai kesempatan. Kesiapan Situbondo untuk Muktamar NU ke-35 ini didasari pada legitimasi historis dan kesiapan sosial yang kuat.
Advertisement
Advertisement
Situbondo memiliki keterkaitan historis yang kuat dengan Nahdlatul Ulama, yang diperkuat oleh peran para ulama setempat. KHR Ahmad Azaim Ibrahimy turut serta dalam tapak tilas berdirinya NU, sebuah perjalanan ziarah ke makam Syaikhona Muhammad Kholil di Bangkalan, dilanjutkan ke makam Sunan Ampel, dan Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang. Kegiatan ini bertujuan mengenang perjuangan pahlawan nasional KHR As'ad Syamsul Arifin, yang menjadi perantara pesan dari Syaikhona Kholil Bangkalan kepada KH Hasyim Asy'ari, cikal bakal berdirinya NU pada 31 Januari 1926.
Peran Kiai As'ad dalam mengantarkan tongkat, ayat Alquran, tasbih, serta ajaran Asmaul Husna dari Syaikhona Kholil Bangkalan kepada KH Hasyim Asy'ari mengandung pesan petunjuk direstuinya pendirian organisasi NU. Tapak tilas ini menjadi momen penting untuk menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah dan spiritual, serta perjuangan para ulama pendiri NU. Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo sendiri memiliki rekam jejak panjang sebagai tuan rumah muktamar NU.
Pesantren di Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih, ini pernah menjadi tuan rumah Muktamar ke-27 NU pada tahun 1984. Muktamar tersebut melahirkan keputusan monumental, yakni penerimaan Pancasila sebagai azas tunggal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. "Situbondo punya sejarah penting bagi NU, terutama muktamar ke-27 di Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, yang melahirkan keputusan besar tentang Pancasila. Spirit itu masih hidup dan dirawat, hingga saat ini," kata Bupati Rio.
Advertisement
Advertisement
Kabar pelaksanaan Muktamar ke-35 NU yang akan dihelat di Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo makin menguat seiring munculnya dukungan dari Pemerintah Kabupaten Situbondo. Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengaku telah mengusulkan Situbondo sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 NU dalam berbagai kesempatan, baik formal maupun informal.
Pemerintah daerah menyatakan kesiapannya untuk mendukung penuh apabila Situbondo dipercaya menjadi tuan rumah Muktamar NU tahun ini. Dukungan tersebut mencakup kesiapan infrastruktur, koordinasi lintas sektor, hingga pelibatan masyarakat pesantren dan warga Nahdliyin. "Tentu kami bergembira jika Muktamar NU dilaksanakan di Situbondo, dan kami sangat siap. Pengalaman sejarah tahun 1984 menunjukkan Situbondo pernah menjadi bagian dari dinamika besar NU, mudah-mudahan kali ini Situbondo kembali dipercaya," ujarnya.
Penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU di Situbondo diharapkan membawa dampak positif bagi penguatan nilai-nilai kebangsaan, persatuan, serta perekonomian masyarakat lokal. Selain itu, muktamar ini menjadi ruang untuk memperkuat ukhuwah dan peran NU dalam menjawab tantangan zaman. Pemerintah daerah berkewajiban memastikan semuanya berjalan dengan baik, mengingat Muktamar NU bukan sekadar agenda organisasi, tetapi momentum kebangsaan dan keumatan.
Advertisement
Advertisement
Rektor Universitas Ibrahimy Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Dr. Khoirul Anwar, menilai usulan Muktamar ke-35 NU di Situbondo sangat tepat karena memiliki sejarah penting dalam perjalanan NU. Muktamar ke-35 berada dalam posisi strategis, karena akan menjadi ruang pengukuhan peran serta fungsi organisasi di tengah dinamika sosial kebangsaan.
Secara teknis dan pengalaman, Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo siap jika ditunjuk kembali menjadi tuan rumah muktamar NU. Selain pernah menjadi tuan rumah muktamar, kawasan tersebut juga kerap menggelar berbagai agenda berskala nasional hingga internasional.
Jika muktamar kembali digelar di Situbondo, dampaknya tidak hanya dirasakan secara organisatoris, tetapi juga memperkuat ukhuwah di kalangan warga NU. Selain itu, kegiatan ini akan memberi efek ekonomi positif bagi masyarakat sekitar, serta secara jam’iyah dan ukhuwah, masyarakat santri akan menyatu membantu, baik secara lahir maupun batin.
Advertisement
Sumber: AntaraNews