IHSG Ambruk 4 Persen, Pengamat: Dipicu Eskalasi Konflik Amerika Serikat dan Iran
Harga minyak brent yang sudah menembus USD 80 per barel menjadi alarm bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 343,19 poin atau 4,32 persen ke posisi 7.596,58, sejalan dengan pelemahan bursa saham kawasan Asia. Data ini diambil dari hasil perdagangan sesi I pada Rabu (4/3),
Pengamat Pasar Modal, Hendra Wardana menilai penurunan tajam IHSG yang sempat menembus 7.500 dan kini bergerak di bawah 8.000 merupakan refleksi dari akumulasi tekanan global dan domestik yang datang bersamaan.
"Dari sisi eksternal, eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global," kata Hendra dalam keterangannya, Rabu (4/3).
Harga minyak brent yang sudah menembus USD 80 per barel menjadi alarm bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia.
Sebagai net oil importer, setiap kenaikan harga minyak bukan hanya berdampak pada inflasi, tetapi juga berpotensi memperlebar beban subsidi dan tekanan terhadap APBN. Ketika pasar melihat risiko fiskal meningkat, sentimen menjadi cepat berubah ke arah defensif.
Menurutnya, tekanan tersebut semakin bertambah setelah lembaga pemeringkat global Fitch Ratings menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, meskipun peringkat kredit tetap di level investment grade BBB.
"Perubahan outlook ini memang bukan penurunan rating, namun pasar membaca langkah tersebut sebagai sinyal meningkatnya risiko ke depan, terutama terkait ketahanan fiskal dan stabilitas kebijakan," ujarnya.
Sentimen Kenaikan Harga Energi
Dalam kondisi global yang sudah diliputi ketegangan geopolitik dan kenaikan harga energi, perubahan outlook ini menjadi sentimen tambahan yang mempercepat aksi jual, khususnya dari investor asing yang sensitif terhadap risiko makro.
"Dengan demikian, koreksi IHSG bukan hanya soal perang atau harga minyak semata. Ada faktor teknikal berupa aksi ambil untung setelah reli panjang sejak awal tahun, pelemahan Rupiah akibat capital outflow jangka pendek, serta kekhawatiran bahwa lonjakan inflasi energi dapat membatasi ruang pelonggaran suku bunga," ujarnya.
Kombinasi sentimen eksternal dan domestik inilah yang membuat tekanan pasar terasa lebih dalam dan berlangsung cepat dalam waktu singkat.
Proyeksi Maret
Hendra memprediksi ke depan hingga akhir Maret, arah IHSG akan sangat ditentukan oleh dua variabel utama yakni harga minyak dan stabilitas rupiah. Selama brent bertahan di bawah USD90 per barel, tekanan kemungkinan masih sebatas volatilitas jangka pendek.
Namun jika harga minyak mendekati USD100 dan disertai gangguan distribusi fisik di Selat Hormuz, pasar bisa memasuki fase risk off yang lebih dalam. Secara teknikal, area 7.500–7.600 menjadi zona penopang psikologis penting. Jika ketegangan mereda dan rupiah stabil, IHSG berpeluang rebound bertahap ke kisaran 7.900–8.100 pada akhir Maret.
"Sebaliknya, jika eskalasi konflik meluas dan tekanan fiskal meningkat, indeks masih berisiko menguji kembali area 7.400. Fase ini lebih tepat disebut sebagai periode konsolidasi dengan volatilitas tinggi, bukan perubahan tren jangka panjang, selama fundamental ekonomi domestik tetap terjaga," pungkasnya.