Kurs Rupiah Melemah Nyaris Sentuh Rp18.000 per USD, Dipicu Penyerangan AS ke Iran

Sentimen lainnya berasal dari data cadangan devisa (cadangan devisa) Indonesia yang meningkat.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Kurs Rupiah Melemah Nyaris Sentuh Rp18.000 per USD, Dipicu Penyerangan AS ke Iran
Batas pembelian dolar AS tanpa underlying akan diturunkan dari semula 50.000 menjadi 25.000 dolar AS per orang per bulan. Tampak dalam foto, karyawan menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di salah satu gerai penukaran mata uang asing, Jakarta, Rabu (5/5/2026). (Kapanlagi.com/Budy Santoso)

Nilai tukar atau kurs rupiah pada Rabu pagi bergerak melemah 4 poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.984 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.980 per dolar AS

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong memperkirakan eskalasi geopolitik di Timur Tengah (Timteng) bisa menekan rupiah.

"Penyerangan besar AS ke Iran sebagai balasan atas serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz,” ucapnya dikutip dari Antara, Rabu (8/7).

Mengutip Sputnik, Amerika Serikat melancarkan serangkaian serangan baru ke Iran, dengan Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut operasi tersebut adalah untuk merespons serangan Iran terhadap tiga kapal dagang di Selat Hormuz.

Adapun pada Selasa (7/7), laporan media nasional Iran IRIB menyebutkan sebuah kapal Qatar, Al-Rekayyat, berusaha melewati Selat Hormuz melalui jalur Oman dengan dukungan Angkatan Laut AS. Tetapi, kapal tersebut menjadi sasaran serangan setelah sejumlah peringatan disampaikan.

Sentimen lainnya berasal dari data cadangan devisa (cadangan devisa) Indonesia yang meningkat.

Posisi Cadangan Devisa

Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadev Indonesia pada akhir Juni 2026 mencapai USD 145,6 miliar, naik tipis sebesar USD 700 juta dari posisi akhir Mei 2026 yang sebesar USD 144,9 miliar. Perkembangan posisi cadangan devisa pada Juni 2026 terutama didorong oleh penerimaan pajak dan jasa.

Di sisi lain, perkembangan tersebut terjadi di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah oleh Bank Indonesia sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

Posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2026 setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

"Namun, investor masih mengantisipasi indeks kepercayaan konsumen siang ini yang diperkirakan akan naik ke 125,”"ungkap Lukman.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar Rp17.950-Rp18.050 per USD.

Rekomendasi