Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menawarkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk menanamkan investasi di proyek industri kesehatan. Tawaran itu dilayangkan lantaran Menkes meyakini bahwa Danantara memiliki kecukupan modal untuk turut menggerakkan sektor industri kesehatan nasional.
"Kita akan membuka proyek-proyek investasi baru ke Danantara juga. Karena Danantara kan punya banyak dana yang dia mau bisa taruh kan. Nah, kesempatannya untuk develop industri kesehatan itu besar," ujarnya di Kantor Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Jakarta, Rabu (24/6).
Salah satu proyek yang telah disodorkan yakni pabrik fraksionasi plasma darah di Karawang International Industrial City, yang dibangun oleh perusahaan biofarmasi Koreal Selatan (Korsel) SK Plasma dan Indonesia Investment Authority (INA).
"Investasi yang plasma ini, yang masuk kan INA kan, Indonesia Investment Authority. Nah, sekarang kan INA strukturnya bersinergi dengan Danantara ya. Jadi Danantara sekarang dalam diskusi untuk masuk ke sana," terangnya.
Selain dengan Danantara, Menkes mengatakan, pihaknya telah membagikan rencana pengembangan proyek tersebut kepada sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.
"Sudah, sudah di-share dengan Kadin segala macam. Itu ada bukunya tuh khusus, dibikin dengan World Bank dan Kadin," ungkap Menkes Budi.
Advertisement
Pada kesempatan sama, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin juga berkomitmen keras untuk mempercepat hilirisasi industri farmasi, untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut dia, target pertumbuhan 8 persen jadi sesuatu yang harus dikejar sesegera mungkin. Lantaran ia tidak ingin kehilangan kesempatan emas pada saat Indonesia mengalami ledakan populasi generasi produktif, alias bonus demografi.
"Karena kalau enggak kita kehilangan windows of opportunity pada saat puncak bonus demografi kita, dan kita akan kehilangan kesempatan untuk bisa jadi negara maju yang income-nya itu harus 14 ribu dolar GNI per capita," ujarnya.
Advertisement
"Sekali udah kehilangan, udah lose momentum, kita akan middle income forever," kata Budi Gunadi Sadikin seraya mengingatkan.
Menkes pun telah membujuk Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan, agar alokasi anggaran untuk belanja kesehatan bisa lebih dihemat. Lantaran negara bisa menghabiskan hingga 16 persen dari porsi anggaran hanya untuk impor produk kesehatan.
"Memang semua belanja ini belum tertranslasikan jadi pertumbuhan ekonomi di sektor kesehatan, karena sebagian besar masih impor. Jadi yang enjoy GDP growth dan job growth-nya itu di negara lain," tegas dia.