Terdampak Konflik Timur Tengah, IHSG Anjlok Nyaris 17 Persen
Tingginya volatilitas tidak lepas dari tekanan eksternal, terutama eskalasi konflik geopolitik serta dinamika kondisi ekonomi global dan domestik.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengakui bahwa pasar saham Indonesia mengalami tekanan signifikan sejak memanasnya konflik geopolitik di kawasan Teluk yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS).
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi mengungkapkan, hingga 1 April 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di posisi 7.184,44 atau turun sebesar 16,91 persen sejak awal tahun (year to date).
"Kita melihat bahwa pasar modal kita mengalami pergerakan yang cukup dinamis dan dengan tingkat volatilitas yang juga tercatat cukup tinggi. Ini tentu terkait juga dan seiring dengan tekanan geopolitik dan kondisi domestik dan global yang memang masih terus mengalami eskalasi," kata Hasan Fawzi dalam Konferensi Pers di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (2/4).
Menurut Hasan, pergerakan pasar saat ini menunjukkan fluktuasi yang cukup tajam. Tingginya volatilitas tidak lepas dari tekanan eksternal, terutama eskalasi konflik geopolitik serta dinamika kondisi ekonomi global dan domestik yang belum stabil.
Gejolak Tak Hanya Dialami Indonesia
Ia juga menekankan bahwa gejolak ini tak hanya dialami oleh Indonesia. Sejumlah bursa saham di kawasan regional maupun global turut menghadapi tekanan serupa akibat faktor eksternal yang mendominasi pergerakan pasar.
"Kami sampaikan bahwa kondisi ini tidak hanya dialami oleh pasar modal kita atau bursa kita, tapi juga dialami oleh hampir seluruh bursa-bursa di regional dan global. Tentu ini juga menunjukkan dan mencerminkan dinamika eksternal dibanding apa yang merupakan respons atas kondisi fundamental di domestik semata," ujarnya.
Dampak dari pelemahan IHSG juga terlihat pada nilai kapitalisasi pasar. Data OJK menunjukkan kapitalisasi pasar saham Indonesia menyusut sekitar 20,18 persen, dari sebelumnya Rp15.849 triliun menjadi Rp12.650 triliun.
Transaksi Harian Pasar Saham Maret 2026 Capai Rp20,66 Triliun
Kendati demikian, OJK mencatat rata-rata nilai transaksi harian saham selama Maret 2026 mencapai Rp20,66 triliun, mencerminkan minat investor yang masih tinggi. Kondisi ini terjadi di saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi cukup dalam.
"Aktivitas transaksi saham misalnya tercatat masih terus menunjukkan angka yang solid dan tinggi dengan rata-rata nilai transaksi harian itu sudah ada di angka Rp 20,66 triliun selama bulan Maret 2026," ujarnya.
Adapun OJK mencatat per 1 April 2026, IHSG berada di level 7.184,44 atau turun 16,91 persen secara year to date (YtD), seiring dengan tekanan eksternal yang berasal dari dinamika geopolitik dan kondisi ekonomi global.