Hizbullah: Iran Jadi Penghalang Utama Rencana 'Israel Raya'
Kepala Dewan Eksekutif Hizbullah menegaskan Iran adalah satu-satunya negara yang menghalangi terwujudnya rencana ekspansionis 'Israel Raya' di kawasan Timur Tengah, memicu permusuhan AS dan Israel.
Teheran, Iran – Kepala Dewan Eksekutif Hizbullah, Ali Damoush, baru-baru ini menyatakan bahwa Iran menjadi penghalang utama terwujudnya rencana “Israel Raya”. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks permusuhan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang berakar pada karakter Islam dan revolusioner negara tersebut. Damoush menekankan bahwa Iran merupakan satu-satunya negara yang tetap teguh dalam poros perlawanan terhadap rezim Israel di kawasan.
Menurut laporan kantor berita IRNA pada Sabtu, mengutip UniNews, Damoush menjelaskan posisi strategis Iran. Dirinya menilai bahwa upaya musuh, termasuk kemungkinan agresi militer, lebih banyak melayani kepentingan Israel daripada AS. Pernyataan ini menyoroti dinamika geopolitik yang kompleks di Timur Tengah, di mana Iran memegang peran sentral.
Pejabat Hizbullah tersebut juga menuding Tel Aviv berupaya menggagalkan proses negosiasi antara Teheran dan Washington. Israel, kata Damoush, secara aktif menciptakan dalih untuk memicu perang. Ini menunjukkan adanya ketegangan yang berkelanjutan dan upaya untuk mempengaruhi stabilitas regional.
Akar Permusuhan AS-Israel terhadap Iran
Ali Damoush menggarisbawahi bahwa permusuhan antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran didasari oleh karakter Islam dan revolusioner Republik Islam Iran. Karakteristik ini dianggap sebagai ancaman terhadap kepentingan geopolitik mereka di Timur Tengah. Iran, dengan ideologinya, menjadi simbol perlawanan yang kuat di mata Hizbullah.
Damoush juga mengemukakan bahwa potensi perang melawan Iran saat ini, sebelum melayani kepentingan AS, justru melayani kepentingan Israel. Tel Aviv, menurutnya, berupaya keras menggagalkan proses negosiasi yang sedang berlangsung antara Teheran dan Washington. Upaya ini bertujuan untuk menciptakan dalih yang dapat memicu konflik bersenjata.
Pernyataan ini menyoroti pandangan bahwa Israel memiliki motivasi kuat untuk mencegah Iran mencapai kesepakatan diplomatik. Hal tersebut karena kesepakatan itu dapat memperkuat posisi Iran di kawasan. Situasi ini menciptakan ketegangan yang terus-menerus dan risiko eskalasi konflik yang tinggi.
Peran Iran dan Poros Perlawanan Gagalkan 'Israel Raya'
Republik Islam Iran dan kelompok perlawanan yang dikenal sebagai Axis of Resistance telah memainkan peran krusial dalam menghalangi ekspansionisme rezim Israel. Mereka secara efektif menggagalkan realisasi skema “Israel Raya” di kawasan. Skema ini dipandang sebagai upaya Israel untuk mendominasi wilayah tersebut secara geografis dan politis.
Damoush menilai bahwa untuk dapat mewujudkan proyek “Israel Raya” dan memungkinkan rezim Israel mendominasi kawasan, langkah kuncinya adalah menyingkirkan Iran dan sekutu-sekutu regionalnya. Namun, Iran dan sekutunya telah berdiri teguh menentang upaya tersebut. Keberadaan mereka menjadi hambatan signifikan bagi ambisi ekspansionis Israel.
Peran Iran sebagai poros perlawanan menjadi sangat penting dalam dinamika ini. Kemampuannya untuk mempertahankan diri dan mendukung sekutunya telah menciptakan keseimbangan kekuatan. Keseimbangan ini mencegah Israel mencapai tujuan strategisnya di Timur Tengah.
Kekuatan Perlawanan Lebanon
Di bagian lain pernyataannya, Ali Damoush menggambarkan perlawanan sebagai sumber kekuatan dan daya tangkal Lebanon terhadap Israel selama 30 tahun terakhir. Perlawanan ini telah menjadi fondasi keamanan bagi Lebanon dalam menghadapi ancaman dari Israel. Hal ini menunjukkan bahwa perlawanan bukan hanya taktik militer, tetapi juga elemen penting dalam identitas nasional Lebanon.
Damoush menegaskan bahwa rakyat Lebanon tidak akan menyerah dan tetap bertekad untuk sepenuhnya memperoleh hak-haknya. Pernyataan ini mencerminkan semangat juang yang kuat di kalangan masyarakat. Hal ini juga menunjukkan komitmen mereka terhadap kedaulatan dan martabat bangsa.
Dirinya juga menekankan bahwa rakyat Iran, yang telah mengorbankan para pemimpin dan putra-putra terbaiknya, tidak akan meninggalkan perlawanan dan pencapaiannya. Perlawanan adalah hak yang sah dan akan tetap menjadi simbol martabat dan kebanggaan Lebanon. Tidak seorang pun, apa pun posisinya, dapat menghapus atau mencabut hak keberadaannya.
Sumber: AntaraNews