Jelang Muktamar ke-35, Gagasan Kaderisasi dan Revitalisasi NU Menguat dari Akar Rumput

Gagasan tersebut juga diiringi dengan dorongan agar gerakan nahdliyyin tumbuh secara mandiri melalui inisiatif, kreasi, dan inovasi berbasis kearifan lokal.

Mardani
Oleh Mardani - Reporter
Jelang Muktamar ke-35, Gagasan Kaderisasi dan Revitalisasi NU Menguat dari Akar Rumput
Gus Salam bersilaturahmi dengan Muhtadi Dimyati, pengasuh PP Roudlotul Ulum Cidahu, Pandeglang, Banten, sekaligus Mustasyar PBNU (Istimewa)

Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), berbagai gagasan mulai bermunculan dari kalangan akar rumput. Salah satunya datang dari struktural dan komunitas NU di Banten yang mendorong strategi kebangkitan organisasi melalui kaderisasi berjenjang, masif, dan sistematis.

Gagasan tersebut juga diiringi dengan dorongan agar gerakan nahdliyyin tumbuh secara mandiri melalui inisiatif, kreasi, dan inovasi berbasis kearifan lokal.

“Dalam bahasa saya, membangkitkan dan menggairahkan NU dilakukan dengan ideologisasi; ngelmuni lagi secara baik dan efektif tentang berNU, bergerak di dalam NU dan bekhidmah melalui NU demi kemashlahatan dan kemajuan umat,” kata Abdussalam Shohib, yang akrab disapa Gus Salam dikutip, Rabu (22//4/2026).

Peta jalan kebangkitan NU tersebut disampaikan Gus Salam usai bersilaturahmi dengan Muhtadi Dimyati, pengasuh PP Roudlotul Ulum Cidahu, Pandeglang, Banten, sekaligus Mustasyar PBNU.

Selain itu, ia juga melakukan silaturahmi dengan Rais Syuriyah PWNU Banten untuk memohon doa restu dan dukungan, sekaligus meminta izin bertemu jajaran tanfidziyah PWNU hingga PCNU se-Banten.

Dalam berbagai kesempatan, Gus Salam menegaskan ikhtiarnya untuk maju sebagai kandidat Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-35 yang direncanakan berlangsung pada Agustus 2026. Langkah tersebut diakuinya sebagai bentuk menjalankan amanah para guru dan kiai.

Gus Salam juga membagikan pesan yang ia terima dari Abuya Muhtadi Dimyati terkait peran NU ke depan.

“Abuya Muhtadi Dimyati, ulama sepuh Pakubumi Banten, berpesan agar Ulama-NU turut menjaga ketentraman masyarakat dan perbaikan ekonomi bangsa,” cerita Gus Salam.

Ia menafsirkan pesan tersebut sebagai dorongan agar NU memperkuat peran sosial dan ekonomi di tengah masyarakat.

“saya menangkap pesan itu sebagai perintah agar NU ke depan memberi tekanan dan penegasan prioritas program untuk lebih menguatkan sabuk pengaman di tengah masyarakat, sekaligus bersama pemerintah membangkitkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi bangsa”, tambahnya.

Dalam forum silaturahmi dan dialog yang digelar di kediaman Ahmad Imron (Gus Imron), Pengasuh PP Daarul Falahiyah Cisoka, Tangerang, para ketua PCNU se-Banten menekankan pentingnya sinergi antarstruktur NU. Mereka mendorong pola kemitraan dan pembagian peran yang jelas dari tingkat PBNU hingga PCNU, terutama dalam program-program konkret dan produktif.

Forum yang berlangsung pada Sabtu (18/4/2026) malam itu berjalan hangat dan penuh keakraban, diwarnai canda khas kalangan pesantren.

“Kyai-kyai PCNU berharap sinergi PBNU hingga struktur bawah dijalankan untuk melayani kepentingan nyata-konkrit dirasakan masyarakat-nahdliyyin, khususnya di bidang keagamaan, sosial budaya dan ekonomi,” ungkap Gus Salam.

Dalam dialog tersebut, Gus Salam juga menyoroti banyaknya inisiatif dan inovasi yang tumbuh dari bawah, namun belum sepenuhnya mendapat dukungan optimal.

“banyak sekali inisiatif produktif dan inovasi NU dibawah. Yang diperlukan pengakuan afirmatif, memfasilitasi dan mendampingi pengembangannya. Bukan mengendalikan disertai birokrasi struktural yang ribet, apalagi dibumbui tekanan bersifat instruktif-doktrinal,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan agar pendekatan koordinasi tidak bersifat menekan atau arogan.

“hindari kesan intimidatif dan sikap arogan dalam mengkoordinasikan dan mengkonsolidasi gerakan pelayanan NU arus bawah. Ini akan memicu cidera ruh berjam’iyyah yang tidak mudah diobati,” imbuhnya.

Pertemuan tersebut dihadiri Ketua PWNU Banten, para ketua PCNU dari berbagai daerah, serta Ketua PW GP Ansor Banten. Suasana kebersamaan yang tercipta dinilai mampu mencairkan ketegangan internal yang sempat terjadi.

Semangat ukhuwah nahdliyyah kembali ditegaskan sebagai fondasi penting dalam merawat persatuan organisasi.

“Alhamdulillah. Kita saling mendialogkan bagaimana menjaga dan merawat jati diri Nahdlatul Ulama dengan menghidupkan kembali ghirah berjuang di NU,” tegas Gus Salam.

Ia juga menekankan pentingnya rekonsiliasi menyeluruh, disertai revitalisasi nilai-nilai dasar organisasi.

“Saya tetap menyampaikan pentingnya rekonsiliasi menyeluruh. Disertai upaya revitalisai dan rekontruksi ruhul ma’had wal jam’iyyah (pesantren dan jam’iyyah), ruhul jihad; dengan kesungguhan dan ketangguhan berjuang, dan ruhul khidmah; mengabdi untuk melayani demi kemashlahatan umat,” tambahnya.

“Semuanya dilaksanakan melalui kebijakan dan program NU ke depan, disertai sikap dan etika yang bijaksana,” pungkas Gus Salam.

Rekomendasi