DPR Klaim Pencalonan Deputi Gubernur BI Tak Bikin Rupiah Anjlok
Keriuhan yang terjadi seputar pencalonan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) bukanlah salah satu faktor yang menyebabkan melemahnya nilai tukar rupiah.
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menegaskan bahwa keributan seputar pencalonan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) tidak berpengaruh terhadap melemahnya nilai tukar rupiah.
"Saya tidak mengkaitkannya dengan sentimen nilai tukar. Bagaimanapun juga figur-figur penggantian Deputi Gubernur Bank Sentral itu adalah kewenangan Gubernur Bank Sentral untuk mengajukan kepada Presiden sebagai Kepala Negara," ujarnya ketika ditemui di Jakarta pada Rabu (21/1/2026). Ia juga menambahkan, "Dan menurut saya jangan dikaitkan dan jangan dihubungkan. Karena menurut saya itu hal yang sangat tidak korelatif."
Di sisi lain, Bank Indonesia telah mengungkap beberapa indikator yang menunjukkan pelemahan nilai tukar rupiah dalam waktu terakhir ini. Penurunan tersebut tidak hanya dipicu oleh faktor global, tetapi juga oleh sentimen domestik yang membentuk persepsi pelaku pasar. Dalam konteks ini, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengungkapkan bahwa isu fiskal serta dinamika pencalonan Deputi Gubernur Bank Indonesia menjadi perhatian serius bagi para investor.
"Ini persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan juga proses pencalonan deputi gubernur," ungkap Perry dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Januari 2026, Rabu (21/1/2026) hari ini.
Persepsi Pasar
Menurut Perry, persepsi pasar memainkan peran krusial dalam memengaruhi nilai tukar, terutama di tengah kondisi global yang masih dipenuhi ketidakpastian. Oleh karena itu, pentingnya komunikasi kebijakan dan kejelasan dalam tata kelola sangat diperlukan untuk mempertahankan kepercayaan dari pelaku pasar.
Namun, Perry menekankan bahwa tekanan yang dihadapi oleh rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Sementara itu, faktor-faktor domestik berfungsi sebagai penguat bagi sentimen yang telah terbentuk di pasar keuangan.
Perry juga menjelaskan bahwa perkembangan nilai tukar tidak terlepas dari kombinasi antara faktor global dan domestik. Dari sisi global, tekanan yang ada terutama berasal dari dinamika geopolitik dan kebijakan tarif yang diterapkan oleh Amerika Serikat.
Imbal Hasil dari UD Treasury
Kenaikan imbal hasil US Treasury pada tenor 2 tahun dan 3 tahun telah memberikan dampak negatif yang signifikan. Hal ini terjadi seiring dengan menurunnya ekspektasi terhadap penurunan Fed Fund Rate, yang kini dipandang semakin kecil kemungkinannya.
Akibatnya, dolar AS mengalami penguatan, yang pada gilirannya memicu aliran modal keluar dari negara-negara berkembang menuju negara maju, termasuk Amerika Serikat.
"Seperti tadi kami sampaikan pada tahun 2026 ini terjadi net outflow 1,6 miliar dolar Amerika Serikat, data hingga 19 Januari 2026," ujarnya. Kondisi ini menunjukkan betapa pentingnya situasi pasar global dalam memengaruhi aliran investasi.