Modal Asing Indonesia Tembus Rp1,44 Triliun di Awal Januari 2026, Saham Jadi Magnet
Bank Indonesia mencatat aliran modal asing masuk bersih ke pasar keuangan Indonesia sebesar Rp1,44 triliun pada pekan pertama Januari 2026, dengan sektor saham menjadi daya tarik utama.
Bank Indonesia (BI) melaporkan adanya aliran modal asing masuk bersih ke pasar keuangan Indonesia pada pekan pertama Januari 2026. Total dana yang masuk mencapai Rp1,44 triliun dalam periode transaksi 5-8 Januari 2026. Informasi ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, di Jakarta pada Jumat.
Kondisi ini menunjukkan kepercayaan investor asing terhadap prospek ekonomi domestik. Meskipun demikian, dinamika di pasar keuangan global tetap menjadi perhatian utama bagi otoritas moneter dan fiskal. Pergerakan modal asing ini menjadi salah satu indikator penting dalam stabilitas perekonomian nasional.
Aliran dana tersebut terbagi di beberapa instrumen investasi yang ada di Indonesia. Pergerakan modal ini sangat dipantau untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi. BI terus berupaya memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk menjaga ketahanan ekonomi.
Rincian Aliran Modal Asing Berdasarkan Instrumen
Ramdan Denny Prakoso merinci bahwa modal asing masuk bersih di pasar saham mencapai Rp1,78 triliun. Selain itu, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga membukukan aliran masuk bersih sebesar Rp1,04 triliun. Angka-angka ini menunjukkan preferensi investor terhadap aset-aset tertentu di pasar domestik.
Namun, di sisi lain, terdapat modal asing keluar bersih dari Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp1,38 triliun. Meskipun ada outflow di SBN, total aliran modal asing masuk bersih ke pasar keuangan domestik tetap positif, yaitu Rp1,44 triliun. Ini menandakan bahwa daya tarik pasar saham dan SRBI mampu menutupi keluarnya dana dari SBN.
Secara kumulatif sejak awal tahun hingga 8 Januari 2026, modal asing masuk bersih di pasar saham mencapai Rp3,85 triliun. Sementara itu, di SBN tercatat masuk bersih Rp3,23 triliun, dan di SRBI sebesar Rp260 miliar. Data ini menggambarkan tren positif investasi asing di Indonesia pada awal tahun.
Dinamika Pasar Keuangan dan Indikator Ekonomi Global
Premi risiko investasi Indonesia, yang diukur melalui credit default swaps (CDS) 5 tahun, tercatat mengalami kenaikan. Pada 2 Januari 2026, CDS berada di level 67,62 basis poin (bps), kemudian naik menjadi 69,57 bps per 8 Januari 2026. Kenaikan ini mengindikasikan persepsi risiko yang sedikit meningkat di mata investor.
Nilai tukar rupiah juga menunjukkan pergerakan yang melemah pada Jumat (9/1), dibuka di level Rp16.815 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan Kamis (8/1) yang berada di level Rp16.785 per dolar AS. Pelemahan rupiah ini sejalan dengan penguatan indeks dolar AS (DXY) yang tercatat menguat ke level 98,93 pada akhir perdagangan Kamis (8/1).
Indeks DXY adalah ukuran pergerakan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, termasuk euro, yen Jepang, dan pound Inggris. Penguatan DXY seringkali berdampak pada pelemahan mata uang negara berkembang. Sementara itu, imbal hasil atau yield SBN 10 tahun naik ke level 6,15 persen pada Jumat (9/1), dari 6,05 persen pada Kamis (8/1). Di sisi lain, imbal hasil US Treasury Note 10 tahun turun ke level 4,167 persen pada akhir perdagangan Kamis (8/1).
Strategi Bank Indonesia Menjaga Stabilitas
Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait. Hal ini dilakukan untuk memastikan stabilitas sistem keuangan dan ekonomi nasional. Kolaborasi ini menjadi krusial dalam menghadapi gejolak pasar global serta menjaga kepercayaan investor.
BI juga mengoptimalkan strategi bauran kebijakan yang dimilikinya. Berbagai instrumen kebijakan moneter dan makroprudensial digunakan secara terukur dan hati-hati. Tujuannya adalah untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia di tengah dinamika global yang terus berubah.
Langkah-langkah strategis ini diharapkan dapat memitigasi risiko. Selain itu, upaya ini juga bertujuan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. BI berkomitmen untuk terus memantau dan mengambil tindakan yang diperlukan demi stabilitas perekonomian nasional.
Sumber: AntaraNews