Kasus perundungan yang dialami seorang bocah sekolah dasar berinisial RS (11) di Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatra Selatan, berakhir melalui penyelesaian damai. Kesepakatan tersebut dicapai setelah orang tua para pelaku menyatakan kesediaannya untuk bertanggung jawab atas biaya pengobatan korban serta menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.
Kasat Perlindungan Perempuan dan Anak dan Pemberantasan Perdagangan Orang (PPA dan PPO) Polres Muratara Ipda Riri Nabila Pradani mengungkapkan, perdamaian antara masing-masing pihak dimediasi kepala desa setempat dan kepolisian. Terungkap pelaku perundungan berjumlah lima terdiri dari empat siswa SMP dan satu siswa SD.
"Ya, sudah ada kesepakatan damai antara masing-masing pihak. Artinya kasus ini tidak bisa diproses secara hukum," ungkap Kasat PPA dan PPO Polres Muratara Ipda Riri Nabila Pradani, Minggu (14/6/20).
Advertisement
Dalam kesempatan damai itu, keluarga para pelaku bertanggungjawab seluruh biaya pengobatan korban. Diketahui, korban mengalami luka cukup parah di bagian kepala akibat terkena pukulan dan tendangan saat pengeroyokan terjadi.
"Seluruh biaya pengobatan ditanggung keluarga kelima pelaku," kata Riri.
Untuk mencegah kejadian serupa terulang, polisi mengimbau orangtua, tenaga pendidik, dan masyarakat memberikan edukasi bahaya bully atau perundungan terhadap anak. Semua pihak harus menghentikan jika mendapati terjadinya tindakan itu di sekitar.
"Bully atau perundingan tidak bakal terjadi jika ada pengawasan dari orangtua. Untuk para pelaku kita lakukan pembinaan agar tidak lagi mengulangi perbuatannya," kata Riri.
Advertisement
Diberitakan sebelumnya, kasus perundungan yang melibatkan anak di bawah umur kembali terjadi di Sumsel. Kali ini dialami seorang bocah SD inisial RS (11) yang dikeroyok sejumlah siswa SMP.
Kasus perundungan itu viral setelah videonya viral di media sosial. Belakangan diketahui peristiwa itu terjadi di sekitar lingkungan sekolah di Desa Sungai Lanang, Rawas Ulu, Musi Rawas Utara (Muratara), Selasa (2/6).
Dalam video berdurasi sekitar satu menit itu, korban dikeroyok beberapa pelaku yang merupakan teman main. Salah seorang pelaku memiting leher korban dan pelaku lain memukuli dan menendangi korban berkali-kali.
Pukulan dan tendangan pelaku nyaris semuanya mengenai kepala korban. Korban tak bisa melawan sedikit pun ketika menjadi bulan-bulanan para pelaku.
Seseorang mendekat untuk melerai. Namun korban kembali mendapat serangan dari pelaku lain.
Korban menangis sejadinya karena merasakan sakit. Para pelaku memilih menghindar sambil memaki korban.
Advertisement
Saat perundungan terjadi, perekam video melarang anak-anak lain untuk melerai. Alhasil mereka hanya menyaksikan korban dipukuli dan ditendang oleh para pelaku.
"Korban adalah siswa SD dan para pelaku dikabarkan siswa SMP. Kejadiannya di lingkungan sekolah, tapi bukan jam belajar," ungkap Kapolsek Rawas Ulu Iptu Hari Soeharto, Jumat (12/6).
Hari mengatakan, keluarga belum membuat laporan resmi ke kepolisian karena masih fokus dalam perawatan korban. Sebab usai kejadian korban mengeluhkan sakit kepala hebat dan di bagian telinga.
"Kemarin korban dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan CT scan karena sering mengeluhkan sakit kepala dan telinga berdengung," kata Hari.