Harga Minyak Dunia Melonjak Lagi, Ini Penyebabnya
Harga minyak global menunjukkan kenaikan yang signifikan, dengan harga minyak Brent dan WTI masing-masing meningkat sebesar 5,66 persen dan 4,61 persen.
Harga minyak mengalami kenaikan pada perdagangan yang berlangsung pada Kamis, 26 Maret 2026, atau Jumat waktu Jakarta.
Kenaikan harga tersebut terjadi setelah Iran menyatakan tidak berniat untuk melakukan pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat, meskipun proposal dari AS untuk mengakhiri konflik sedang ditinjau oleh pejabat senior di Teheran.
Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran. Mengutip laporan dari CNBC pada Jumat (27/3/2026), harga minyak mentah Brent mengalami lonjakan sebesar 5,66 persen menjadi USD 108,01 per barel, sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) meningkat 4,61 persen menjadi USD 94,48 per barel.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan kepada media pemerintah pada hari Rabu bahwa adanya pertukaran antara kedua negara melalui mediator tidak berarti bahwa itu adalah "negosiasi dengan AS," seperti yang dilaporkan oleh Reuters.
Media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa Teheran akan menolak tawaran gencatan senjata dari AS dan justru akan menetapkan syarat-syaratnya sendiri untuk mengakhiri konflik tersebut.
Komentar terbaru ini muncul di tengah perbedaan keterangan yang diberikan oleh AS dan Iran mengenai status pembicaraan yang sedang berlangsung.
Presiden Trump, dalam pernyataannya pada Selasa, mengungkapkan bahwa AS dan Iran "sedang dalam negosiasi saat ini" dan menunjukkan bahwa Teheran sangat ingin mencapai kesepakatan, meskipun Republik Islam telah membantah adanya pembicaraan langsung.
Dalam kesempatan berbicara di Ruang Oval, Trump menyatakan bahwa dia telah menarik kembali ancaman sebelumnya untuk menyerang infrastruktur energi Iran "berdasarkan fakta bahwa kita sedang bernegosiasi."
Analis dari bank investasi TD Securities menyebutkan bahwa guncangan harga minyak terbaru kemungkinan tidak akan memicu respons kebijakan yang agresif dari Federal Reserve.
Meskipun pasar telah mulai mempertimbangkan risiko kenaikan suku bunga di tengah ekspektasi inflasi yang tinggi, TD Securities menyatakan bahwa Fed lebih cenderung untuk tetap dalam mode "tunggu dan lihat," dengan kepemimpinannya masih lebih condong pada pemotongan suku bunga di akhir tahun 2026.
Fed akan mengabaikan guncangan energi selama ekspektasi inflasi jangka panjang tetap terkendali dan efek putaran kedua tetap dalam batas yang wajar, tambah bank tersebut.
Kenaikan Harga Minyak
Lonjakan harga minyak dunia akibat penutupan Selat Hormuz menjadi masalah serius bagi banyak negara yang bergantung pada impor minyak, termasuk Indonesia. CEO Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menjelaskan bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar USD 1 per barel dapat memberikan dampak signifikan pada anggaran negara, terutama terkait dengan subsidi energi seperti bahan bakar minyak (BBM).
"Setiap kenaikan harga minyak sebesar USD 1 per barel dapat menambah beban APBN hingga Rp 6,7 triliun," jelas dia.
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pengelolaan anggaran yang baik untuk menghadapi fluktuasi harga minyak di pasar global.
Fabby Tumiwa juga menyampaikan bahwa penetapan ICP (Indonesian Crude Price) pada USD 70 per barel menjadi acuan dalam menghitung subsidi dan kompensasi untuk LPG, listrik, dan BBM.
Meskipun demikian, Indonesia masih memiliki cara untuk mengurangi beban subsidi tersebut. Salah satu solusi yang diusulkan adalah beralih ke kendaraan listrik dan kompor listrik.
"Pada sektor transportasi misalnya, peralihan satu juta mobil berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik diperkirakan mampu mengurangi kebutuhan minyak mentah dalam jumlah signifikan," tuturnya.
Dengan mengganti satu juta mobil berbahan bakar fosil dengan mobil listrik, kebutuhan minyak mentah dapat berkurang hingga 13,2 juta barel per tahun.
Di sektor rumah tangga, penggunaan kompor listrik juga dianggap sebagai langkah efektif untuk menekan konsumsi LPG.
Fabby menambahkan bahwa bagi rumah tangga yang mampu, kompor listrik bahkan dapat lebih ekonomis dibandingkan LPG nonsubsidi, yang sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi impor.
"Jika rumah tangga mulai menggunakan kompor induksi, penghematan LPG bisa mencapai lebih dari 130 ton per tahun," ujarnya.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan Indonesia dapat mengurangi beban subsidi energi dan meningkatkan ketahanan energi nasional.
Segera Percepat Elektrifikasi
Urgensi elektrifikasi semakin mendesak, terutama karena Indonesia memiliki sensitivitas fiskal yang tinggi terhadap gejolak geopolitik global, termasuk konflik yang terjadi di Timur Tengah.
Selain itu, elektrifikasi juga berfungsi untuk menekan subsidi energi yang terus meningkat. Pada tahun 2025, subsidi energi diperkirakan mencapai Rp203,4 triliun dan diproyeksikan akan meningkat menjadi Rp210,1 triliun pada tahun 2026.
"Elektrifikasi transportasi dan rumah tangga menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan impor energi sekaligus menekan beban subsidi," ujar dia.