Karangan Bunga Sindiran Warnai Aksi Demo Mahasiswa di Depan DPR
BEM SI Kerakyatan Jakarta membawa karangan bunga bernada satire untuk Prabowo-Gibran dan DPR saat aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR RI.
Aksi unjuk rasa mahasiswa di depan Gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, Senin (15/6/2026), diwarnai aksi simbolik berupa pemasangan karangan bunga berisi kritik terhadap pemerintah dan DPR RI.
Massa dari BEM SI Kerakyatan Wilayah Jakarta tiba di kawasan Senayan sekitar pukul 15.43 WIB setelah melakukan long march dari kawasan Gerbang Pemuda menuju gerbang utama DPR/MPR.
Selain membawa spanduk dan poster tuntutan, sejumlah mahasiswa juga menggotong dua karangan bunga berukuran besar yang langsung menarik perhatian peserta aksi dan pengguna jalan.
Salah satu karangan bunga ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Selamat atas kegagalan Rezim Prabowo-Gibran,” demikian tulisan yang tertera pada karangan bunga tersebut.
Karangan bunga lainnya ditujukan kepada DPR RI dengan tulisan, “Selamat atas gagalnya kinerja DPR RI.”
Kedua karangan bunga kemudian ditempatkan di depan gerbang utama kompleks parlemen.
Koordinator Daerah BEM SI Kerakyatan Jakarta, Farizal, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk penyampaian aspirasi atas berbagai persoalan yang dinilai belum terselesaikan.
“Kami di sini menyampaikan aspirasi masyarakat. Hari ini kami meminta Presiden Prabowo dan seluruh jajarannya berhenti membual dan mengakui kegagalannya,” kata Farizal.
Menurut dia, mahasiswa menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah yang dianggap berdampak pada kondisi ekonomi masyarakat.
DPR Dinilai Tidak Jalankan Fungsi Pengawasan
Selain menyampaikan kritik kepada pemerintah, massa aksi juga menyoroti peran DPR RI yang dinilai tidak maksimal dalam menjalankan fungsi pengawasan.
“Kami merasa DPR satu bulan ini tidak bekerja. DPR tidak menunjukkan sikap pro terhadap rakyat. Ketika ada kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, DPR diam,” ujarnya.
Farizal menilai sikap tersebut tidak mencerminkan fungsi lembaga legislatif sebagai representasi masyarakat.
“Diam adalah sebuah pengkhianatan kepada masyarakat,” tegasnya.
Hingga sore hari, aksi mahasiswa di depan Gedung DPR/MPR RI masih berlangsung dengan pengamanan aparat kepolisian.