Rupiah Menguat Tajam di Pembukaan Perdagangan, Isyarat AS Tak Serang Greenland Jadi Pemicu
Rupiah menguat tajam di awal perdagangan Jumat, dipicu isyarat Presiden AS Donald Trump tak serang Greenland. Ini memberikan angin segar bagi pasar keuangan global.
Nilai tukar Rupiah menunjukkan penguatan signifikan pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Jumat (23/1). Mata uang Garuda berhasil menguat 49 poin atau 0,29 persen, mencapai level Rp16.847 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.896 per dolar AS. Penguatan ini memberikan sinyal positif bagi kondisi pasar keuangan domestik di tengah dinamika global.
Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjandra, menjelaskan bahwa penguatan kurs Rupiah ini salah satunya didorong oleh isyarat dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Isyarat tersebut berkaitan dengan keputusannya untuk tidak menggunakan kekuatan militer dalam upaya mengakuisisi Greenland.
Selain itu, sentimen positif juga datang dari pergerakan indeks saham. Indeks saham Asia terpantau positif pada pagi hari, mengikuti tren positif yang terjadi pada indeks saham Amerika Serikat semalam, yang turut mendukung penguatan mata uang pasar berkembang terhadap dolar AS.
Sentimen Global Dorong Penguatan Rupiah
Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menepis penggunaan kekuatan militer demi merebut Greenland menjadi salah satu faktor utama yang memberikan dampak positif. Trump menyatakan tidak akan mengakuisisi wilayah Arktik semi-otonom tersebut melalui jalur militer, seperti dikutip dari Kyodo-OANA.
Tidak hanya itu, Trump juga mencabut ancaman untuk mengenakan tarif sebesar 10 persen terhadap barang dari delapan negara Eropa. Ancaman tarif ini sebelumnya muncul menyusul penolakan negara-negara tersebut terhadap upaya Trump mengambil alih Greenland dari Denmark, yang kini telah ditarik kembali.
Perkembangan positif dari Amerika Serikat ini menciptakan suasana yang lebih kondusif di pasar global. Hal ini terlihat dari penguatan beberapa nilai tukar mata uang emerging market terhadap dolar AS, termasuk Rupiah, yang menunjukkan respons positif dari investor.
Batasan dan Tantangan Rupiah di Tengah Kebijakan Domestik
Meskipun ada angin segar dari pernyataan Trump, Ariston Tjandra memperkirakan bahwa penguatan kurs Rupiah kemungkinan akan terbatas. Rentang penguatan diperkirakan hanya akan berada di kisaran Rp16.780 hingga Rp16.800 per dolar AS.
Tekanan terhadap Rupiah masih dinilai cukup besar, terutama karena kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang masih cenderung longgar. Selain itu, stimulus besar-besaran yang diberikan pemerintah untuk perekonomian juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Situasi bencana alam yang berpotensi meredam pertumbuhan ekonomi juga menjadi tantangan. Ariston menambahkan, jika Bank Indonesia memangkas suku bunga lagi atau terus memberikan indikasi pelonggaran, bank sentral kemungkinan tidak akan kuat menahan pelemahan Rupiah.
Keputusan BI untuk menahan suku bunga acuan atau BI-Rate tetap pada level 4,75 persen dianggap sebagai langkah yang sewajarnya. Langkah ini penting untuk menjaga stabilitas mata uang di tengah berbagai tekanan ekonomi baik dari dalam maupun luar negeri.
Sumber: AntaraNews