Mark Zuckerberg Turun Gunung, Rekrut Ahli AI dengan Gaji Rp 160 Miliar

Mark Zuckerberg dikabarkan sedang melakukan pencarian ahli IT dengan gaji yang fantastis. Nilainya hingga Rp 160 miliar per tahun.

Fauzan Jamaludin
Oleh Fauzan Jamaludin - Reporter
Mark Zuckerberg Turun Gunung, Rekrut Ahli AI dengan Gaji Rp 160 Miliar
Pengguna WhatsApp Hati-hati, Mark Zuckerberg Bilang Lembaga-lembaga ini Bisa Tahu Isi Chat Orang (Ilustrasi dibuat dengan Grok AI)

Mark Zuckerberg sedang bergerak cepat membangun kekuatan baru di bidang kecerdasan buatan. Di balik layar, bos Meta ini dilaporkan tengah merekrut secara langsung talenta AI kelas dunia.

Ia bahkan merekrut pakar AI itu dari rumah-rumahnya di Lake Tahoe dan Palo Alto. Mengutip Fortune, Kamis (19/6), targetnya membentuk tim elite berisi 50 orang dalam proyek rahasia bernama “Superintelligence”.

Tujuan akhirnya jelas. Mengejar ketertinggalan dari para rival seperti Google DeepMind dan OpenAI. Untuk memuluskan rencananya itu, Zuckerberg tak segan menggelontorkan dana besar.

Ia dikabarkan siap menginvestasikan hingga USD15 miliar demi membeli 49% saham perusahaan penyedia data pelatihan AI, Scale AI, yang dipimpin Alexandr Wang.

Zuckerberg dikabarkan secara pribadi menawarkan gaji minimal USD2 juta per tahun ( atau setara Rp32 miliar) untuk para kandidat. Tetapi kebanyakan dalam bentuk saham. Namun, untuk nama-nama besar di industri AI, angka itu bisa naik drastis.

Bahkan menurut Deedy Das, seorang pemodal ventura di Menlo Ventures, ada yang ditawari lebih dari USD10 juta per tahun atau setara Rp160 miliar dalam bentuk uang tunai.

Tawaran superjumbo ini mulai membuahkan hasil. Bloomberg melaporkan bahwa Jack Rae, peneliti utama di Google DeepMind, bersiap pindah ke tim superintelligence Meta. Meta juga berhasil merekrut Johan Schalkwyk, ahli machine learning dari startup AI suara Sesame AI. Namun, meski banyak yang tergiur, tak sedikit pula yang menolak.

Banyak peneliti top justru tetap bertahan di OpenAI, Anthropic, atau DeepMind. Alasannya? Selain gaji mereka sudah tinggi—rata-rata enam hingga tujuh digit dolar—mereka juga punya akses tak terbatas ke komputasi supercanggih dan rekan kerja terbaik di bidangnya.

Tak hanya itu, para talenta AI ini juga punya ikatan personal, loyalitas terhadap visi, atau keyakinan pada filosofi perusahaan.

Contohnya, lebih dari 19 karyawan OpenAI ikut Mira Murati pindah ke startup barunya, Thinking Machines. Anthropic sendiri didirikan oleh eks karyawan OpenAI yang kecewa dengan arah kebijakan perusahaan sebelumnya. Menurut Das, memang ada yang idealis, tapi banyak juga yang bersikap oportunis.

“Banyak orang bisa dibeli, asal harganya tepat. Namun, ada juga yang sudah terlalu kaya untuk bisa dibeli lagi,” kata dia.

Rekomendasi