Kemiskinan ekstrem masih mencengkeram sejumlah negara meski bumi memiliki sumber daya yang memadai untuk kehidupan layak. Negara termiskin seperti Burundi, Republik Afrika Tengah, dan Sudan Selatan bergulat dengan keterbatasan yang terus berulang dari tahun ke tahun.
Situasi ini dipicu kombinasi faktor saling terkait, mulai dari korupsi, jejak kolonialisme, konflik berkepanjangan, kondisi iklim ekstrem, hingga krisis utang yang membatasi investasi pada pendidikan dan pertumbuhan ekonomi. Krisis global—pandemi Covid-19, inflasi, gangguan rantai pasok pangan akibat perang Rusia–Ukraina, serta dinamika konflik di Timur Tengah—ikut memperburuk tekanan.
Di saat yang sama, pemangkasan bantuan internasional—termasuk dampak kebijakan penghentian USAID oleh Amerika Serikat—dan terbatasnya jaring pengaman sosial memperbesar risiko bagi populasi rentan. Dikutip dari Global Finance, Senin (24/8/2026), berikut pemetaan kesenjangan dan daftar 10 negara termiskin di dunia.
Advertisement
Kesenjangan Pendapatan Kian Lebar
IMF mencatat jarak antara negara kaya dan miskin kian melebar. Ke depan, tantangan seperti perubahan iklim dan ketimpangan akses terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) berpotensi memunculkan bentuk ketidaksetaraan baru.
Ketimpangan tampak mencolok saat diukur menggunakan Paritas Daya Beli (PPP) yang memperhitungkan biaya hidup dan inflasi. Rata-rata daya beli per kapita tahunan di 10 negara terkaya melampaui US$ 121.000, sedangkan di 10 negara termiskin hanya sekitar US$ 1.700.
Di banyak negara rapuh, kombinasi beban utang, suku bunga tinggi, serta minimnya investasi menahan pemulihan dan menciptakan siklus kemiskinan yang berulang.
Advertisement
Daftar 10 Negara Termiskin 2026 Versi Global Finance
Berikut daftar 10 negara termiskin di dunia berdasarkan Global Finance per Senin (24/8/2026). Setiap negara disertai konteks terbaru untuk menggambarkan faktor yang menghambat perbaikan kesejahteraan.
10. Kongo
Sejak merdeka dari Belgia pada 1960, Kongo mengalami puluhan tahun pemerintahan diktator, gejolak politik, dan kekerasan berlanjut, termasuk pemberontakan M23 dan jatuhnya Goma pada awal 2025 yang memperparah krisis kemanusiaan. Infrastruktur yang tidak memadai serta korupsi mengikis kepercayaan publik dan menahan pemanfaatan kekayaan alam—mulai dari cadangan mineral, hutan luas, potensi tenaga air, hingga lahan subur. Kongo adalah produsen kobalt terbesar di dunia dan produsen tembaga terbesar di Afrika, dua komponen penting bagi industri kendaraan listrik, sehingga berpotensi menjadi negara terkaya di Afrika menurut World Bank.
9. Madagaskar
Sejak merdeka pada 1960, Madagaskar kerap dilanda gejolak politik, pemilu yang dipersengketakan, dan kudeta disertai kekerasan. Terbaru, militer mengambil alih kekuasaan pada Oktober 2025, menggulingkan Presiden Andry Rajoelina dan menempatkan Kolonel Michael Randrianirina. Angka kemiskinan mencapai sekitar 75%. Madagaskar juga sangat rentan bencana alam—kekeringan, banjir, dan siklon—yang memicu korban jiwa, pengungsian, serta kerusakan panen dan infrastruktur.
8. Liberia
Harapan sempat meningkat saat mantan pesepak bola George Weah menjadi presiden pada 2018, namun masa kepemimpinannya dibayangi inflasi tinggi, pengangguran, dan pertumbuhan negatif. Pada 2023, ia dikalahkan mantan Wakil Presiden Joseph Boakai yang menunjukkan perbaikan lebih besar. Didukung pertumbuhan sektor pertambangan, pertanian, dan ekspor, ekonomi Liberia melampaui perkiraan, tumbuh 5,1% tahun lalu dan diproyeksikan mempertahankan laju tersebut pada 2026.
7. Somalia
Dengan populasi sekitar 17 juta jiwa di Tanduk Afrika, Somalia mencatat kemajuan beberapa tahun terakhir meski dihantam pandemi, banjir besar, kekeringan parah, dan serangan belalang berskala historis. Reformasi struktural dijalankan, termasuk penguatan kerja sama perdagangan regional. Namun, pemberontak Al-Shabaab membalikkan capaian tersebut dengan menjarah kota-kota dan meningkatkan kekerasan di Mogadishu. Tahun ini, sekitar 4,8 juta orang diperkirakan membutuhkan bantuan kemanusiaan.
6. Malawi
Malawi—salah satu negara terkecil di Afrika—memiliki ekonomi yang bergantung pada tanaman tadah hujan sehingga rentan terhadap gangguan cuaca. Kerawanan pangan di wilayah pedesaan sangat tinggi. Meski pemerintahannya relatif stabil sejak merdeka dari Inggris pada 1964, gejolak tetap terjadi. Pada 2025, Peter Mutharika kembali terpilih (pernah menjabat 2014–2020), mewarisi perekonomian yang nyaris ambruk: inflasi mendekati 30%, cadangan devisa menipis, dan utang publik hampir 91% dari PDB. Sejumlah reformasi telah diluncurkan, namun pertumbuhan masih terlalu lemah untuk mengangkat taraf hidup dan menyerap kebutuhan tenaga kerja.
5. Mozambik
Mantan koloni Portugal yang kaya sumber daya dan berlokasi strategis ini kerap mencatat pertumbuhan PDB di atas 7%, tetapi tetap berada di jajaran negara termiskin. Sejak 2017, pemberontak bersenjata berideologi Islam merajalela di bagian utara yang kaya gas. Pemilu 2024 yang dipersengketakan memicu kekerasan berbulan-bulan, mengganggu dunia usaha, dan menyeret perekonomian ke kontraksi. Tahun lalu, ekonomi terkontraksi 0,52%. Meski pemulihan rapuh mulai tampak awal tahun ini, pemerintah mengakui kondisi ekonomi masih sangat rentan.
4. Yaman
Berpopulasi sekitar 43 juta jiwa dan berlokasi strategis, Yaman terjerumus konflik sejak 2014 antara pemerintah yang didukung Arab Saudi dan gerakan Houthi yang didorong Iran. Perang menewaskan lebih dari 150.000 orang, meluluhlantakkan ekonomi dan infrastruktur kritis. Sejak 2022, blokade Houthi terhadap Selat Bab el-Mandeb di jalur masuk Laut Merah menekan ekspor minyak dan pendapatan fiskal. Negara ini menghadapi salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, dengan sebagian warga di ambang kelaparan.
3. Sudan Selatan
Sejak berdiri pada 2011, Sudan Selatan terus dihantui kekerasan. Kekayaan minyak yang besar justru menjadi kutukan sumber daya, memicu perpecahan, korupsi, dan peperangan. Ekspor minyak—kontributor 90% pendapatan negara—terdampak gangguan pipa dan konflik internal. World Bank menyebut kemiskinan bersifat sistemik dan ekstrem, dengan hampir 90% populasi hidup di bawah garis kemiskinan.
2. Republik Afrika Tengah
Kaya emas, minyak, uranium, dan berlian, Republik Afrika Tengah diwarnai segelintir orang sangat kaya di tengah mayoritas warga miskin. Sejak merdeka dari Prancis pada 1960, pertumbuhan ekonominya tak pernah bertahan lama. Sebagian besar wilayah berada di bawah kendali militer dan kian dipengaruhi personel Korps Afrika Rusia yang membantu mempertahankan Presiden Faustin-Archange Touadéra sebagai imbalan akses ke tambang dan hutan. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan 2,6% pada 2026, masih terlalu rendah untuk mengangkat masyarakat dari kemiskinan yang meluas.
1. Burundi
Negara kecil tanpa akses laut ini kekurangan sumber daya alam dan masih dibayangi perang saudara 1993–2005. Sekitar 80% dari 14 juta penduduk bergantung pada pertanian subsisten, dengan ketahanan pangan lebih rendah dua kali lipat dibanding rata-rata negara Sub-Sahara Afrika. Akses air bersih, sanitasi, dan listrik sangat rendah. Di bawah Presiden Évariste Ndayishimiye (terpilih 2020), inflasi sempat meroket ke 45% pada awal tahun lalu. IMF memprediksi kondisi ekonomi lebih stabil dengan pertumbuhan nyaris 4%.