Kurs Rupiah Sentuh Level Rp17.105 per USD, Bank Indonesia Respons Begini
Di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, maka saat ini stabilitas menjadi prioritas utama bagi Bank Indonesia (BI).
Bank Indonesia (BI) merespon nikai tukar atau kurs Rupiah yang mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan sore ini, Selasa (7/4). Mata uang Rupiah tercatat turun sebesar 70 poin ke level Rp 17.105 per dolar AS atau USD.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, maka saat ini stabilitas menjadi prioritas utama bagi Bank Indonesia (BI).
"Untuk itu, BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter (OM) yang dimiliki dan juga kebijakan OM untuk menjaga stabilitas nilai tukar," ujar Destry dalam keterangannya, di Jakarta, Selasa (7/4).
Selain itu, Bank Indonesia secara konsisten dan terukur akan selalu berada di pasar uang, baik di spot market, DNDF maupun NDF di offshore market.
Adapun Bank Indonesia menilai konflik Timur Tengah bersifat dua arah, di mana kenaikan harga komoditas dan posisi Indonesia sebagai negara ekspotir dapat memberikan efek positif bagi perekonomian kita, sehingga dapat mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar akibat eskalasi tersebut.
Rupiah Masih Bertengger di Level Rp17.000 per USD
Nilai tukar Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa 7 April 2026, pagi. Rupiah melemah 29 poin atau 0,17 persen menjadi Rp17.064 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.035 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan Rupiah masih dibayangi eskalasi perang AS dengan Iran.
Mengutip Sputnik, Trump memperingatkan Tehran bahwa militer AS dapat menghancurkan Iran sepenuhnya dalam 'satu malam', dan itu mungkin terjadi paling cepat pada 7 April.
Pada 30 Maret, Trump mengatakan Washington akan 'meledakkan dan melenyapkan sepenuhnya' semua pembangkit listrik, sumur minyak, Pulau Kharg, dan pabrik desalinasi Iran jika kesepakatan damai tidak tercapai dan Selat Hormuz tidak dibuka kembali.
Ancam Operasi 7 April 2026
Selanjutnya pada Minggu (5/4), Trump mengancam akan menjalankan operasi tersebut pada 7 April, kecuali Iran membuka kembali jalur perairan strategis atau Selat Hormuz.
Presiden AS itu menambahkan bahwa saat ini adalah periode kritis dan tindakan AS di masa depan akan bergantung pada respons Iran.
Adapun Iran, sebagaimana dilaporkan Anadolu, menolak gagasan gencatan senjata dengan Amerika Serikat karena khawatir jeda pertempuran dapat memungkinkan musuh-musuhnya untuk kembali berkumpul dan melanjutkan serangan.