Menjaga NU di NTT Bukan Perkara Mudah, Gus Salam: Ada Beban Ganda yang Harus Dipikul
DBagi sebagian pengurus cabang, perjalanan menuju Kupang sebagai pusat pemerintahan provinsi dapat memakan waktu lebih dari satu hari.
Menjalankan roda organisasi Nahdlatul Ulama (NU) di Nusa Tenggara Timur (NTT) bukan sekadar aktivitas kelembagaan, tetapi menjadi bagian dari pengabdian yang menuntut ketangguhan. Di wilayah kepulauan yang memiliki karakter geografis menantang, para pengurus NU harus menghadapi realitas jarak, keterbatasan transportasi, hingga kebutuhan menjaga kehidupan sosial yang harmonis di tengah keberagaman.
Bagi sebagian pengurus cabang, perjalanan menuju Kupang sebagai pusat pemerintahan provinsi dapat memakan waktu lebih dari satu hari. Dalam kondisi tertentu, akses transportasi yang terbatas bahkan membuat mereka harus menunggu beberapa hari hanya untuk kembali ke daerah asal.
Di tengah tantangan tersebut, penguatan organisasi menjadi perhatian penting. NU di NTT dinilai perlu tumbuh dengan fondasi yang kokoh agar mampu menjawab dinamika sosial, keagamaan, dan perkembangan zaman yang terus berubah.
Menyampaikan Gagasan
Situasi itu menjadi salah satu perhatian dalam agenda silaturahmi yang dihadiri kandidat calon Ketua Umum PBNU, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam. Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur tersebut hadir bersama sejumlah masyayikh pesantren Ploso Kediri untuk berdialog dengan jajaran PWNU dan PCNU se-NTT.
Pertemuan yang berlangsung di Hotel Neo Aston Kupang, Minggu (7/6/2026), menjadi ruang berbagi pengalaman antarwilayah. Sejak siang hari, sejumlah pengurus cabang dari berbagai pulau telah tiba untuk mengikuti agenda yang digelar pada malam hari tersebut.
Sebelum forum dimulai, Gus Salam menegaskan bahwa kunjungannya bukan hanya untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga mendengar langsung pengalaman dan kebutuhan organisasi di daerah.
"kami hormat dan ta’dhim kepada semua pengurus cabang di NTT yang hadir. Kami ingin mendengar dari mereka tentang apapun terkait jam’iyyah Nahdlatul Ulama di lingkungan mereka," kata Gus Salam jelang pertemuan.
"terutama harapan mereka ke depan untuk meningkatkan peran keagamaan dan organisasi, di tengah tantangan dan peluang yang ada," sambungnya.
Ruang Penguatan Masyarakat
Dalam pemaparannya, Gus Salam menekankan pentingnya keberadaan pesantren sebagai pusat pembentukan karakter sekaligus ruang penguatan masyarakat. Menurutnya, pesantren memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan sosial dan menjaga nilai-nilai kebangsaan.
“didalam pesantren dibangun ketahanan nasional; ditanamkan kepribadian luhur, menjaga kesatuan, cinta masyarakat, agama, dan bangsa serta dari pesantren pula tumbuh para penggerak kemashlahatan umat,” ungkap Gus Salam.
Ia juga menilai tradisi pesantren selama ini tidak hanya melahirkan tokoh agama, tetapi turut membentuk masyarakat yang mandiri secara ekonomi dan sosial.
“untuk bekal sosial, didalam pesantren juga diteladankan kemandirian. Sehingga, dari pesantren tumbuh pedagang, pengusaha, petani tangguh dan wiraswasta hebat. Bilapun dari pesantren ada pejabat dan tokoh nasional, itu kemampuan mereka beradaptasi dengan tantangan dan peluang,” sambungnya.
Sesi dialog menjadi momen bagi pengurus cabang menyampaikan kondisi nyata yang mereka hadapi. Salah satu perhatian utama yang muncul adalah bagaimana menjaga eksistensi NU di tengah masyarakat yang plural serta memperkuat pendidikan berbasis pesantren di wilayah Indonesia Timur.
Menjaga dan Memlihara NU
Ketua PCNU Kabupaten Alor, Kiai Latif Daka, berharap kepengurusan PBNU mendatang dapat memperluas perhatian terhadap daerah di luar Pulau Jawa.
“Harapannya, PBNU turut menjaga dan memlihara NU, merangkul, dan memiliki kepedulian terhadap pengurus NU yang di luar Jawa, terkhusus di NTT. Dan, berharap NU di di NTT bisa memiliki pondok pesantren, sama seperti di Jawa,” kata Kiai Latif Daka, sambil berharap.
Harapan serupa juga disampaikan Kiai Zainal Muttaqin dari PCNU Malaka yang menyoroti pentingnya penguatan sektor pendidikan.
“Saya juga berharap, Ketua Umum PBNU ke depan bisa mengembalikan marwah NU, dan merangkul PCNU di luar Jawa, khususnya dalam mengembangkan program di bidang pendidikan,” ungkap Kiai Zainal Muttaqin.
Sejumlah peserta lain turut menyampaikan apresiasi terhadap pendekatan dialog yang dibangun dalam forum tersebut. Mereka menilai pembahasan yang disampaikan lebih menitikberatkan pada gagasan organisasi dibanding narasi konfrontatif.
“paparan Gus Salam tidak menyudutkan siapapun dan tidak ada black campaign. Saya apresiasi dorongan program pondok pesantren di NTT, dan syukur-syukur ada program pesantren gratis,” kata Ust. Ajiz Anwar, PCNU Kota Kupang.
Menutup rangkaian dialog, Gus Salam mengajak seluruh pengurus dan warga NU untuk terus memperkuat peran organisasi sebagai perekat sosial di tengah masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya menjaga semangat toleransi dan memperkuat kehidupan bersama di wilayah yang memiliki keragaman tinggi seperti NTT.