Minta Penjelasan Sekolah, Nomor WhatsApp Ayah Siswa SMP Korban Bullying di Semarang Malah Diblokir Kepsek

Upaya komunikasi itu tidak mendapat respons seperti yang diharapkan.

Danny Adriadhi Utama
Oleh Danny Adriadhi Utama - Reporter
Minta Penjelasan Sekolah, Nomor WhatsApp Ayah Siswa SMP Korban Bullying di Semarang Malah Diblokir Kepsek
Minta Penjelasan Sekolah, Nomor WhatsApp Ayah Siswa SMP Korban Bullying di Semarang Malah Diblokir Kepsek (Merdeka.com)

Orang tua korban Bulying dan kekerasan fisik, Ristia mendengar pengakuan dari putranya, keluarga langsung berupaya meminta klarifikasi kepada pihak sekolah. Namun, ia mengaku tidak memperoleh informasi maupun penjelasan terkait dugaan kejadian tersebut.

Upaya komunikasi itu tidak mendapat respons seperti yang diharapkan. Bahkan, nomor WhatsApp suaminya disebut telah diblokir oleh kepala sekolah.

"Setelah itu suami saya menghubungi kepala sekolah untuk mengadukan kondisi anak saya. Tidak lama kemudian, suami saya diblokir oleh kepala sekolah sehingga tidak bisa berkomunikasi. Dengan wali kelas juga tidak langsung dipanggil. Bagaimana kondisi anak saya? Apakah sudah diobati atau bagaimana? Respons dari sekolah tidak ada,” kata Ristia.

Kronologi Bullying Terbongkar

Dugaan perundungan tersebut disebut terjadi di toilet SMP Nasima yang berada di Jalan Tri Lomba Juang, Kelurahan Mugassari, Kecamatan Semarang Selatan.

Dalam kasus ini, terdapat tiga siswa yang diduga terlibat. Dua siswa disebut melakukan pemukulan terhadap KA, sementara satu siswa lainnya diduga berperan mengawasi situasi serta membawa barang bawaan milik korban.

Ristia mengaku pertama kali mengetahui dugaan bullying dan kekerasan fisik yang dialami putranya saat masa libur Lebaran, tepatnya pada 30 Maret 2026. Saat pulang sekolah, KA terlihat mengalami lebam pada bagian kepala dan hidung hingga tampak membiru.

Ketika ditanya mengenai luka tersebut, KA awalnya mengaku hanya terbentur pintu sekolah. Sebagai orang tua, Ristia sempat menganggap kejadian itu sebagai hal biasa.

Namun, dua hari kemudian kondisi KA disebut semakin memburuk. Memasuki hari keempat, KA mengeluhkan tubuhnya tidak enak badan hingga meminta izin untuk tidak masuk sekolah.

Merasa ada kejanggalan, Ristia kembali menanyakan kondisi putranya. Saat itulah KA akhirnya bercerita bahwa dirinya diduga menjadi korban pemukulan oleh kakak kelasnya.

“Setelah itu saya tanya lagi dan akhirnya dia cerita. Dia bilang kalau dia dipukuli sama kakak kelasnya. Saya kaget, syok, kenapa baru sekarang diceritakan,” jelasnya.

Waktu Bullying

Menurut Ristia, peristiwa tersebut terjadi saat jam istirahat sekolah. Saat itu, KA awalnya diajak oleh salah satu kakak kelas menuju toilet lantai atas. Tanpa merasa curiga, korban kemudian mengikuti ajakan tersebut hingga akhirnya dua siswa lain disebut ikut terlibat.

Terkait dugaan pemicu kejadian, Ristia menyebut sebelumnya tidak ada masalah antara putranya dengan para siswa yang diduga terlibat. Ia menduga peristiwa tersebut bermula dari kesalahpahaman yang melibatkan salah satu kakak kelas KA.

Ristia menjelaskan, terdapat cerita yang diduga disampaikan kepada siswa lain hingga memicu kemarahan terhadap korban. Situasi tersebut kemudian berkembang hingga melibatkan tiga siswa yang disebut sebagai pihak yang diduga melakukan perundungan terhadap KA.

“Itu sebenarnya tidak ada masalah. Jadi dia sama kakak kelasnya juga satu orang. Kakak kelasnya ini yang diduga melakukan bullying ke anak saya. Jadi ini seperti kesalahpahaman. Ada cerita yang disampaikan kepada siswa lain hingga membuat marah kepada H. Harapannya mungkin agar A marah kepada H. Tapi ternyata A justru menyampaikan hal itu kepada pacarnya. Nah, tiga orang inilah yang disebut sebagai kelompok yang terlibat,” katanya.

Ristia juga mengungkapkan bahwa setelah kejadian tersebut, putranya sempat mengalami tekanan hingga enggan berangkat ke sekolah.

Bahkan, menurut pengakuan KA, dugaan intimidasi disebut masih berlanjut. Korban mengaku sempat diikuti oleh terduga pelaku bersama beberapa temannya hingga ke area perpustakaan sekolah.

KA juga disebut beberapa kali diajak kembali untuk berkelahi. Namun, saat itu ia memilih menghindar dan mencari tempat yang lebih ramai bersama teman-temannya.

“Dia merasa sekolah bukan lagi tempat yang nyaman. Dia takut dan tertekan,” kata Ristia.

Menurut Ristia, dugaan kekerasan tersebut dilakukan oleh tiga siswa. Dua orang diduga terlibat melakukan pemukulan, sedangkan satu siswa lainnya disebut memegang barang milik korban seperti kacamata dan kotak bekal makanan.

Peristiwa itu disebut terjadi saat jam istirahat. Awalnya KA diajak oleh salah satu siswa menuju toilet lantai atas. Karena mengira hanya diajak berbicara, korban kemudian mengikuti ajakan tersebut.

Namun sesampainya di lokasi, dua siswa lainnya disebut datang hingga dugaan pemukulan terjadi.

“Saat itu kejadian waktu istirahat. Dia diajak satu orang ke toilet atas. Dia pikir hanya satu orang, lalu dua lainnya menyusul. Yang satu memegang kacamata anak saya dan kotak bekal nasi,” jelasnya.

Rekomendasi