Ekonom Sebut Rupiah Kalah dari Ringgit, Hanya Kuat dari Rupee
Kondisi tersebut menunjukkan adanya deviasi yang cukup lebar antara pergerakan rupiah dan dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai terdapat faktor domestik yang turut memengaruhi pergerakan mata uang rupiah, tercermin dari kinerjanya yang tertinggal dibandingkan mayoritas mata uang Asia.
Menurut Josua, berdasarkan data pasar terbaru, rupiah telah melemah lebih dari 5 persen secara year-to-date, sementara indeks dolar AS (DXY) justru hanya menguat sekitar 0,9 persen pada periode yang sama.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya deviasi yang cukup lebar antara pergerakan rupiah dan dolar AS.
“Kalau saya tidak salah, data per tahun sebenarnya DXY juga secara tahun kalender pun juga di tahun ini kelemahannya, penguatannya sebenarnya juga gak menguat banyak ya 0,9 persen. Tapi kalau kita lihat rupiah itu melemahnya hampir 5 persen lebih,” kata Josua dalam Media Briefing Bank Indonesia di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (22/5/2026).
Yang menarik, lanjutnya, rupiah hanya mampu mencatatkan penguatan terhadap Rupee India. Sementara terhadap hampir seluruh mata uang utama Asia lainnya, rupiah justru mengalami pelemahan.
“Lebih menariknya, jangan berkedip, kita hanya menguat terhadap terhadap rupee India. Selebihnya kita melemah terhadap semua mata uang Asia,” ujarnya.
Kalah dari Ringgit hingga Dolar Singapura
Josua mengungkapkan pelemahan rupiah paling dalam terjadi terhadap Ringgit Malaysia, disusul Dolar Singapura, Hong Kong Dollar, dan Yuan China.
Fenomena ini menurutnya menjadi sinyal bahwa faktor domestik juga perlu mendapat perhatian dalam menjelaskan tekanan terhadap kurs rupiah.
Ia menilai pertanyaan mengenai faktor domestik yang memengaruhi rupiah merupakan hal yang wajar.
Sebab, pergerakan kurs tidak hanya dipengaruhi sentimen global, tetapi juga kondisi permintaan dan penawaran valuta asing di dalam negeri.
“Yang paling dalam kita melemah terhadap ringgit Malaysia, lalu yang kedua terhadap Singapur Dollar, yang berikutnya terhadap Hong Kong, terhadap Yuan. Jadi, jangan terus menyalahkan global,” pungkasnya.