'Penyakit' Mulai Muncul Usai Meta Rekrut Orang-Orang Hebat Buat AI, Mark Zuckerberg Benar-Benar Pusing
Di balik megahnya rencana itu, bayang-bayang masalah mulai terlihat.
Mark Zuckerberg, pendiri sekaligus CEO Meta, sedang menjalani salah satu eksperimen paling ambisius dalam hidupnya.
Membangun Superintelligence Lab, laboratorium kecerdasan buatan (AI) yang digadang-gadang akan menjadi ujung tombak dominasi Meta di era AI.
Tak tanggung-tanggung, miliaran dolar sudah digelontorkan. Namun, di balik megahnya rencana itu, bayang-bayang masalah mulai terlihat.
Laporan Financial Times baru-baru ini mengungkap serangkaian kepergian tokoh penting dari tim AI Meta—sebuah tanda tanya besar tentang kemampuan perusahaan untuk mempertahankan talenta terbaik di bidang yang begitu kompetitif ini.
Drama di Hari-Hari Pertama
Salah satu cerita paling mencolok datang dari Shengjia Zhao, sosok yang ikut menciptakan ChatGPT di OpenAI.
Zhao kabarnya sempat mengancam hengkang hanya beberapa hari setelah resmi bergabung dengan Meta, bahkan sempat berniat kembali ke perusahaan lamanya. Insiden ini menjadi cermin betapa rapuhnya fondasi tim baru Zuckerberg.
Tak berhenti di situ, sejumlah staf baru juga memilih keluar lebih cepat dari dugaan. Alasannya beragam, tetapi ada dua keluhan utama:
1. Birokrasi Meta yang berbelit. Para peneliti merasa sulit bergerak cepat dalam struktur perusahaan yang terlalu banyak aturan.
2. Persaingan sumber daya. Akses ke komputasi super—yang awalnya dijanjikan melimpah—ternyata harus diperebutkan.
Meta sendiri membantah tudingan itu. Dalam pernyataannya, perusahaan menyebut lab barunya justru menyediakan “komputasi per peneliti terbaik di industri.”
Masalah Gaya Kepemimpinan
Titik gesekan lain datang dari figur Alexandr Wang, mantan CEO Scale AI, yang direkrut Zuckerberg setelah kesepakatan senilai 14,3 miliar dolar AS awal tahun ini.
Wang dinilai brilian secara teknis, tetapi belum terbiasa memimpin tim di lingkungan sebesar Meta.
Menurut laporan, Wang dan sejumlah eks-Scale AI yang ia bawa kesulitan beradaptasi. Mereka terbiasa dengan ritme startup yang serba cepat dan jelas target pendapatannya.
Di Meta, pola kerja berbeda: proyek-proyek besar bisa berjalan lama tanpa ukuran finansial langsung, sebuah hal yang membuat frustrasi pendatang baru.
Benturan Budaya dan Birokrasi
Kondisi ini menempatkan Zuckerberg pada situasi pelik. Ia tengah melakukan reorganisasi paling dramatis dalam 20 tahun sejarah Meta.
Keputusan untuk mengandalkan generasi baru pemimpin—seperti Zhao, Wang, dan mantan bos GitHub Nat Friedman—ternyata berbenturan dengan budaya lama Meta yang sudah mengakar.
Bahkan, nama-nama besar yang selama ini jadi tulang punggung AI Meta ikut terdampak.
- Yann LeCun, ilmuwan AI legendaris, kini harus melapor kepada Wang—sebuah pergeseran hierarki yang menimbulkan bisik-bisik di internal.
- Ahmad Al-Dahle, yang sebelumnya memimpin pengembangan Llama dan proyek AI generatif Meta, sampai saat ini belum diberi posisi kepemimpinan di struktur baru.
- Chris Cox, Chief Product Officer, dicopot dari kendali langsung atas AI generatif.
Di balik itu semua, ada pula laporan tentang masalah mendasar: kualitas data untuk melatih model AI disebut masih jauh dari ideal.
Apa yang Dipertaruhkan Zuckerberg
Semua ini terjadi di saat dunia menatap Meta dengan penuh ekspektasi. Zuckerberg bukan hanya ingin ikut serta dalam perlombaan AI—ia ingin memimpin.
Namun pertanyaannya kini bergeser: bisakah Meta membangun tim super jika para talenta terbaiknya justru merasa tak betah?
Bagi Zuckerberg, ini lebih dari sekadar soal teknologi. Ini tentang masa depan perusahaan, bahkan mungkin reputasinya sebagai pemimpin visioner di era pasca-media sosial.