Kisah Pilu Sopir Truk di Trans Papua: 4 Bulan Terjebak Lumpur hingga Bikin 'Kampung Dadakan'
Sebuah video perjalanan lintas Jayapura-Wamena yang diunggah kanal YouTube Kabut Mulia mengungkap realita keras tersebut.
Di balik megahnya pembangunan infrastruktur, terselip kisah perjuangan para sopir logistik yang bertaruh nyawa di Jalan Trans Papua. Medan yang ekstrem membuat mereka harus rela 'ditelan' hutan belantara selama berbulan-bulan demi mengantarkan kebutuhan pokok.
Sebuah video perjalanan lintas Jayapura-Wamena yang diunggah kanal YouTube Kabut Mulia mengungkap realita keras tersebut. Di titik yang dikenal sebagai 'Jembatan Bolong', antrean truk mengular panjang, tak bisa bergerak karena kondisi jalan yang hancur lebur menjadi bubur tanah.
Dalam video tersebut, seorang sopir truk yang dipanggil Pak De mengaku sudah tertahan di lokasi tersebut dalam waktu yang tak masuk akal bagi orang awam.
"Pak De kamu sudah berapa lama di sini? 4 bulan," ujar perekam video kaget mendengar jawaban sang sopir dalam tayangan YouTube Kabut Mulia.
Saking lamanya terjebak tanpa kepastian, para sopir ini berseloroh bahwa mereka sudah mendirikan kampung sendiri di tengah hutan belantara tersebut.
"Jadi itu, jadi rumah itu ya kami bikin kampung sudah di sini satu. Kami pilih kepala kampung toh. Namanya Desa Bolong," cerita Pak De.
Bertaruh Nyawa demi Sembako
Para sopir ini adalah penyambung hidup bagi masyarakat di wilayah pegunungan, seperti Papua Pegunungan dan Papua Tengah. Muatan mereka berisi sembako dan bahan bangunan yang sangat dinanti warga.
Namun, tantangan yang dihadapi bukan main-main. Selain cuaca ekstrem yang membuat tanah longsor dan jalanan berubah jadi sungai lumpur, mereka juga kerap dihantui potensi gangguan keamanan di wilayah rawan konflik.
"Meninggalkan keluarga, anak, istri, bertaruh nyawa dengan peradaban baru di tengah pedalaman Papua," ungkap dalam video tersebut menggambarkan pengorbanan mereka.
Meski kondisi jalan Trans Papua diklaim sudah 70 persen membaik, titik-titik krusial seperti Jembatan Bolong masih menjadi mimpi buruk yang memaksa para pejuang logistik ini memarkirkan hidup mereka di tengah hutan, menunggu jalan bisa dilalui.
Reporter magang : Muhammad Naufal Syafrie