Arus Modal Asing Keluar Rp4,58 Triliun dari Pasar Keuangan RI Awal November
Bank Indonesia mencatat arus modal asing keluar sebesar Rp4,58 triliun dari pasar keuangan domestik pada pekan pertama November 2025. Apa dampaknya bagi stabilitas ekonomi nasional?
Bank Indonesia (BI) melaporkan adanya arus modal asing keluar dari pasar keuangan domestik Indonesia pada pekan pertama bulan November 2025. Total dana yang ditarik investor asing mencapai Rp4,58 triliun dalam periode 3 hingga 6 November 2025. Situasi ini menunjukkan dinamika pergerakan investasi di tengah kondisi ekonomi global yang fluktuatif.
Penarikan dana tersebut sebagian besar terjadi di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Bank Indonesia Rupiah Securities (SRBI). Meskipun demikian, pasar saham masih mencatatkan aliran dana masuk bersih dari investor asing. Data ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam pernyataan resminya.
Pergerakan arus modal asing ini menjadi perhatian utama bagi otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan ketahanan ekonomi. BI terus memantau perkembangan pasar keuangan untuk mengantisipasi potensi gejolak. Langkah-langkah koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait juga terus diperkuat.
Rincian Penarikan Dana Investor Asing
Pada pekan pertama November 2025, arus modal asing keluar tercatat signifikan dari beberapa instrumen investasi. Dari pasar Surat Berharga Negara (SBN), investor asing menarik dana sebesar Rp4,42 triliun. Sementara itu, Bank Indonesia Rupiah Securities (SRBI) juga mengalami penarikan dana bersih sebesar Rp2,69 triliun.
Meskipun terjadi penarikan di SBN dan SRBI, pasar saham domestik justru menunjukkan tren yang berbeda. Selama periode yang sama, pasar saham mencatatkan aliran dana masuk bersih sebesar Rp2,54 triliun. Hal ini sedikit menahan total outflow, namun secara keseluruhan tetap menghasilkan arus modal asing keluar sebesar Rp4,58 triliun.
Data ini menyoroti preferensi investor asing terhadap instrumen investasi tertentu di tengah ketidakpastian. Perpindahan dana ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk sentimen pasar global dan kebijakan moneter domestik. Bank Indonesia terus menganalisis faktor-faktor pendorong di balik pergerakan modal ini.
Tren Kumulatif dan Indikator Ekonomi Terkait
Secara kumulatif, sejak awal tahun hingga 6 November 2025, BI melaporkan total arus modal asing keluar yang cukup besar. Dari pasar saham, outflow mencapai Rp39,13 triliun, sedangkan dari pasar SBN tercatat Rp0,91 triliun. Instrumen SRBI mengalami penarikan dana terbesar, yaitu Rp137,71 triliun selama periode tersebut.
Bersamaan dengan pergerakan modal ini, beberapa indikator ekonomi juga menunjukkan dinamika. Premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia untuk tenor lima tahun meningkat dari 73,03 basis poin pada 31 Oktober menjadi 75,49 basis poin pada 6 November 2025. Kenaikan CDS ini mencerminkan persepsi risiko yang sedikit meningkat di pasar.
Nilai tukar rupiah juga mengalami pelemahan tipis, dibuka pada Rp16.695 per dolar AS pada Jumat (7/11) setelah sebelumnya ditutup di Rp16.690. Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) justru melemah ke 99,73 pada akhir perdagangan Kamis (6/11). Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun turun menjadi 6,15 persen, sementara imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik menjadi 4,083 persen.
Komitmen Bank Indonesia untuk Stabilitas
Menyikapi perkembangan arus modal asing dan indikator ekonomi, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas. BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait lainnya. Upaya ini penting untuk memastikan respons kebijakan yang terpadu dan efektif.
Selain itu, BI juga akan mengoptimalkan bauran kebijakannya (policy mix) guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Stabilitas nilai tukar sangat krusial untuk menjaga daya beli masyarakat dan iklim investasi. Kebijakan moneter yang hati-hati menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ini.
Komitmen ini juga bertujuan untuk menjaga ketahanan eksternal ekonomi nasional secara keseluruhan. Dengan langkah-langkah proaktif, BI berupaya memitigasi dampak negatif dari pergerakan arus modal asing dan gejolak pasar global. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan ekonomi yang kondusif dan stabil bagi pertumbuhan.
Sumber: AntaraNews