BI: Arus Modal Asing Berbalik Positif di Awal Triwulan II 2026
Arus modal asing sempat keluar USD 1,7 miliar di awal 2026, kini berbalik masuk USD 1,9 miliar. BI sebut dipicu daya tarik instrumen keuangan domestik.
Pergerakan arus modal asing ke Indonesia menunjukkan perubahan signifikan sepanjang awal 2026. Setelah sempat mengalami tekanan akibat kondisi global, aliran dana investor kini mulai kembali mengalir ke pasar keuangan domestik.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengungkapkan, pada triwulan I 2026 terjadi arus keluar modal asing (net outflows) sebesar USD 1,7 miliar.
Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global, terutama akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
"Dari transaksi modal dan finansial, investasi portofolio asing pada Januari-Maret 2026 mencatat net outflows sebesar 1,7 miliar dolar AS terutama dipengaruhi oleh ketidakpastian pasar keuangan global yang dipicu perang di Timur Tengah," kata Perry dalam Konferensi Pers RDG April 2026, Rabu (22/4/2026).
Gara-Gara Tekanan Global
Ketegangan geopolitik disebut menjadi faktor utama yang mendorong investor global menarik dana dari negara berkembang. Dalam situasi tersebut, pelaku pasar cenderung mengalihkan portofolio ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Dampaknya terasa pada pasar keuangan domestik, termasuk tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pasar obligasi. Arus keluar ini mencerminkan sikap hati-hati investor yang menunggu kepastian arah ekonomi global.
Meski demikian, kondisi fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat. Hal ini terlihat dari posisi cadangan devisa yang masih berada pada level tinggi.
"Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 tercatat sebesar USD 148,2 miliar, setara dengan pembiayaan 6,0 bulan impor atau 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," ujarnya.
Mulai Kembali Menguat
Memasuki awal triwulan II 2026, aliran dana asing mulai berbalik arah. Hingga 20 April 2026, tercatat arus masuk modal asing (net inflows) sebesar USD 1,9 miliar.
"Pada awal triwulan II 2026 (hingga 20 April 2026), aliran modal kembali mencatat net inflows sebesar USD 1,9 miliar," ujar Perry.
Kembalinya minat investor asing dipicu oleh meningkatnya daya tarik instrumen keuangan domestik, terutama Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN), yang menawarkan imbal hasil kompetitif.
Bank Indonesia juga menilai penguatan sinergi kebijakan perlu terus dilakukan untuk menjaga stabilitas eksternal.
Di tengah ketidakpastian global, defisit transaksi berjalan pada 2026 diperkirakan berada dalam kisaran 0,5 persen hingga 1,3 persen dari produk domestik bruto (PDB).