Saat ini, generasi Z tengah mengalami kebangkitan budaya dari era 90-an. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya anak muda yang kembali menikmati lagu-lagu klasik seperti Sheila on 7, mengenakan jaket boomer dan menggunakan kamera analog untuk mengabadikan momen-momen mereka.
Media sosial juga dipenuhi konten-konten bertema retro, mulai dari outfit of the day (OOTD) yang terinspirasi dari tahun 90-an hingga filter foto yang menyerupai hasil cetakan film dari kamera roll.
Selain itu, tren ini tidak hanya mempengaruhi penampilan dan hobi, tetapi juga gaya hidup serta cara Gen Z berinteraksi. Mereka mulai menjauh dari kehidupan digital yang instan dan lebih memilih aktivitas yang bersifat "tactile" atau bersentuhan langsung, seperti menulis di jurnal fisik, mendengarkan musik melalui kaset, atau berkumpul di tempat-tempat yang menawarkan suasana lawas.
Advertisement
Fenomena Borrowed Nostalgia
Seperti yang dilaporkan The Guardian dan Vox, fenomena ini dikenal dengan istilah borrowed nostalgia atau nostalgia pinjaman. Ini merujuk pada situasi di mana individu merindukan masa lalu yang sebenarnya tidak mereka alami secara langsung.
Nostalgia pinjaman ini muncul dari keinginan untuk merasakan suasana "kehangatan" masa lalu, yang dianggap lebih sederhana dan menenangkan dibandingkan dengan kehidupan modern yang sarat dengan tekanan dan gangguan digital. Menurut Dr. Krystine Batcho, seorang psikolog klinis, dalam wawancaranya dengan Time Magazine (2023), jenis nostalgia ini dapat berfungsi sebagai pelarian emosional atau mekanisme coping.
Banyak anggota generasi Z yang menghadapi ketidakpastian dalam hidup mereka, terutama setelah masa pandemi, Mereka merasa tertarik kepada nilai-nilai serta gaya hidup di masa lalu yang tampak lebih stabil dan tidak terlalu membebani. Hal ini menunjukkan bagaimana nostalgia dapat menjadi cara untuk mencari ketenangan di tengah kekacauan zaman sekarang.
Advertisement
Cara Cari Ruang Tenang
Selain berfungsi sebagai pelarian, kebangkitan kembali tren dari tahun 90-an juga merefleksikan bentuk dari digital escapism, yaitu usaha untuk menjauhkan diri dari dunia yang terlalu terhubung. Tekanan sosial yang ada di dunia digital, notifikasi yang terus-menerus, dan tuntutan untuk eksis secara online membuat sebagian generasi muda mencari sebuah "ruang tenang".
Dalam sebuah laporan yang dipublikasikan BBC Worklife (2022), banyak generasi Z yang kembali mengadopsi kebiasaan-kebiasaan dari masa lalu sebagai reaksi terhadap kelelahan digital (digital fatigue) dan kerinduan akan kehidupan yang lebih otentik.
Selain itu, kebutuhan untuk menemukan identitas dan komunitas juga menjadi faktor yang penting. Di tengah era yang serba cepat dan global ini, banyak anak muda merasa kehilangan akar atau keunikan diri mereka.
Sehingga lewat menghidupkan kembali budaya dari era 90-an—baik melalui musik, mode, maupun gaya hidup—mereka menciptakan identitas baru yang tetap terhubung dengan masa lalu, tetapi disesuaikan dengan konteks zaman sekarang.
Advertisement
Remix Culture
Henry Jenkins, seorang peneliti budaya pop dari University of Southern California, mendefinisikan fenomena ini sebagai remix culture. Ini merupakan suatu kondisi generasi baru tidak hanya meniru yang ada di masa lalu, tetapi juga menciptakan versi mereka sendiri yang lebih personal.
Dalam wawancara dengan The New York Times (2023), analis tren budaya Amanda Mull mengungkapkan bahwa ketertarikan terhadap era 90-an mungkin berasal dari ketidakpuasan terhadap keadaan saat ini dan ketidakpastian mengenai masa depan.
Di tengah ketidakpastian ekonomi, kondisi iklim yang semakin memburuk, serta konflik sosial yang semakin tajam, generasi Z berusaha menemukan kenyamanan dalam hal-hal yang familiar dan "aman" dari masa lalu—meskipun hal tersebut hanya terlihat melalui lensa romantisasi budaya pop.